Anggaran BGN yang Mengundang Pertanyaan
Dalam anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2025, terdapat beberapa pos belanja yang menarik perhatian publik. Salah satu yang paling mencolok adalah pengadaan kendaraan dengan nilai mencapai Rp1,39 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,2 triliun dialokasikan untuk pengadaan sepeda motor listrik melalui sistem e-Katalog 6.0 oleh perusahaan Yasa Artha Trimanunggal.
Perusahaan ini menyediakan produk dari merek Emmo Mobility, seperti dua tipe JVH Max dan JVH GT dengan harga masing-masing Rp49,95 juta dan Rp48,84 juta per unit. Pengadaan ini dilengkapi dengan layanan distribusi ke berbagai wilayah. Namun, besarnya angka ini langsung memantik perhatian, mengingat kendaraan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai penunjang operasional, bukan inti dari program itu sendiri.
Selain kendaraan, belanja perangkat teknologi juga menjadi sorotan. Di bawah belanja kendaraan, alokasi besar berikutnya mengalir ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan nilai Rp1,26 triliun. Belanja perangkat keras dan komputer menyedot dana hingga Rp830,1 miliar, termasuk pengadaan tablet yang mencapai Rp508,4 miliar. Salah satu perangkat yang disebut adalah Samsung Galaxy Tab Active5.
Dengan Rp508,4 miliar, BGN bisa membeli 28.359 tablet Samsung Galaxy Tab Active 5 untuk Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia. Harga e-katalog untuk perangkat tersebut tercatat sekitar Rp17,93 juta per unit, sementara harga pasar berada di kisaran Rp9 juta hingga Rp12 juta. Artinya, ada potensi kemahalan tablet yang dibeli melalui e-katalog nyaris 100 persen.
Selisih harga ini pun memicu sorotan tajam terkait efisiensi dan transparansi dalam proses pengadaan.
Pengeluaran untuk Pakaian dan Aksesoris
Tak kalah mencengangkan, anggaran untuk pakaian juga mencapai Rp623,3 miliar. Pos ini mencakup berbagai kebutuhan seperti seragam, sepatu, hingga aksesoris. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah belanja kaos kaki yang mencapai Rp6,9 miliar. Pengadaan ini dilakukan melalui PT Gajah Mitra Paragon, dengan nilai sekitar Rp3,4 miliar untuk berbagai jenis kaos kaki.
Harga satuannya bervariasi antara Rp34.999 hingga Rp100.000 per pasang. Untuk kebutuhan kaos kaki lapangan saja, anggaran yang digelontorkan mencapai Rp1,7 miliar atau setara dengan sekitar 17.000 pasang. Angka ini dinilai cukup tinggi, mengingat di pasaran nominal tersebut sudah dapat menjangkau produk dengan merek tertentu.
Pelatihan dan Sosialisasi
Selain pengadaan barang fisik, anggaran untuk pelatihan dan sosialisasi juga terbilang besar, yakni Rp464,6 miliar. Pos ini mencerminkan upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam menjalankan program di lapangan.
Ironi: Makanan Justru Paling Kecil
Di tengah deretan angka fantastis tersebut, fakta yang paling menyentak adalah posisi anggaran untuk makanan yang justru menjadi inti dari program MBG. Nilainya hanya Rp242,8 miliar, menjadikannya sebagai pos dengan alokasi paling kecil.
Kontras ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah prioritas anggaran sudah benar-benar selaras dengan tujuan utama program? Komposisi anggaran ini membuka ruang diskusi yang lebih luas. Di satu sisi, kebutuhan operasional seperti kendaraan, perangkat teknologi, dan perlengkapan memang penting untuk memastikan program berjalan. Namun di sisi lain, publik mempertanyakan apakah proporsi tersebut sudah ideal terutama ketika kebutuhan utama, yakni penyediaan makanan bergizi, justru mendapat porsi paling kecil.
Polemik ini menjadi pengingat bahwa dalam program berskala besar, bukan hanya besaran anggaran yang menjadi sorotan, tetapi juga arah dan dampaknya: apakah benar-benar menyentuh inti persoalan, atau justru terseret oleh kebutuhan penunjang yang membesar.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











