My WordPress Blog
Bisnis  

Lonjakan 1000% Saham MORA dan Peluang Pasca-Merger dengan MyRepublic

Lonjakan Harga Saham MORA: Apa yang Menyebabkannya?

Harga saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) atau Moratelindo mengalami lonjakan luar biasa, mencapai lebih dari 2.423% dalam tiga bulan terakhir. Pertanyaannya adalah, apa yang menjadi pemicu kenaikan tersebut? Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang aksi korporasi yang mendorong perubahan signifikan pada harga saham MORA.

Perkembangan Harga Saham MORA

Berdasarkan data Stockbit, harga saham MORA turun sebesar 1,38% ke level Rp 10.750 pada pagi hari ini, hingga pukul 10.15 WIB. Namun, jika melihat perkembangan selama tiga bulan terakhir, harga saham MORA telah naik sebesar 2.423%. Kenaikan ini dimulai sejak Oktober 2025, di mana harga sahamnya masih berada di level Rp 432 pada akhir September 2025.

Aksi Korporasi: Penggabungan Usaha dengan MyRepublic

Dalam prospektus yang dirilis pada Kamis (18/12), diketahui bahwa Moratelindo akan melakukan penggabungan usaha atau merger dengan PT Eka Mas Republik yang dikenal dengan brand MyRepublic. MyRepublic merupakan anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang menjadi bagian dari Grup Sinarmas. Setelah merger selesai, Moratelindo akan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.

Setelah proses penggabungan selesai, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) akan menjadi pemegang saham pengendali secara tidak langsung di PT Ekamas Mora Republik Tbk. Sementara itu, Moratelindo akan tetap bertahan sebagai perusahaan, sedangkan MyRepublic Indonesia akan bergabung ke dalam entitas baru bernama PT Ekamas Mora Republik Tbk.

Manfaat dari Penggabungan Usaha

Wakil Direktur Utama Mora Telematika Indonesia, Genta Andhika, menjelaskan manfaat strategis dari penggabungan antara MORA dan MyRepublic. Gabungan ini akan menghasilkan:

  • Homepass lebih dari 9,7 juta rumah
  • Jaringan fiber optic lebih dari 116 ribu km
  • Lebih dari 1,8 juta pelanggan ritel
  • Sekitar 17 ribu pelanggan enterprise
  • Kapasitas data center 3,3 MW

Direktur PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia), Iman Syahrizal, menambahkan bahwa penggabungan ini memungkinkan perusahaan untuk menyediakan layanan yang lebih cepat dan stabil. Selain itu, perusahaan juga berencana memperluas jangkauan wilayah layanan dengan dukungan ekosistem yang saling melengkapi.

Menurut Iman, sinergi antara MORA dan MyRepublic membuka peluang pengembangan produk dan layanan baru melalui strategi bundling dan cross-selling. Pasca-merger, kedua perusahaan akan memiliki hampir 10 juta homepass dan didukung oleh kepemilikan di bisnis data center.

Profil Perusahaan Sebelum Penggabungan

Moratelindo merupakan penyedia akses jaringan (NAP) dan layanan internet (ISP) yang beroperasi sejak tahun 2000. Perusahaan ini juga salah satu pemilik jaringan tulang punggung serat optik terbesar di Indonesia. Hingga September 2025, Moratelindo memiliki lebih dari 57 ribu kilometer kabel serat optik, enam pusat data berkapasitas 3,3 megawatt, melayani 16,8 ribu pelanggan korporasi, hampir 1 juta homepass, serta lebih dari 296 ribu pelanggan ritel.

Sementara itu, MyRepublic Indonesia, anak usaha DSSA, merupakan penyedia layanan fiber to the home (FTTH) terdepan di Tanah Air. Per September 2025, MyRepublic melayani lebih dari 1,52 juta pelanggan ritel, menyediakan layanan internet hingga 1 Gbps, dengan total jaringan serat optik lebih dari 58 ribu kilometer dan 8,7 juta homepass.

Isu Backdoor Listing di Bursa Efek Indonesia

Aksi korporasi berupa penggabungan dua entitas ini mendapat perhatian investor karena dianggap sebagai langkah backdoor listing MyRepublic di Bursa Efek Indonesia (BEI). Backdoor listing adalah cara alternatif bagi perusahaan swasta untuk dapat mencatatkan dirinya di bursa efek dengan cara mengambil alih perusahaan publik dan mengubah lini bisnis tanpa proses IPO.

Namun, Wakil Direktur Utama Mora Telematika Indonesia, Genta Andhika Putra, menegaskan bahwa penggabungan ini terjadi karena perusahaan memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Moratelindo kuat di jaringan backbone dengan jangkauan luas di Indonesia, sementara MyRepublic memiliki basis FTTH yang solid. Tujuan pengembangan ini adalah menciptakan entitas yang memiliki kualitas layanan tinggi sekaligus kompetitif dari sisi harga bagi pelanggan.

Tawaran Buyback Saham

Untuk memberikan opsi kepada pemegang saham yang tidak setuju dengan penggabungan, Moratelindo menawarkan pembelian kembali saham senilai Rp 432 per saham. Nilai buyback ini ditawarkan bagi pemegang saham yang tidak menyetujui penggabungan usaha.

Harga buyback ini terbilang murah jika dibandingkan dengan harga pasar saat ini. Namun, harga ini merupakan harga saham di awal tahun sebelum ada lonjakan. Merujuk data perdagangan di BEI, lonjakan saham MORA terjadi setelah pertengahan Oktober dan pernah menyentuh level 14.000 pada awal Desember.

Perubahan Struktur Saham Pasca-Merger

Setelah merger, PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) akan berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk. Dalam aksi korporasi ini, perusahaan akan menerbitkan 24,12 miliar saham baru untuk pemegang saham Eka Mas Republik, yang setara dengan 50,50% dari total saham setelah merger.

Akibat penerbitan saham baru ini, kepemilikan pemegang saham MORA lama akan terdilusi sebesar 50,50%. Adapun Moratelindo akan tetap bertahan sebagai perusahaan, sementara MyRepublic Indonesia bergabung ke dalam entitas baru bernama PT Ekamas Mora Republik Tbk.

Pembelian kembali saham MORA dilakukan dengan harga Rp 432 per saham. Dari total saham beredar sebanyak 23,65 miliar saham, batas maksimal saham yang dapat dibeli kembali adalah 10% atau sekitar 2,36 miliar saham, dengan nilai maksimum sekitar Rp 1,02 triliun.

Jika nilai buyback melebihi batas tersebut, MORA wajib memastikan sisa saham dibeli oleh pihak ketiga dengan harga wajar. Dalam hal ini, PT Innovate Mas Utama dan PT Gema Lintas Benua bertindak sebagai pembeli siaga untuk menyerap saham-saham tersebut.

Sebelumnya, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menjual seluruh kepemilikannya sebesar 18,32% saham di PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA). Divestasi tersebut dilakukan melalui penjualan 4,33 miliar saham dengan harga rata-rata Rp 432 per saham MORA pada Kamis, 4 Desember 2025. Dari aksi ini, EXCL mengantongi dana hingga Rp 1,87 triliun.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *