My WordPress Blog
Bisnis  

Keluhan Warga, BGN Tuntut SPPG Miliki Akun Medsos dan Transparansi Menu Harga

Inisiatif Baru BGN untuk Meningkatkan Transparansi dan Kualitas Program MBG

Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah penting dalam meningkatkan transparansi dan kualitas Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan keluhan masyarakat terkait menu yang kurang variatif dan dinilai tidak sesuai dengan nilai yang diberikan, BGN memerintahkan seluruh SPPG (Sekolah Pengelola Pangan Gizi) untuk membuat akun media sosial. Setiap SPPG wajib memiliki akun Facebook, Instagram, dan TikTok.

Media Sosial sebagai Sarana Transparansi

Dalam rapat konsolidasi MBG bersama pemerintah provinsi Sumsel, Yayasan, dan mitra se-Sumsel di Hotel Aryaduta Palembang, Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Pol. Sony Sonjaya menjelaskan bahwa media sosial ini berfungsi sebagai sarana transparansi dan pelaporan harian kepada masyarakat. Setiap hari, menu yang disajikan di SPPG harus dilaporkan secara detail, termasuk jenis makanan, kandungan gizinya, dan harga bahan pokoknya.

Mulai pekan depan, masyarakat akan dapat memantau unggahan dari masing-masing SPPG. Jika ditemukan kejanggalan harga bahan pangan, masyarakat dipersilakan untuk mempertanyakan hal tersebut langsung ke SPPG. Contohnya, jika harga pisang ditulis Rp 2.500 padahal hanya Rp 1.500, masyarakat boleh menanyakan perbedaan tersebut.

Pentingnya Transparansi dalam Program MBG

Transparansi ini bertujuan agar program MBG berjalan secara akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan. Sony juga menekankan pentingnya penyamaan persepsi dan pemahaman seluruh pelaksana program MBG di Sumsel. Dengan berkumpulnya seluruh unsur pelaksana, diharapkan tercipta kesamaan misi dan langkah agar program MBG berjalan optimal serta tepat sasaran dalam meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat.

Kesiapan Rantai Pasok di Sumatera Selatan

Sony juga mengapresiasi kesiapan rantai pasok bahan pokok di Provinsi Sumatera Selatan, khususnya di Palembang. Berdasarkan evaluasi hingga akhir pekan lalu, pasokan kebutuhan bahan pangan untuk SPPG dinilai sudah siap. Ini menjadi salah satu keunggulan Sumsel dibandingkan daerah lain yang masih menghadapi tantangan.

Pelaksanaan Program MBG Selama Ramadan

Terkait pelaksanaan program MBG selama Ramadan, BGN menegaskan bahwa bulan puasa tidak menjadi alasan untuk menghentikan pemberian asupan bergizi. Untuk sekolah reguler, makanan tetap dibagikan dalam bentuk menu kering yang bisa dibawa pulang. Pembagian dilakukan setiap hari, bukan sekaligus untuk beberapa hari ke depan.

Untuk pondok pesantren atau boarding school yang siswanya tinggal di asrama, SPPG tetap memasak seperti biasa pada siang hari dan membagikan makanan menjelang waktu berbuka. BGN juga terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG. Dengan jumlah SPPG yang kini telah mencapai 24.000 unit secara nasional, diakui bahwa pelaksanaan di lapangan belum sepenuhnya seragam.

Inovasi Menu untuk Menyempurnakan Program MBG

Maka pentingnya inovasi dari para ahli gizi dan pengelola SPPG dalam menyusun menu. Jika masih terdapat keluhan mengenai kurangnya variasi atau nilai gizi yang dianggap belum memadai, maka hal tersebut menjadi bahan evaluasi internal. Sony menyampaikan bahwa menu harus variatif. Bahkan ada SPPG yang meminta masukan dari siswa, besok menunya mau apa boleh saja. Itu bagus sebagai bentuk partisipasi.

Keberhasilan Sumsel dalam Implementasi MBG

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru menyebut Sumsel menjadi salah satu provinsi yang minim komentar negatif terkait implementasi program MBG. “Keberhasilan ini tidak terlepas dari kesiapan daerah dalam menjaga ketersediaan bahan pangan,” katanya. Seluruh kebutuhan bahan untuk MBG tersedia di Sumsel tanpa harus mengandalkan impor dari luar daerah maupun luar negeri.

Sejak November 2021, Pemprov Sumsel telah mencanangkan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Masyarakat diberikan bibit ayam, ikan, dan komoditas lainnya. Selain itu, masyarakat menanam kebutuhan sehari-hari seperti cabai, bawang, dan komoditas pokok lainnya.

Kemandirian Pangan Sumsel

Saat MBG masuk, semua orang sibuk dan sempat khawatir harga akan naik. Ternyata Sumsel tidak, karena sudah punya kemandirian pangan. Suplai dan demand tetap terjaga. Untuk komoditas seperti telur dan ikan air tawar, Sumsel bahkan mengalami surplus produksi. Termasuk telur, kita tidak ada permasalahan malah over supply. Ikan juga banyak, terutama ikan air tawar.

Deru menyatakan dukungan penuh terhadap program MBG dan berharap keberhasilan di Sumsel dapat direplikasi di provinsi lain. Dengan penguatan transparansi, koordinasi, serta inovasi menu, BGN berharap Program MBG dapat berjalan semakin efektif dalam meningkatkan kualitas gizi peserta didik, dan dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *