KUB Mampu Jaya: Usaha yang Bertahan di Eks Lokalisasi Dolly
Selama 11 tahun lebih, kawasan eks lokalisasi Dolly di Surabaya resmi ditutup sejak Juni 2014. Sejak saat itu, kawasan tersebut berubah menjadi pusat aktivitas usaha kecil dan menengah (UKM). Salah satu kelompok usaha yang berhasil bertahan adalah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya. Hingga kini, KUB ini masih aktif dalam memproduksi sepatu, sandal, dan sliper hotel yang dianggap sebagai produk dengan permintaan stabil.
Fasilitas Gratis sebagai Penopang Utama
KUB Mampu Jaya berada di bekas Wisma Barbara, yang dulu merupakan jantung kawasan Dolly. Keberadaan fasilitas gratis dari Pemkot Surabaya menjadi penopang penting bagi kelompok ini. Selama 11 tahun terakhir, mereka masih diberikan ruang usaha tanpa biaya sewa. Listrik dan air juga ditanggung pemerintah, sehingga memberi kesempatan bagi anggota untuk fokus pada produksi.
Menurut Ketua KUB Mampu Jaya, Atik Triningsih, dukungan pemerintah tetap dirasakan hingga kini. Ia mengatakan bahwa tempat ini milik Pemkot, dan mereka hanya diberi izin menempati gedung tersebut. “Itu dukungan yang masih terus kami terima sampai sekarang,” ujarnya.
Pengurangan Anggota Aktif
Pada awal pendirian, KUB Mampu Jaya memiliki sekitar 30 anggota yang aktif mengikuti pelatihan dan program pendampingan. Namun, jumlah anggota aktif semakin menyusut hingga kini hanya tersisa 16 orang. Menurut Atik, sebagian anggota memilih bekerja dari rumah karena pendapatan tidak setinggi masa awal pemulihan pasca-penutupan Dolly.
Yang tersisa adalah anggota yang sudah stabil secara keahlian dan komitmen. “Yang bertahan ini (16 anggota) ya yang sudah settle,” ujarnya.
Sistem Kerja Berbasis Borongan
KUB Mampu Jaya bekerja berdasarkan sistem borongan sesuai jumlah pesanan, bukan gaji bulanan. Dengan skema ini, usaha tetap berjalan secara mandiri, meski fasilitas produksi tetap mengandalkan dukungan pemerintah.
Atik juga sempat mengenang masa Wali Kota Tri Rismaharini, ketika kelompoknya sering diajak mengikuti berbagai pameran UMKM. Pameran menjadi ruang penting untuk memperluas jaringan dan mengenalkan produk mereka. Namun beberapa tahun terakhir, kesempatan mengikuti pameran semakin jarang.
Meski demikian, Atik menegaskan bahwa pemerintahan Wali Kota Eri Cahyadi tetap memberikan dukungan, terutama melalui keberlanjutan penggunaan gedung produksi. “Kami tetap dibolehkan menempati tempat ini. Itu juga bantuan. Hanya saja pameran memang sudah jarang,” ucapnya.
Harapan untuk Lebih Banyak Perhatian
Atik berharap Pemkot Surabaya tidak hanya menyediakan fasilitas tempat, tetapi juga kembali menggiatkan pendampingan dan kunjungan rutin. Menurutnya, banyak UKM di eks Dolly yang kini meredup karena kurang perhatian. “Bukan soal pameran saja. Kami butuh sharing, kunjungan, dan perhatian supaya UKM yang dulu sempat dilatih tidak mati semua. Sayang dulu sudah dibangun sedemikian rupa,” jelasnya.
Kondisi Saat Ini dan Perasaan Tenang
Saat ini, KUB Mampu Jaya menjadi satu dari sedikit kelompok usaha yang masih bertahan di kawasan yang dulu digagas sebagai kampung UKM setelah penutupan Dolly. Berbagai aktivitas produksi masih terlihat di bekas bangunan wisma yang kini berubah fungsi menjadi ruang usaha.
Meski pendapatan masa lalu diakui lebih besar, Atik merasa kehidupan saat ini jauh lebih tenang dan terukur. “Kalau boleh memilih, saya pilih yang sekarang. Lebih tenang, dan penghasilan tiap bulan lebih jelas,” tutupnya.











