My WordPress Blog
Bisnis  

Senyum Petani Kecil Pengisi Bahan Baku MBG

Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis terhadap Petani Sayuran

Petani sayuran di Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat merasa bahwa keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga sayuran. Kondisi ini jauh berbeda dengan situasi sebelum adanya program tersebut, di mana harga sayuran cenderung fluktuatif.

Dadan Kartiwa, salah satu petani di Cibodas, mengatakan bahwa dalam tiga bulan terakhir, ia mulai melihat perubahan yang signifikan. “Secara umum, dengan adanya MBG, harga sayur menjadi lebih stabil dibanding sebelum ada MBG. Wortel biasanya di atas Rp 15 ribu ke atas, jarang-jarang wortel agak lama,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa dengan adanya program MBG, harga sayuran tidak lagi naik atau turun secara cepat. Hal ini memberikan manfaat bagi para petani, termasuk dalam hal penjualan bahan baku ke dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG). “Secara umum, saya baru tiga bulan (mengisi) satu dapur, dan itu mendongkrak penjualan petani,” tambahnya sambil tersenyum.

Pasokan Sayuran dari Petani Lokal

Dalam satu pekan, para petani di Lembang dapat menyuplai bahan pokok sayuran antara 500 kg hingga 1 ton. Bahan baku yang disuplai ke dapur MBG berasal dari 50 orang petani yang tergabung dalam koperasi Produsen Agronative Pratama Indonesia di Lembang.

“Kalau normal, satu dapur satu menu. 1 ton per satu pekan atau rata-rata dari 500 sampai 1,5 ton all item sayur,” ujar Dadan.

Jika stok di kebun kosong, ia sering mencari ke pasar induk. Namun, di pasar induk pun harus cepat agar tidak kehabisan oleh masyarakat yang juga hendak menyuplai ke dapur MBG. “Dapur MBG ngambil sayuran dari petani lokal atau setempat,” katanya.

Stabilitas Pasokan dan Pembayaran

Meski sempat ada penurunan pasokan akibat peristiwa keracunan siswa, Dadan menyebut suplai bahan sayuran ke dapur MBG relatif berjalan lancar, termasuk dari sisi pembayaran. “Alhamdulillah pembayaran lancar sepekan sekali,” kata dia.

Ia berharap suplai bahan baku bisa bertambah ke dapur-dapur lainnya. “Sudah ada yang menghubungi dari beberapa dapur di wilayah lain seperti Padalarang, Bandung, dan Sumedang. Tinggal cocok harga dan pembayarannya,” tambahnya.

Perluasan Pasar dan Pengurangan Bahan Kimia

Dadan mengaku bahwa suplai bahan sayuran untuk satu dapur MBG mencapai 10 hingga 20 persen dari total suplai bahan sayuran. Ia juga menyebut bahwa pihaknya turut menyuplai bahan sayuran ke sejumlah toko modern.

“Alhamdulillah menambah pasar untuk MBG, petani punya pilihan menjual produk sayuran,” ujarnya.

Ia berharap dapur MBG terus diperbanyak dan menu sayuran terus ditambah sehingga mendongkrak para petani. Termasuk saat ini, para petani mulai mengurangi penggunaan bahan kimia sebagai prosedur dari menyuplai bahan ke dapur MBG.

Penyebab Keracunan dan Harapan Petani

Dadan berharap peristiwa keracunan yang terjadi agar dibuka sedetailnya mengenai penyebabnya. Sehingga para petani pun bisa tenang dan tidak menjadi disalahkan apabila muncul kasus tersebut. Selama ini, ia menyebut kasus dugaan keracunan terjadi akibat permasalahan sanitasi dan higienitas.

Peran Supplier dan Arahan dari Badan Gizi Nasional

Sementara itu, salah satu supplier bahan sayuran ke dapur MBG di kawasan Lembang, Usep Sukarna (55 tahun), mengaku tiap hari rutin menyuplai bahan sayuran ke dapur MBG antara 40 sampai 50 kilogram. Ia mengaku bersyukur dapat terlibat dalam menyuplai bahan sayuran untuk MBG. “Rata-rata 40 sampai 50 kilogram,” kata dia.

Ia menuturkan, program MBG sesuai arahan presiden Prabowo Subianto harus melibatkan UMKM. Ia pun sebagai supplier terus menawarkan bahan untuk menyuplai ke dapur MBG. “Saya mah siapa aja yang membutuhkan, saya mah supplier,” ujarnya.

Pentingnya Melibatkan Petani Kecil dan UMKM

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang meminta kepada SPPG, bersama mitra dan Yayasan untuk melibatkan kelompok peternak ayam kampung dan petani kecil, UMKM, dan koperasi, sebagai pemasok bahan pangan untuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Saya ingatkan kepada SPPG-SPPG, Mitra, dan Yayasan, agar jangan hanya memberi kesempatan kepada mereka yang punya modal besar untuk menjadi pemasok bahan pangan MBG. Kalian juga harus melibatkan petani dan peternak kecil, UMKM, dan koperasi,” kata Nanik.

Tantangan yang Dihadapi Petani Kecil

Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, Nanik mengaku mendapatkan pengaduan dari para petani dan peternak kecil serta UMKM. Mereka sering mengeluh, hasil pertanian, peternakan, dan usaha mereka tidak bisa masuk ke dapur MBG karena terkendala soal perizinan, legalitas, dan berbagai aturan usaha lainnya.

“Mereka itu miskin dan nggak punya duit untuk ngurus segala macam. Jadi tolong jangan persulit mereka dengan aturan harus punya NPWP, SIB, UD, dan lain-lain,” ujarnya.

Manfaat Ekonomi dan Inflasi

Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Antar Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG itu lalu menjelaskan pelibatan petani dan peternak kecil, UMKM, serta koperasi dalam program MBG justru menjadi arahan penting Presiden Prabowo Subianto saat program unggulan pemerintah ini dirancang.

Sebab, program MBG memang dirancang agar dapat menghidupkan perekonomian masyarakat bawah di berbagai pelosok tanah air. “Jadi tolong beri kesempatan mereka untuk ikut terlibat sebagai pemasok bahan pangan MBG juga,” kata Nanik.

Pelibatan petani, peternak, UMKM, dan koperasi sebagai pemasok bahan pangan secara masif juga sangat bermanfaat untuk menekan angka inflasi. Sebab, dengan semakin banyaknya SPPG yang beroperasi, kebutuhan bahan pangan meningkat, dan harga pun naik. Harga bisa ditekan jika pasokan meningkat. “Ingat, dalam rapat inflasi awal pekan kemarin, Jombang di peringkat pertama inflasi pangan,” kata Nanik.

Imbauan untuk Nurani Kemanusiaan

Karena itu, Nanik mengimbau seluruh Kepala SPPG, Ahli Gizi, Akuntan, Mitra dan juga yayasan pengelola MBG memiliki nurani kemanusiaan seperti Presiden Prabowo Subianto, ketika mengelola dapur-dapur MBG. “Saya berharap Anda semua jangan bisnis oriented, saya minta anda juga memiliki nurani kemanusiaan seperti Presiden Prabowo Subianto,” ujar mantan wartawan senior itu.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *