My WordPress Blog
Bisnis  

Listrik Murah, Proyek PLTS Atap Melesat di Akhir Tahun



JAKARTA – Banyak proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang terus berkembang menuju akhir tahun ini. Hal ini dipicu oleh keekonomiannya yang semakin kompetitif. Harga listrik yang dihasilkan PLTS atap jauh lebih murah dibandingkan tarif listrik konvensional, sehingga mendorong perusahaan untuk berinvestasi menggunakan energi terbarukan.

Terkini, OT Group terus menambah pemanfaatan PLTS Atap di fasilitas operasionalnya. Inisiatif ini berhasil menghasilkan 8 juta kWh energi bersih setiap tahun. Tidak hanya itu, komitmen ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga sekitar 7.000 ton CO2 per tahun, atau setara dengan menanam lebih dari 100.000 pohon.

Sebagai bagian dari transformasi menuju industri yang lebih hijau, OT Group melalui PT Ultra Prima Abadi dan PT CS2 Pola Sehat mengimplementasikan penggunaan PLTS Atap di tujuh unit produksi yang berlokasi di Tangerang (Banten), Bogor (Jawa Barat), Pandaan (Jawa Timur), Daan Mogot (Jakarta), Banyuasin (Sumatra Selatan), Maros (Sulawesi Selatan), dan Jombang (Jawa Timur).

Berkolaborasi dengan Xurya Daya Indonesia (Xurya), komitmen OT Group menggunakan energi terbarukan juga membantu mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

CEO FMCG OT Group, Donny menjelaskan pihaknya berkomitmen untuk terus menerapkan solusi energi bersih dalam lini produksinya. Menurutnya, kolaborasi dengan Xurya dimulai dari proyek pertama di divisi CS2 Pola Sehat yang mencakup tiga lokasi.

“Saat ini, pabrik kami yang menggunakan PLTS telah tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, hingga Sulawesi. Melalui kerja sama ini, salah satunya di UPA Jombang, kami berhasil menekan emisi karbon hampir mencapai 1.700 ton – setara dengan menanam lebih dari 20.000 pohon,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12/2025).

Selain itu, Donny mengatakan implementasi penggunaan energi terbarukan menjadi bagian dari perjalanan OT Group menuju masa depan yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan. “Ke depannya, kami berharap dapat terus memperluas implementasi energi terbarukan di seluruh fasilitas kami di Indonesia,” tambahnya.

Eka Himawan, Managing Director, Xurya Daya Indonesia, mengaku bangga dapat mendukung OT Group dalam penggunaan energi terbarukan melalui penerapan PLTS Atap di lima fasilitas produksinya.

“Kami pun berkomitmen untuk selalu membersamai OT Group dalam pengoperasian PLTS Atap mereka hingga akhir masa operasional sistem selama puluhan tahun mendatang,” katanya.

Selain OT Group, pemasangan PLTS atap juga dilirik kalangan emiten-emiten. Langkah ini ditempuh untuk mendukung pasokan listrik dari sumber terbarukan, sekaligus menunjang operasional bisnis.

Aksi pemasangan PLTS atap turut ditempuh emiten Grup Salim PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Belum lama ini, INDF resmi mengoperasikan PLTS di pabrik tepung terigu Bogasari Jakarta.

Pabrik Bogasari Jakarta menjadi pabrik kedua yang mengaplikasikan PLTS atap dalam mendukung operasionalisasi Indofood. Pabrik pertama berlokasi di Cibitung, Bekasi yang telah mulai dijalankan pada 2022.

Manajemen menerangkan bahwa upaya ini dilakukan dalam rangka menjalankan konsep industri hijau secara berkelanjutan oleh perusahaan. Selain itu, INDF juga mematok target jangka panjang penurunan emisi dan penghematan biaya listrik divisi Bogasari melalui pemasangan PLTS atap.

