BANDUNG,
Tidak mudah menjadi seorang ibu yang juga harus mencari nafkah untuk keluarga. Salah satu contohnya adalah Gedis Permadani, seorang perempuan yang menjalani profesi sebagai driver ojek online (ojol) selama tujuh tahun terakhir. Dalam kehidupannya sehari-hari, ia menghadapi tantangan berupa tugas sebagai ibu dan pekerja yang saling bertabrakan. Namun, ia tetap menjalani perannya dengan penuh tanggung jawab.
Di tengah keramaian kendaraan dan debu jalanan Cihampelas Bandung, suara knalpot menjadi latar belakang potret jalanan sore itu. Awan kelabu mulai saling berdesakan menutupi langit senja yang perlahan mulai redup ditelan awan. Di bawah naungan Jembatan Pelangi, seorang wanita berjaket hijau tampak sedang beristirahat duduk di atas motornya. Matanya sendu, tampak lelah. Namun pandangannya tertuju pada ponsel yang tersimpan di holder stang kemudi. Jemarinya tampak memilah orderan masuk yang akan ia terima kemudian.
Sebagai driver ojek online, setiap orderan penumpang menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Gedis, yang merupakan ibu dari dua anak, sudah menjalani profesinya ini selama tujuh tahun. Di usianya, ia sudah terlalu akrab dengan pilihan-pilihan sulit yang menuntut keputusan cepat. Bukan ambisi yang membawanya ke jalanan, melainkan kebutuhan hidup yang mendesak. Dulu saat masih janda dan belum punya penghasilan, mencari kerja sangat sulit. Kesempatan pertama datang ketika sebuah perusahaan transportasi online membuka lowongan dan memanggilnya. “Ya udahlah, yang ada aja,” katanya.
Kini hidupnya berbeda. Ia telah menikah lagi dan menjadi ibu dari seorang remaja 15 tahun yang duduk di kelas tiga SMP, serta seorang bayi berusia 10 bulan. Namun tanggung jawab itu membuat ritme kerjanya semakin ketat. “Sekarang pulangnya harus sore. Tapi penghasilan juga harus maksimal,” jelasnya. Bagi Gedis, bekerja berarti berpacu dengan waktu. Di pagi hari, ia berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin orderan. Ia pun harus kembali ke rumah sebelum petang menjelang. “Biasanya jam lima atau jam enam sudah harus sampai rumah. Biar ada waktu buat anak,” ucapnya.
Tantangan terbesar muncul ketika tugas sebagai ibu dan pencari nafkah saling bertabrakan. “Kadang lagi narik jauh, di Cimahi, tiba-tiba ditelfon anak sakit. Ya otomatis pulang,” katanya. Situasi ini bukan kejadian langka baginya, ia harus sigap ketika keluarga memanggil. Meski begitu, beban itu tidak dipikul sendirian. Orang-orang tersayang memberikan dukungan untuk bekerja. Suami yang berprofesi sama sebagai driver online pun paham dan mengerti dengan profesi yang dijalaninya saat ini.
Dalam mengasuh anak, terutama sang remaja, Gedis mengandalkan kombinasi pengawasan, disiplin, dan teknologi. Ponsel anak ditautkan dengan ponsel sang ayah agar aktivitas digital tetap terkontrol. “Kalau dia (anak) buka-buka situs apa, kelihatan. Nanti bapaknya laporan ke saya,” jelasnya. Hasilnya cukup baik, prestasi akademis anaknya stabil di peringkat lima besar. Meski sang anak dekat dengannya, Gedis mengakui bahwa belakangan ini anaknya lebih banyak bercerita kepada ayahnya. “Kalau sama saya mungkin karena saya cuek. Sama bapaknya lebih ngobrol, banyak cerita,” tuturnya.
Namun urusan nilai-nilai hidup, ia dan suami sepakat, anak-anak harus mandiri, tidak mudah bergantung. “Nggak cengeng, harus mandiri, jangan dikit-dikit orang tua. Kalau ada apa-apa harus bisa ngelawan,” ucapnya. Sementara si kecil diasuh nenek dan uwaknya ketika Gedis bekerja. Ia bersyukur tidak pernah harus membawa bayi saat mencari nafkah. Harapannya sederhana namun realistis, ia memastikan kebutuhan anak-anak tercukupi hingga dewasa dan mandiri. “Kalau anak-anak sudah mandiri, saya juga nggak bergantung sama anak saya. Karena anak bukan investasi,” katanya.
Dalam kondisi perekonomian yang tengah dirasa sulit saat ini, Gedis tak punya strategi rumit. Ia hanya memegang satu prinsip, terus berjalan, jalani hidup. “Yang penting ada buat keluarga, jalanin aja semaksimal mungkin,” pungkasnya. Ditengah riuh jalanan, Gedis menjalani perannya tanpa keluhan berlebih. Ia tak mencari embel-embel heroik. Saat ini yang ia cari hanyalah ruang aman bagi keluarganya untuk tumbuh, dan setiap hari dibalik helm dan jaket kerjanya, ibu dua anak ini terus berjuang demi keluarga tercinta.











