My WordPress Blog
Bisnis  

Emping Melinjo Rumahan dari Vancouver, Kanada

Cerita UMKM Rumahan yang Menembus Pasar Dunia

Di tengah berbagai tantangan, banyak UMKM rumahan di Indonesia berhasil menjangkau pasar internasional. Salah satu contohnya adalah Eli, pemilik usaha camilan emping melinjo bernama Koncone Ngemil. Dari dapur kecilnya di Solo, ia mampu mengirimkan pesanan ke Vancouver, Kanada. Ini adalah bukti bahwa dengan dukungan yang tepat, UMKM bisa berkembang dan menembus batas-batas geografis.

Awal Mula Perjalanan Eli

Pagi itu, Eli sedang mempersiapkan pesanan camilan untuk pelanggan. Di sampingnya, anaknya menunggu sarapan. Tumpukan pesanan menanti dikemas, termasuk beberapa pesanan dari luar negeri. Baginya, ini adalah mimpi yang terwujud. Namun, jalan tidak selalu mulus. Pada awalnya, Eli menghadapi banyak kesulitan. Ia pernah bekerja sebagai staf humas dan content writer, tetapi harus meninggalkan pekerjaannya karena anaknya sakit.

Setelah keluar dari pekerjaan, ia mencoba membuka toko kelontong dan les privat, tetapi kedua usaha itu gagal. Tabungan menipis, tekanan ekonomi semakin besar. Pada 2018, seorang teman menyarankan ia mencoba membuat emping melinjo. Awalnya ragu, tetapi akhirnya ia mencoba. Hasilnya baik, dan pesanan mulai datang.

Pelatihan dan Pengembangan

Dari situ, Koncone Ngemil lahir. Produksi dilakukan secara manual, mulai dari pembelian melinjo mentah hingga pengiriman pesanan. Meski ada banyak tantangan, seperti produksi lambat dan kapasitas tenaga kerja terbatas, Eli tetap bertekad. Ia mengikuti pelatihan dasar di Rumah BUMN Solo, yang dipandu oleh program kemitraan BRI untuk pemberdayaan UMKM.

Pelatihan tersebut memberikan pengetahuan tentang manajemen keuangan, branding, dan packaging. Eli mulai melakukan pencatatan manual dan meningkatkan kualitas kemasan. Dengan bantuan BRI, Koncone Ngemil lolos kurasi pada event besar seperti BRI UMKM EXPO(RT) dan BRILIANPRENEUR. Event ini mempertemukan UMKM dengan buyer internasional dan membuka peluang perdagangan luar negeri.

Ekspor Pertama ke Vancouver

Pada 2024, Koncone Ngemil mencatat ekspor pertama ke Vancouver, Kanada. Meski jumlahnya tidak besar, ini merupakan simbol penting bahwa UMKM rumahan bisa menembus pasar global. Melalui pendampingan dan pelatihan, Eli meningkatkan standar produksi. Ia mengikuti program pelatihan higienitas, standar kemasan ekspor, dan efisiensi produksi.

Kini, Koncone Ngemil memproduksi ratusan kilogram per bulan. Mitra reseller bertambah, dan pesanan dari marketplace meningkat. Eli mulai melibatkan pekerja tambahan dan bermitra dengan ibu-ibu rumah tangga sekitar. Bahkan, ia masih membutuhkan distributor dan reseller yang siap menampung dagangannya.

Kisah Yani Mardiyanto dan Nasrafa

Selain Eli, kisah lain juga menginspirasi. Yani Mardiyanto, pemilik usaha kain lukis Nasrafa, juga berhasil menembus pasar internasional. Produknya tumbuh dari ruang kecil di Kampung Petoran, Jebres, menjadi brand kreatif yang dikenal hingga luar negeri.

Dengan modal minim, Yani memulai usaha dengan membeli kain polos dan cat sederhana. Promosi dilakukan dari pintu ke pintu. Pelan-pelan, Nasrafa mulai dikenal setelah rutin mengikuti pameran UMKM yang digelar Pemkot Surakarta dan Pemprov Jawa Tengah. Inovasi terus tumbuh, dari selembar kain menjadi tas, pouch, syal, kemeja, payung, hingga topi.

Perlahan, perhatian dunia pun datang. Tahun 2019, Nasrafa diundang ke pameran Manila Fame di Filipina. Ekspor ke Singapura dan Amerika Serikat mulai berjalan. Tahun 2022, Nasrafa terpilih sebagai salah satu UMKM Indonesia yang tampil di Osaka Lifestyle Show. Motif sakura buatan perajin Solo menjadi primadona di negeri asalnya.

BRI Berperan dalam Pemberdayaan UMKM

BRI berperan penting dalam mendukung UMKM di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah UMKM di Indonesia mencapai 65,5 juta unit usaha dan berkontribusi 61,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Adanya UMKM ini menyerap 119 juta lebih tenaga kerja atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional.

BRI tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga membangun ekosistem lengkap yang mencakup akses modal, digitalisasi layanan, pelatihan, inkubasi, klaster usaha, hingga perluasan pasar. Hingga September 2025, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur.

KUR menjadi tulang punggung pembiayaan produktif karena memberi modal murah bagi pelaku usaha mikro yang sebelumnya sulit mendapatkan akses kredit formal. Selain pembiayaan, BRI juga menjalankan berbagai program pemberdayaan UMKM seperti pelatihan manajemen, literasi keuangan, digital, dan ekspor. Kemudian program klaster usaha dan desa binaan, pendampingan melalui Rumah BUMN, digitalisasi pemasaran lewat LinkUMKM, yang kini telah diikuti lebih dari 12,9 juta pelaku UMKM.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *