My WordPress Blog
Bisnis  

Josef Putra Wongso, Kuatkan Layanan Personal untuk Pertahankan Eksistensi Wong Hang Tailor

Sejarah dan Perkembangan Wong Hang Tailor

Wong Hang Tailor adalah sebuah merek yang sudah dikenal sejak lama di Surabaya. Berdiri sejak tahun 1933, bisnis ini telah berkembang menjadi 18 cabang nasional dengan fokus pada jas dan batik formal pria. Meskipun berusia ratusan tahun, perusahaan ini tetap mampu bertahan dalam industri fashion yang sangat dinamis.

Generasi Keempat yang Membawa Semangat Baru

Salah satu penerus dari Wong Hang Tailor adalah Josef Putra Wongso. Ia membawa semangat baru tanpa meninggalkan pakem warisan keluarga. Fokus utama dari perusahaan ini tetap pada jas dan batik formal pria dengan pendekatan personal serta detail craftsmanship yang presisi. Dengan pendekatan ini, Wong Hang Tailor berhasil mempertahankan kualitas yang tinggi dan kepercayaan dari pelanggan.

Ciri Khas yang Membedakan

Menurut Josef, salah satu rahasia di balik eksistensi Wong Hang Tailor adalah memiliki ciri khas yang membedakan jas buatan mereka dengan yang lainnya. “Kami berfokus pada busana formal pria, khususnya jas dan batik dengan pendekatan personal, memperhatikan craftsmanship dan presisinya,” ujarnya.

Merambah Berbagai Kota Besar

Bisnis yang lahir di Surabaya ini kini merambah berbagai kota besar. Josef mengembangkan tiga cabang yang berada di Semarang, Bandung, dan Jakarta. Secara nasional, Wong Hang Tailor memiliki total 18 cabang. Di generasi keempat terdapat enam anggota keluarga yang masing-masing memegang tiga cabang.

Penguatan Kualitas dan Integrasi Layanan

Meski ekspansi terus berjalan, fokus utama saat ini adalah penguatan kualitas dan integrasi layanan di setiap butik. “Fokus kami sekarang memperkuat kualitas dan pelayanan di butik-butik. Integrasinya harus diperdalam karena semuanya harus di-handle langsung oleh desainer, tidak bisa di-handle orang lain,” jelasnya.

Passion Tailoring Tumbuh Sejak Kecil

Josef mengaku passion di dunia tailoring tumbuh sejak kecil. Ia terbiasa bermain dengan kain sisa dan mengamati proses pembuatan pola busana yang dikerjakan orang tuanya. “Dulu ada kain-kain sisa dari orang tua saya. Saya corat-coret pakai kapur, makin besar mulai belajar gunting kain supaya tahu feel-nya,” ungkapnya.

Kemampuannya terus diasah hingga akhirnya ia belajar mengukur badan, membuat pola, dan mengambil kursus tailoring di Hong Kong untuk mengikuti perkembangan tren fashion modern.

Selera Generasi Saat Ini

Menurutnya, selera generasi kini berbeda dengan generasi sebelumnya. “Generasi muda sekarang lebih suka potongan slim fit, kain yang lebih ringan, dan nyaman dipakai sehari-hari,” katanya.

Sebagai desainer sekaligus penerus bisnis keluarga, Josef mengaku terlibat langsung dari awal hingga akhir proses pembuatan busana. Mulai dari pengukuran badan, pemilihan dan edukasi bahan kepada pelanggan, pembuatan pola (patron), fitting, hingga finishing dan quality control, semuanya ia tangani sendiri.

Fokus Utama untuk Pernikahan

Untuk pasar di Jawa Timur maupun nasional, Wong Hang Tailor menyasar berbagai segmen. Namun, kebutuhan busana pernikahan menjadi market terbesar. Dengan pengalaman sejak 1933 dan strategi adaptif mengikuti tren generasi muda, Wong Hang Tailor membuktikan eksistensinya sebagai salah satu tailor legendaris Surabaya yang tetap relevan di era modern.

“Fokus utama di seluruh Indonesia pasti untuk pernikahan. Kedua pejabat, lalu artis-artis. Tapi yang paling dominan tetap pernikahan,” pungkasnya.


Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *