JAKARTA – Teknologi robotika kini sedang memasuki fase yang mirip dengan komputer pada era 80-an: mulai masuk ke dalam rumah-rumah untuk membantu tugas-tugas sehari-hari manusia. Salah satu tokoh yang paling diuntungkan dari tren ini adalah Howard Huang, pendiri sekaligus CEO perusahaan Orbbec.
Orbbec didirikan pada tahun 2013 sebagai perusahaan yang fokus pada sensor, kamera, dan pengindraan untuk lanskap robotika. Secara sederhana, perusahaan ini menciptakan “mata” bagi para robot melalui teknologi penglihatan 3D dan kecerdasan buatan (AI).
Klien-klien Orbbec mencakup pembuat robot mobil otomatis (AMR) untuk industri dan pergudangan, serta robot layanan yang ditujukan untuk pasar konsumen. Di segmen industri, beberapa nama besar seperti Standard Robots dari Tiongkok dan Twinny dari Korea Selatan menggunakan jasa Orbbec. Sementara itu, untuk segmen robot layanan, ada robot pembersih dari Pudu Robotics dan Gausium, serta robot perawat lansia dari Robocare.
“Kami ingin robot memiliki kemampuan penglihatan yang melampaui kemampuan manusia,” ujar Huang tentang ambisinya membawa Orbbec menjadi pemimpin di bidang ini.
Latar Belakang yang Menarik
Siapa sangka, Huang berasal dari latar belakang sederhana dan tidak pernah berpikir untuk menjadi orang kaya di dunia teknologi. Namun, kini ia resmi masuk daftar Forbes Real-Time Billionaires karena Orbbec berpotensi meraup pendapatan bersih sebesar US$1,5 miliar pada tahun ini.
Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil, sedangkan ibunya adalah guru sekolah menengah yang mengajar matematika, politik, dan musik. Meskipun begitu, Huang selalu unggul dalam pelajaran fisika sejak kecil. Ia pun memutuskan meraih gelar sarjana di Universitas Peking, lalu melanjutkan studi master di Universitas Nasional Singapura, dan akhirnya meraih gelar PhD dari Universitas Kota Hong Kong. Semuanya dalam bidang teknik, dengan fokus pada sensor dan pengindraan.
Sebelum menjadi seorang wirausaha, Huang sempat menjadi peneliti di beberapa lembaga, termasuk Singapore-MIT Alliance for Research and Technology dan Universitas Politeknik Hong Kong. Ia mengaku bahwa di dunia akademis, ia hanya menerbitkan makalah penelitian, tetapi tidak bisa melihat aplikasi nyata dari hasil penelitiannya.
Inspirasi dari Film Fiksi Ilmiah
Menariknya, Huang terinspirasi untuk menjadi seorang industriawan setelah menonton film I, Robot (2004), yang dibintangi oleh Will Smith. Menurutnya, film tersebut memiliki visi masa depan yang menarik untuk diimplementasikan.
Perjalanan Orbbec dimulai dengan meminjam 10 juta yuan dari empat teman SMA-nya, lalu membangun produksi sensor penglihatan 3D di sebuah pabrik sewa di Pearl River Delta, Guangdong, Tiongkok. Awalnya, transisi dari peneliti menjadi wirausaha tidak mudah, terutama ketika menghadapi masalah arus kas. Ia pun kembali meminta bantuan kenalan-kenalannya untuk bertahan.
“Kuliah itu mudah, saya hanya perlu mengerjakan prinsip dan algoritma, jadi tinggal beli kamera dan membuat demo. Tetapi setelah menjadi perusahaan, harus menangani semuanya sendiri. Mulai dari membuat cetakan hingga desain produk. Itu benar-benar tantangan,” ujarnya.
Produk Pertama dan Perkembangan Orbbec
Mimpi Huang untuk membuat mata robot masih jauh dari kenyataan. Perangkat pertama yang dijualnya pada 2015 adalah pemindaian 3D, lalu pada 2017 disusul sensor biometrik. Dua produk ini memperkenalkan Orbbec kepada klien besar seperti Ant dan Oppo.
Waktu itu, Orbbec adalah satu-satunya perusahaan yang menawarkan sensor pengenalan wajah canggih, selain Apple yang memiliki teknologi Face ID. Saat itu, Apple tidak pernah memberikan lisensinya kepada perusahaan lain, apalagi kompetitor.
Seiring berkembangnya klien, Orbbec menarik investor besar seperti Ant, MediaTek Ventures, dan SAIF Partners. Spesialisasi mereka adalah kamera yang menangkap warna dan kedalaman untuk memindai wajah dan mengidentifikasi objek, serta sensor LIDAR untuk navigasi jarak jauh.
Kedua jenis sensor ini sangat berguna untuk ditanamkan dalam berbagai jenis robot, mulai dari robot industri, AMR, mobil tanpa pengemudi, drone, hingga robot humanoid berbasis AI.
Kinerja Keuangan dan Persaingan
Pada kuartal III/2025, Orbbec mulai meraih untung sebesar 69 juta yuan (US$9,8 juta) dari kerugian bersih tahun sebelumnya sebesar 102 juta yuan. Pendapatan pun meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 714 juta yuan.
Status Orbbec saat ini sudah menjelma menjadi pesaing terdekat dari RealSense yang berbasis di California. RealSense juga memiliki klien besar seperti Unitree Robotics, Boston Dynamics, dan Agility Robotics.
Namun, Orbbec tidak akan berhenti sebagai perusahaan pembuat sensor saja. Pada 2024, Huang resmi membuka pabrik perakitan AMR dengan kapasitas untuk merakit sekitar 100.000 robot per tahun. Pabrik robot kedua Orbbec sedang dibangun di Vietnam untuk menargetkan pasar luar negeri, seperti AS, dengan memanfaatkan tarif yang lebih rendah.
“Saya selalu optimis tentang robotika, dan dengan munculnya AI, masa depan dalam robotika kini seluas bintang dan laut,” tutupnya.











