My WordPress Blog
Bisnis  

Pertumbuhan Industri Herbal 8,35%, Produk Tiruan dan Edukasi Konsumen Jadi Tantangan



Industri herbal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat dan pencegahan penyakit. Namun, di balik tren positif tersebut, industri masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu segera diatasi.

Salah satu isu utama adalah maraknya produk tiruan yang beredar di pasar. Produk-produk ini sering kali tidak memiliki kualitas bahan baku yang memadai serta proses produksi yang tidak sesuai standar. Kondisi ini dapat membahayakan kesehatan konsumen dan merusak kepercayaan publik terhadap seluruh industri herbal.

Data survei menunjukkan bahwa penggunaan obat tradisional masih sangat tinggi. Di DKI Jakarta, misalnya, sebanyak 70,82% rumah tangga menggunakan obat tradisional dalam tiga bulan terakhir. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 8,35% pada 2025. Meski demikian, pelaku industri menyatakan bahwa pertumbuhan ini belum diiringi dengan penguatan ekosistem yang lebih kuat.

Fazli Hasniel Sugiharto atau Arniel Sugiharto, seorang pelaku industri herbal sekaligus pemilik merek Kutus Kutus, menyampaikan bahwa produk tiruan kini mudah ditemukan, terutama di platform e-commerce. Harga produk tiruan biasanya jauh lebih murah dibanding produk asli. Ia menilai bahwa produk herbal sangat bergantung pada kualitas bahan baku dan konsistensi proses produksi. Jika produk tiruan beredar tanpa standar yang jelas, risiko bagi konsumen akan meningkat, dan kepercayaan publik terhadap industri herbal bisa terganggu.

Selain itu, rendahnya literasi konsumen juga menjadi hambatan dalam perkembangan industri ini. Banyak konsumen masih memilih produk berdasarkan harga murah dan klaim hasil instan, tanpa memperhatikan aspek penting seperti asal bahan, jalur distribusi, maupun sertifikasi BPOM. Arniel menyebutkan bahwa banyak masyarakat masih menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai dalam waktu singkat, produk herbal justru disalahkan.

Kondisi ini menciptakan paradoks: pasar herbal terus tumbuh, tetapi ekspektasi konsumen belum sejalan dengan karakter produk herbal yang bersifat pendukung dan membutuhkan penggunaan jangka panjang. Di pasar global, industri herbal bernilai ratusan miliar dolar AS dengan pertumbuhan yang kuat. Kawasan Asia-Pasifik, seperti China dan India, mendominasi pasar ini dengan skala produksi, riset, serta penetrasi pasar internasional yang lebih besar.

Sementara itu, Indonesia masih berada dalam tahap pengembangan dengan skala pasar domestik yang relatif lebih kecil. Meskipun begitu, Indonesia memiliki keunggulan berupa kekayaan biodiversitas dan tradisi jamu yang kaya akan nilai-nilai budaya.

Untuk menghadapi tantangan ini, Arniel menilai kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat daya saing. Upaya peningkatan literasi konsumen, pengawasan yang lebih ketat, serta transparansi dari produsen diharapkan dapat menekan peredaran produk tiruan.

Dengan langkah-langkah tersebut, industri herbal nasional tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga semakin dipercaya dan mampu bersaing di tingkat regional maupun global.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *