Kondisi Tower 1 Apartemen The Sultan yang Kosong dan Usang
Tower 1 dari Apartemen The Sultan kini dalam kondisi kosong tanpa penghuni, terlihat usang akibat sengketa lahan yang berkepanjangan antara PT Indobuildco dan Pemerintah. Tingkat keterisian unit di tower ini merosot tajam hingga di bawah 10 persen, sehingga manajemen memutuskan untuk memindahkan seluruh penghuni yang tersisa ke Tower 2.
Sengketa lahan antara pemerintah dan manajemen Hotel Sultan, ditambah penutupan akses dari Jalan Gatot Subroto, mempercepat penurunan okupansi. Di tengah keramaian Senayan, suasana di dalam pilar-pilar beton The Sultan seolah sedang menahan napas. Suara denting lift terdengar lebih nyaring karena keheningan yang nyaris absolut.
Beberapa resepsionis masih sibuk melayani tamu, sekuriti berjaga, dan sesekali terlihat pengunjung duduk di lounge. Namun, semakin jauh melangkah, suasana sepi semakin nyata. Koridor panjang menghubungkan lobi dengan aula megah seperti Golden Ballroom dan Kudus Hall. Restoran Taman Sari masih berdiri anggun di sisi kiri, menyajikan aroma rempah yang menjadi ciri khas. Namun, di luar ruang-ruang acara, kehidupan seakan berhenti.
Di balik hotel, dua menara apartemen menjulang. Dari luar, keramik dindingnya tampak kusam, beberapa jendela terbuka tanpa penghuni. Saat pintu lift terbuka di lantai tertinggi yang bisa dijangkau tanpa kartu akses, pemandangan yang menyambut bukanlah kemewahan khas hunian kelas atas Jakarta. Sebaliknya, debu tebal menyelimuti lantai marmer, merekam setiap jejak sepatu dengan presisi yang mengerikan.
Di sudut lorong, sebuah papan informasi tampak bingung dengan dirinya sendiri; tombol lift menunjukkan lantai 29, namun papan di dinding bersikukuh ini adalah lantai 15. Hampir semua unit kamar di lantai tersebut dalam kondisi terkunci. Namun, dari kejauhan, tampak beberapa unit kamar di lantai lainnya ada yang terbuka. Suasana hening terasa saat wartawan mencoba menekan bel di salah satu unit. Tak satu orang pun yang terlihat beraktivitas. Tak ada suara mesin, tak ada langkah kaki di balik pintu, bahkan bel itu sendiri pun sudah mati—sebuah sakelar bisu yang tak lagi punya fungsi.
Menara yang “Tertidur”
Tower 1 Hotel Sultan kini hanyalah sebuah monumen usang. Dari kejauhan, fasad gedungnya mulai memperlihatkan tanda-telah lelah. Keramik-keramik luarnya kusam, dan melalui jendela kaca yang tak lagi bening, terlihat beberapa ruangan dengan barang-barang berserakan—seperti sebuah evakuasi yang dilakukan terburu-buru. Di bawah, sebuah kolam renang membentang dengan air yang masih tampak jernih, namun tak ada tawa anak-anak atau kecipak air. Ia hanya memantulkan bayangan dua menara yang menjulang sepi.
Anto, pegawai minimarket di belakang tower 2, mengungkapkan bahwa tower 1 sudah dikosongkan sejak 2023. Ia menatap ke arah Tower 1 dengan tatapan datar. “Sejak kasusnya memanas di 2023, penghuni mulai angkat kaki. Sebagian yang bertahan dipindahkan ke Tower 2.”
Sengketa lahan antara PT Indobuildco dan Pemerintah di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) memang bukan sekadar perang dokumen di meja hijau. Ia adalah badai yang perlahan memadamkan lampu-lampu di hunian legendaris ini.
Bertahan di Bawah Sepuluh Persen
Di lobi Tower 2, wartawan bertemu Misbakun (bukan nama sebenarnya). Pria yang telah mengabdikan 33 tahun hidupnya di sini adalah saksi hidup masa jaya hingga masa sulit The Sultan. Baginya, sepinya menara ini bukan sekadar karena isu hukum, tapi juga karena akses yang “tercekik”. Penutupan akses kendaraan dari arah Gatot Subroto membuat hotel semakin sulit dijangkau.
“Mulai sepi sejak akses ke Jalan Gatot Subroto ditutup. Sekarang cuma bisa lewat Sudirman. Orang jadi malas masuk karena aksesnya susah,” keluhnya. Keputusan manajemen mengosongkan Tower 1 adalah strategi bertahan hidup yang pragmatis. Dengan tingkat keterisian (okupansi) yang merosot hingga di bawah 10 persen, menghidupkan dua menara sekaligus adalah pemborosan yang bunuh diri.
“Kalau tetap dipaksakan di Tower 1, beban listriknya berat sekali. Jadi semua dikumpulkan di Tower 2 untuk efisiensi,” lanjut Misbakun.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Meski bayang-bayang eksekusi lahan terus menghantui melalui pemberitaan, para pekerja di sana mencoba tetap tegak. Rio, seorang petugas engineering veteran, masih berkeliling memastikan setiap sekrup dan kabel berfungsi, meski entah untuk siapa. “Tamu-tamu sering tanya, ‘Mas, gimana ini soal eksekusi?’. Saya cuma bilang aman, kita kerja ya kerja saja,” ujar Rio tenang.
Meski begitu, ia bersyukur para pegawai tetap menerima gaji penuh. “Alhamdulillah aman terus. Walaupun tamu berkurang, kita tetap kerja,” ujarnya. Baginya, The Sultan telah melampaui badai pandemi COVID-19 tanpa PHK, dan ia percaya badai hukum ini pun akan berlalu.
Kini, tower 1 berdiri seperti monumen bisu di tengah riuh sengketa lahan Hotel Sultan. Di tengah jantung Jakarta yang paling bergengsi, sebuah menara megah sedang tertidur paksa, menunggu kepastian apakah ia akan terbangun kembali atau justru runtuh menjadi kenangan.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











