Tren Bisnis Properti yang Menurun
Salah satu sektor bisnis yang mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir adalah bisnis properti. Tidak hanya properti skala besar, bahkan bisnis properti kecil pun juga tidak lepas dari dampak ini. Kelas-kelas khusus di sektor properti terlihat sepi, dan jarang ada pembeli yang tertarik untuk membeli.
Dalam setahun terakhir ini, perekonomian Indonesia semakin sulit. Daya beli masyarakat menengah ke bawah turun drastis hingga mencapai titik terendah. Saya melihat bahwa lebih banyak orang yang menjadi penjual daripada pembeli. Meskipun pemasaran properti dilakukan secara gencar, namun tidak mampu memenuhi target yang diharapkan. Bahkan rumah subsidi yang seharusnya terjangkau bagi masyarakat juga tidak bisa diakses oleh banyak orang. Maka dari itu, banyak orang lebih memilih menyewa atau mengontrak rumah daripada membeli.
Sementara itu, mereka yang sudah memiliki rumah justru mempertimbangkan untuk menjual kembali karena terdesak oleh kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini tentu sangat miris.
Pengalaman Pribadi dalam Bisnis Properti
Begitu pula yang dialami oleh salah seorang keponakan saya yang terjun dalam bisnis properti. Beberapa proyeknya mengalami hambatan karena hanya mampu menarik satu atau dua konsumen. Masyarakat cenderung takut menggunakan uang mereka untuk membeli properti, khawatir jika terjadi kebutuhan mendadak yang lebih mendesak, maka akan kesulitan.
Namun, dulu bisnis properti masih bisa bersinar. Keponakan saya pernah mampu memberangkatkan kedua orang tuanya untuk menunaikan ibadah umroh. Selain itu, dia juga membiayai adik perempuannya menikah. Wisata ke berbagai kota juga bisa dinikmati bersama keluarga.
Strategi Bertahan dalam Situasi Sulit
Meskipun risiko dalam bisnis selalu ada, tidak selamanya akan meraih hasil yang melimpah. Karena itu, setiap orang yang terjun dalam bisnis harus siap dengan suka dan duka. Keponakan saya tidak terlalu kaget dengan situasi saat ini meski ada sedikit keluhan. Dia sudah memahami bahwa situasi seperti ini bisa terjadi.
Berikut beberapa langkah yang dilakukan untuk bertahan:
-
Menggunakan tabungan
Tabungan yang selama ini disimpan untuk pendidikan anak dan keperluan lainnya digunakan sebagai bentuk dukungan. Keponakan saya rajin menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan. Meskipun demikian, penggunaan tabungan ini dilakukan secara bijak dan hemat. Jika kondisi ekonomi membaik, dia akan mulai menabung lagi. -
Menjual emas perhiasan
Keponakan saya juga cerdik dengan menabung emas dalam bentuk perhiasan. Istrinya juga paham akan hal ini dan ikhlas membantu suaminya. Saat ini, harga emas sedang tinggi, sehingga bisa meraih keuntungan dari harga beli beberapa tahun lalu. Mudah-mudahan, ketika membeli emas lagi, harganya sedang turun. -
Menjual barang berlebih
Misalnya, memiliki motor lebih dari satu. Motor yang lain bisa dijual terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Satu motor tetap dipertahankan untuk antar jemput anak sekolah dan belanja ke pasar. -
Mengurangi pengeluaran jajan
Biasanya, ketika sedang banyak rezeki, mudah sekali memesan makanan online. Sekarang lebih fokus pada memasak sendiri. Setiap hari tidak perlu masakan mewah, cukup beberapa hari sekali. Istrinya juga pandai memasak dan rasanya lezat, disukai oleh suami dan anak-anaknya. -
Melirik bisnis kecil-kecilan
Bisnis kecil-kecilan jangan dipandang remeh. Jika dilakukan secara konsisten, bisa mendatangkan cuan. Misalnya, bisnis skincare yang tidak memerlukan modal besar. Dari awal hanya dua atau tiga ratus ribu, bisa berkembang menjadi jutaan rupiah. Istrinya pun tidak segan-segan melakukan hal ini. Banyak brand yang menawarkan sistem yang mudah untuk afiliator.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











