Festival Balon Udara Menarik Wisatawan di Wonosobo
Balon udara kini menjadi daya tarik wisata baru di Wonosobo yang semakin diminati masyarakat, terutama saat momentum Lebaran. Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat menyebut bahwa Minggu (29/3/2026) menjadi puncak rangkaian Festival Mudik Balon Udara dan sukses menarik animo masyarakat.
Festival ini telah berlangsung sejak 22 Maret 2026 dengan total 23 event balon yang tersebar di berbagai kecamatan di Wonosobo. Menurut Fahmi, balon udara kini melengkapi daya tarik wisata selain kawasan populer seperti Dieng dan Telaga Menjer. “Sekarang daya tariknya adalah balon, tidak hanya Dieng ataupun Menjer,” ujarnya.
Peningkatan jumlah event menjadi indikator tingginya minat masyarakat terhadap festival ini. Tahun lalu, ada 16 lokasi, sedangkan tahun ini meningkat menjadi 23 lokasi. Dia juga menyoroti bertambahnya komunitas balon baru sebagai perkembangan positif. “Bertambahnya animo ini komunitas balon juga. Bertambahnya komunitas baru ini juga sesuatu yang positif,” katanya.
Namun dia mengakui belum semua kecamatan dapat menyelenggarakan festival serupa. “Baru sembilan kecamatan,” tambahnya. Disparbud mencatat adanya tren wisatawan yang memanfaatkan libur Lebaran untuk berkunjung ke Wonosobo. “Ada tren wisatawan ke Wonosobo itu memanfaatkan momentum hari raya untuk staycation,” ujarnya.
Wisatawan bahkan menyusun jadwal khusus untuk mengikuti rangkaian acara festival. “Kami dapat laporan dari beberapa homestay dan hotel, ada tren seperti itu,” katanya. Menurutnya, fenomena ini turut meningkatkan lama tinggal wisatawan di Wonosobo. “Length of stay (lama tinggal wisatawan) mereka berarti bertambah banyak di Wonosobo,” ujar Fahmi.
Dampaknya diharapkan mampu mendorong sektor perhotelan dan penginapan lokal. Terkait perputaran ekonomi, pihak Disparbud masih melakukan pendataan lebih lanjut. Peningkatan jumlah kunjungan dinilai sebagai sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Tidak hanya terlihat dari data Disparbud, geliat festival juga dirasakan langsung oleh peserta dan pelaku usaha dengan adanya festival balon.
Persiapan Tiga Bulan
Salah satu peserta, Nanang dari Komunitas Balon Lamuk Kalikajar mengungkapkan, proses panjang di balik pembuatan balon yang ditampilkan. “Balon kami masukan gambar gedung IKN terus gapura yang ada di Pendopo Bupati terus penari dari Wonosobo,” ujarnya. Dia menyebut pembuatan balon tersebut memakan waktu cukup lama. “Pembuatan sekira tiga bulan lamanya, melibatkan 10-15 orang,” katanya.
Pada hari pelaksanaan, timnya sudah melakukan persiapan sejak dini hari. “Persiapan datang dari rumah pukul 03.00, mulai persiapan pukul 05.00. Pengasapan satu jam lebih,” ucapnya. Meski sudah sering mengikuti festival di tingkat desa, tampil di puncak Festival Mudik menjadi kebanggaan tersendiri bagi timnya yang sekaligus menampilkan hasil kreativitas anak muda. “Untuk kebanggaan pasti tim kami bisa mewakili desa kami di festival mudik,” katanya.
Selain peserta, pedagang juga merasakan dampak positif dari ramainya festival. Ardi, pedagang nasi megana asal Watumalang, mengaku penjualannya meningkat signifikan dibanding hari biasa. “Saya datang pukul 03.30 untuk bisa berjualan di sini,” ujarnya. Ia menyebut perbedaan penjualan sangat terasa saat event berlangsung. “Selisihnya 70 persen lebih laris di event ini dari pada biasanya,” katanya.
Menurutnya, ia rutin mengikuti acara balon setiap tahun dan selalu mendapatkan hasil yang lebih baik. “Sudah sering ikut setiap tahun di acara balon dan selalu laris,” ucapnya. Ia berharap festival ke depan semakin ramai agar bisa terus mendorong perekonomian masyarakat. “Penginnya lebih ramai dan banyak pembeli lagi, semakin meningkatkan perekonomian lokal,” katanya.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











