My WordPress Blog
Bisnis  

Nelayan Labuan Haji Bongkar Keuntungan Besar Tangkap Ikan Hiu

Kesulitan Nelayan Menangkap Hiu di Lombok Timur

Nelayan di Kecamatan Labuan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengakui bahwa menangkap hiu bukanlah hal yang mudah. Meskipun demikian, ketika mereka berhasil mendapatkan ikan hiu, itu dianggap sebagai rezeki besar.

Pengalaman Nelayan dalam Menangkap Hiuj

Junaidi (47), seorang nelayan yang telah melaut selama lebih dari 15 tahun, menjelaskan bahwa dalam setahun biasanya hanya ada satu atau dua nelayan yang beruntung mendapatkan ikan hiu. Ukuran hiu yang ditangkap bervariasi, mulai dari yang sebesar sampan hingga sebesar betis dan paha manusia.

“Setiap tahun pasti ada yang dapat, besarnya macam-macam, kadang sebesar sampannya, ada juga sebesar betis dan paha kita,” katanya saat ditemui Minggu (30/11/2025).

Menurut Junaidi, nilai ekonomis ikan hiu cukup tinggi, terutama pada bagian sirip. Jika nelayan mendapatkan hiu berukuran besar, misalnya sebesar sampan, harga siripnya bisa mencapai Rp 25 juta. Sementara itu, daging hiu dijual dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 40.000 per kilogram.

“Siripnya lain yang membelinya, sedangkan dagingnya tetap dijual dengan ditimbang dengan harga per kilogram Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu,” jelasnya.

Ia memastikan bahwa pembeli sirip ikan hiu selalu ada, bahkan berasal dari luar negeri. Sirip hiu tersebut diketahui menjadi bahan kuliner yang banyak diminati, khususnya di negara-negara Asia.

“Sudah ada pembelinya itu, dan tidak tanggung-tanggung bos yang membelinya. Makanya kalau kita dapat itu ya beruang kita,” ujar Junaidi sambil tersenyum.

Namun, ia menegaskan bahwa mendapatkan ikan hiu di kawasan perairan Labuan Haji sangat jarang terjadi. Hiuj lebih sering ditemukan di laut dengan arus kuat dan wilayah lebih jauh ke tengah. Ia mencontohkan nelayan di Tanjung Luar yang melaut hingga perairan selatan dan samudra lepas.

“Kalau teman-teman nelayan di Tanjung Luar pergi dia ke laut lepas, seperti Australia hingga Papua dekat-dekat itu lah,” ungkap dia.

Nelayan di Tanjung Luar kata dia, berbulan-bulan di tengah laut, kadang dua bulan, kadang sampai empat bulan, tergantung ikan yang didapatkan. “Kalau ikan besar seperti hiu atau ikan yang mahal maka mereka cepat pulang. Sangat beda dengan kita di sini yang menunggu saja, karena arus tidak terlalu besar,” pungkasnya.

Peran Lembaga Pengembangan Sumber Daya Nelayan

Ketua Lembaga Pengembangan Sumber Daya Nelayan (LPSDN) Lombok Timur, Amin Abdullah menyebutkan jumlah nelayan aktif di Lombok Timur sekitar 16.434 dengan jumlah terbanyak berada di Tanjung Luar. Menurut Amin, kawasan Kecamatan Keruak, meliputi Desa Tanjung Luar, Pulau Meringkik, dan Ketapang Raya memang menjadi pusat aktivitas nelayan skala kecil di Lombok Timur. Itulah sebabnya Tanjung Luar menjadi TPI terbesar dan paling ramai di NTB.

“Jumlah nelayannya maupun armada tangkapnya besar,” ujarnya.

Daerah tangkap utama nelayan kecil adalah Selat Alas, yang kaya ikan pelagis seperti tongkol, cumi, dan layang. Mereka menggunakan kerakat, pancing ulur, pancing bulu-bulu hingga jaring. Sementara penangkapan hiu dilakukan oleh kelompok khusus dengan kapal berukuran di atas 13 Gross Tonnage (GT) menggunakan pancing rawe. Durasi melautnya bisa mencapai dua minggu.

“Satu kali trip (berburu hiu) itu 15 hari. Mereka bawa es, garam, bahan pokok, dan pergi ke di sekitar laut Flores ke selatan,” jelasnya.

Amin menegaskan bahwa tidak semua hiu boleh ditangkap. Regulasi CITES hiu adalah jenis hiu yang masuk dalam daftar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). CITES merupakan perjanjian internasional untuk mengatur perdagangan satwa liar yang terancam punah seperti hiu.

“Ada beberapa jenis hiu yang sama sekali tidak boleh ditangkap. Ada yang boleh ditangkap tapi tidak boleh diperdagangkan ke luar negeri,” katanya.

Jenis hiu yang biasa ditangkap nelayan setempat umumnya masih dalam kategori diperbolehkan, seperti hiu merak bulu dan hiu martil. “Kalau hiu paus itu sama sekali tidak boleh,” tegasnya.

Amin menyebut perairan Selat Alas kini mengalami overfishing akibat semakin banyaknya alat tangkap dan nelayan yang bergantung pada wilayah itu. “Perikanan tangkap kita terlalu padat. Untuk mengatasi masalah ini harus dilakukan pengalihan kegiatan,” katanya.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *