Perkembangan Kinerja dan Strategi EXCL di Tengah Ekspansi Jaringan 5G
PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menghadapi tantangan dalam kinerja keuangan pada tahun 2025, meskipun perusahaan memiliki rencana ekspansi jaringan 5G yang berpotensi menjadi katalis pendorong kinerja di tahun 2026. Dalam risetnya, Gani, Equity Analyst OCBC Sekuritas menyebutkan bahwa EXCL telah meningkatkan peluncuran komersial layanan 5G di 33 kota dengan kecepatan utama hingga 500 Mbps. Jaringan saat ini menggunakan kerangka kerja Non-Standalone (NSA) pada spektrum 2300 MHz, yang membantu membatasi risiko eksekusi sementara ekosistemnya matang.
Manajemen EXCL memperkirakan penetrasi perangkat berkemampuan 5G sekitar 20% di kota-kota peluncuran, dengan peningkatan yang diharapkan melalui siklus penggantian normal. “Dengan spektrum yang tersedia dan semakin banyaknya pilihan handset 5G yang terjangkau (Rp 1 juta – Rp 2 juta), EXCL berada pada posisi yang baik untuk mempercepat adopsi dan monetisasi 5G,” ujar Gani dalam risetnya pada 6 Maret 2026.
Etta Rusdiana Putra, Analis Maybank Sekuritas menilai paket Ultra 5G yang ditawarkan lebih cepat dan lebih terjangkau dibanding layanan 4G atau fixed broadband (FBB) saat ini. Keunggulan jaringan EXCL didukung oleh kapasitas spektrum, bandwidth backbone Axiata-Sinar Mas, serta efisiensi integrasi jaringan, menjadikannya kompetitif di pasar yang kini fokus pada kualitas jaringan. “Transformasi jaringan 5G yang terus berjalan diharapkan mendukung pertumbuhan trafik data dan pendapatan ke depan,” ucap Etta saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2026).
Aditya Prayoga, Analis Phintraco Sekuritas menyampaikan bahwa manajemen EXCL telah memberikan panduan untuk tahun 2026 dengan pertumbuhan pendapatan yang diharapkan sejalan dengan industri. Sementara EBITDA ditargetkan tumbuh sekitar dua kali lipat dari pertumbuhan pendapatan, yang mencerminkan fokus pada ekspansi berkualitas tinggi dan leverage operasional pasca-integrasi. Belanja modal yang disiapkan diproyeksi mencapai sekitar Rp 15 triliun untuk mendukung penguatan jaringan dan peningkatan kualitas layanan. Selain itu, potensi sinergi merger diperkirakan sebesar US$ 250 – US$ 300 juta, terutama berasal dari konsolidasi jaringan dan efisiensi biaya sewa menara.
Meskipun demikian, manajemen juga menyoroti bahwa proses integrasi yang sedang berlangsung dapat terus membebani kinerja jangka pendek, dengan biaya terkait integrasi diperkirakan sekitar Rp 1 triliun untuk tahun 2026. Gani menilai integrasi berjalan lebih cepat dari rencana, dengan 70% situs telah dikonsolidasikan pada kuartal IV – 2025 (sekitar 34.500 situs terintegrasi), dan manajemen mempertahankan integrasi penuh pada jadwal semester I – 2026.
Dari perspektif industri, Aditya melihat prospek tetap relatif positif di tengah pergeseran fokus yang lebih terukur di antara para pemain menuju profitabilitas berkelanjutan. Namun, biaya integrasi, yang diperkirakan akan berlanjut sepanjang 2026, tetap menjadi hambatan utama yang membatasi percepatan pendapatan jangka pendek. Risiko utama meliputi biaya integrasi yang lebih rendah dari perkiraan, struktur industri yang lebih rasional, dan monetisasi pelanggan yang lebih kuat, khususnya Rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) yang melebihi proyeksi.
Gani mencatat ARPU meningkat dari Rp 38.900 pada kuartal III – 2025 menjadi Rp 44.800 pada kuartal IV – 2025, menandai peningkatan yang solid karena komposisi pengguna bergeser ke segmen dengan pengeluaran lebih tinggi. Tren serupa terlihat pada hasil data, yang naik dari Rp 2,64/MB menjadi Rp 2,71/MB selama periode yang sama, menunjukkan peningkatan monetisasi per unit lalu lintas. “Perusahaan mengharapkan lingkungan pasar yang lebih rasional akan semakin mendukung ARPU dan keberlanjutan hasil di masa mendatang,” kata Gani.
Di satu sisi, Etta memandang kesepakatan perdagangan Indonesia – Amerika Serikat (AS) sebagai tantangan bagi Indonesia untuk menerapkan jaringan 5G/6G dari Tiongkok. Menurut bagian 5.2 Agreement on Reciprocal Trade (ART), Indonesia perlu berkonsultasi dengan AS mengenai pemasok mana yang memenuhi standar. Saat ini, operator seluler Indonesia menggunakan jaringan hibrida, menggabungkan teknologi Tiongkok dan Barat. “Sementara itu, EXCL berkomitmen untuk menggunakan ZTE dan Huawei sebagai vendor jaringan tunggal,” terang Etta.
Gani memproyeksikan pendapatan EXCL tahun 2026 mencapai Rp 46,46 triliun. Namun EXCL diperkirakan masih mengalami rugi sebesar Rp 2,14 triliun. Adapun pada tahun 2025, EXCL mengantongi pendapatan Rp 42,44 triliun dan mengalami rugi Rp 4,42 triliun. Gani dan Etta merekomendasikan Buy saham EXCL dengan target harga masing-masing Rp 3.300 per saham dan Rp 4.100 per saham. Sementara Aditya merekomendasikan Hold saham EXCL dengan target harga Rp 3.100 per saham.