Adapun kapasitas terpasang PLTS atap di pabrik Bogasari Jakarta mencapai 1,88 megawatt peak (MWp) dan mampu menghasilkan penghematan energi sebesar 1,92 juta kilowatt-hour (kWh) per tahun.

“Bahkan Bogasari Jakarta rencananya akan menambahkan kapasitas dari PLTS kurang lebih sampai dengan total 4 MWp,” kata Vice President Engineering and Technology Bogasari Andry Wiryanto dalam keterangan resmi, Selasa (25/11/2025).

Tak kalah dari INDF dengan pabrik Bogasari Jakarta, PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk. (PRAY) atau Primaya Hospital Group juga kembali mengoperasikan PLTS atap di salah satu rumah sakit kelolaannya di Jabodetabek.

Pasokan listrik hijau kini hadir di Primaya Hospital Karawang setelah operasional PLTS atap dimulai di Primaya Hospital Bekasi Timur. PLTS atap di Primaya Hospital Karawang tercatat memiliki luas 1.123 meter persegi dengan kapasitas 164,7 kilowatt peak (kWp).

Fasilitas ini berpotensi menghasilkan energi bersih sekitar 241.330 kWh per tahun, angka ini cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 290 rumah tangga. Penerapan energi terbarukan ini juga disebut menekan emisi karbon hingga 215,75 ton per tahun.

Volume tersebut setara dengan menanam hampir 2.900 pohon dan menghemat lebih dari 129.000 liter bensin setiap tahunnya. CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali, mengemukakan bahwa operasional PLTS atap di Primaya Hospital Bekasi Timur selama satu tahun terakhir telah menghemat lebih dari 477.000 kWh energi, dengan nilai efisiensi biaya mencapai Rp68 juta.

“Melihat manfaat tersebut, kami menghadirkan inisiatif serupa di Primaya Hospital Karawang sebagai langkah konkrit menuju layanan kesehatan yang berkelanjutan,” katanya.

Efisiensi Meningkat

Di sisi lain, maraknya pengembangan PLTS atas tak lepas dari potensi investasi yang menggiurkan. Perusahaan pengembang energi surya (solar developer) SUN Energy menyebutkan bahwa investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kini lebih murah, sehingga membuat energi berbasis sumber terbarukan cukup bersaing dengan energi fosil.

“Tren dalam lima tahun terakhir, biaya investasi per watt peak [Wp] itu justru makin turun. Hal ini karena harga panel, inverter dan equipment-nya makin lama makin turun. Kalau berbicara listrik dari solar, bisa dikatakan sudah lebih murah daripada tarif listrik yang ada [dari fosil],” kata CEO SUN Energy Emmanuel Jefferson Kuesar di Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Jefferson mengatakan energi surya yang makin kompetitif telah diakui oleh konsumen. Hal ini tecermin dari berkembangnya minat pemasangan PLTS di sektor bisnis. Jefferson mengemukakan bahwa pemasangan PLTS kini tak hanya dipandang sebagai strategi untuk menurunkan emisi, tetapi juga dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi biaya energi dan menjaga ketahanan pasokan listrik.

“Teknologi ketika baru memang pasti memiliki biaya yang tinggi, tetapi ini [PLTS] bukan teknologi baru dan juga akan terus berkembang. Pastinya akan ada efisiensi-efisiensi di kemudian hari,” tambahnya.

Hingga 2025, SUN Energy telah mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS di Indonesia dengan total kapasitas terpasang lebih dari 240 megawatt (MW). PLTS ini tersebar di lebih dari 50 sektor industri dan diestimasi menghasilkan 322,3 juta kilowatt hour (kWh) listrik bersih per tahun, serta berkontribusi menurunkan emisi karbon hingga 250,8 juta kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) per tahun.

Pertumbuhan kapasitas PLTS industri pada pelanggan SUN Energy tercatat paling signifikan di lima sektor utama, yaitu semen, FMCG, kertas, kemasan, elektronik dan komponen otomotif.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *