My WordPress Blog
Hukum  

Jejak Karier Wira Arizona, Jaksa Kasus Amsal Sitepu yang Viral dengan Jasa Editing Gratis

Latar Belakang Kasus Amsal Sitepu

Kasus dugaan korupsi yang menjerat videografer asal Sumatera Utara, Amsal Christy Sitepu, menjadi sorotan publik. Perkara ini bermula dari proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo yang kemudian berujung pada proses hukum.

Amsal, yang menjabat sebagai Direktur CV Promiseland, kini dituntut dua tahun penjara. Kasus ini bermula pada periode anggaran 2020 hingga 2022, ketika Amsal menawarkan jasa pembuatan video profil kepada sejumlah pemerintah desa di Kabupaten Karo. Melalui perusahaannya, CV Promiseland, ia mengajukan proposal ke 20 desa di empat kecamatan, yakni Tiganderket, Tigabinanga, Tigapanah, dan Namanteran.

Dalam proposal tersebut, biaya pembuatan video dipatok sekitar Rp 30 juta per desa. Persoalan hukum muncul ketika proposal tersebut diduga disusun tidak sesuai kondisi sebenarnya atau mengalami mark up. Dari hasil analisis auditor Inspektorat Kabupaten Karo, biaya pembuatan video dinilai seharusnya sekitar Rp 24,1 juta per desa. Selisih nilai inilah yang kemudian menjadi dasar dugaan kerugian negara.

Dalam persidangan, jaksa menyebut kerugian negara mencapai Rp 202 juta. Namun, kuasa hukum Amsal mempertanyakan dasar perhitungan tersebut. “Ini yang paling kita garis bawahi. Perhitungan Rp 200 juta ini dari mana,” ujar kuasa hukum Amsal, Willyam Raja Dev, dikutip dari Kompas.com, Senin (30/3/2026).

Polemik Jasa Editing Video

Jejak karier Wira Arizona menjadi sorotan publik seiring viralnya namanya di media sosial Threads terkait polemik jasa editing video. Wira Arizona diketahui merupakan jaksa yang menangani kasus videografer Amsal Christy Sitepu. Ia pernah dilantik sebagai Ajun Jaksa Madya dan kini bertugas di Kejaksaan Negeri Karo.

Berdasarkan informasi yang beredar, Wira merupakan lulusan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXIX Gelombang II Tahun 2022. Ia juga sempat mendapat penugasan dari Kejaksaan Negeri Aceh Jaya sebelum dipindahkan ke Kejaksaan Negeri Karo.

Namanya menjadi perbincangan setelah muncul isu di media sosial yang menyebut jasa editing video seharusnya gratis. Isu tersebut memicu pro dan kontra, terutama di kalangan pekerja ekonomi kreatif. Polemik ini semakin mencuat karena berkaitan langsung dengan kasus yang tengah ditanganinya, yakni dugaan korupsi proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo yang menjerat Amsal Sitepu.

Dalam kasus tersebut, Amsal mengaku seluruh jasa editing video yang ia kerjakan justru dianggap tidak memiliki nilai oleh jaksa. Hal itu diungkapkan Amsal saat mengadukan kasusnya ke Komisi III DPR RI melalui Zoom dari Sumatera Utara, Senin (30/3/2026). Ia tampak tak kuasa menahan tangis saat menjelaskan perkara yang menjeratnya.

“Tidak perlu saya dipenjarakan. Karena pekerjaan ini kami lakukan tahun 2020 juga saat pandemi hanya untuk bertahan hidup dan untuk mempromosikan Kabupaten Karo,” ujar Amsal.

Ia menjelaskan, dalam proposal yang diajukan terdapat rincian biaya produksi video, namun seluruh komponen tersebut disebutnya dianggap bernilai nol.

“Itu ada ide, ide itu besarannya di dalam proposal itu Rp 2 juta. Editing Rp 1 juta, cutting Rp 1 juta, dubbing 1 juta, clip-on atau mikrofon Rp 900.000, yang totalnya Rp 5,9 juta ini semuanya dianggap Rp 0 oleh auditor maupun Jaksa Penuntut Umum,” kata dia.

“Jadi seperti itulah singkatnya cerita pembuatan video profil ini yang saya hari ini hanya mencari keadilan,” sambungnya dengan suara tercekat.

Pengakuan Amsal Tentang Intimidasi

Selain itu, Amsal juga mengaku mengalami intimidasi selama proses hukum berlangsung. “Dalam proses hukum yang sedang saya jalani ini, saya pernah mendapatkan intimidasi oleh jaksa secara langsung yang memberikan saya sekotak brownies cokelat,” ujarnya.

Ia menyebut mendapat pesan agar tidak membuat kegaduhan terkait kasusnya. “Dia ngomong langsung dengan saya di rutan ini, ‘Udah ikutin aja alurnya, nggak usah ribut-ribut tutup konten-konten itu, ada yang terganggu,’” kata Amsal.

Namun, ia menegaskan tetap melawan karena merasa tidak bersalah. “Nggak ada lagi anak-anak muda yang harus dikriminalisasi di Indonesia. Biarkan saya menjadi yang terakhir,” tegasnya.

Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari Wira Arizona terkait isu viral yang menyeret namanya tersebut.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *