Kondisi Arnendo, Mahasiswa yang Mengalami Pengeroyokan
Arnendo, seorang mahasiswa Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, masih mengalami trauma dan kondisi kesehatan yang belum pulih setelah dianiaya oleh puluhan rekannya pada 15 November 2025. Ayahnya, Bagus, menjelaskan bahwa Arnendo belum bisa kembali ke kampus karena rasa takut dan luka fisik yang masih terasa.
Sejak peristiwa tersebut, Arnendo belum menjalani operasi hidung yang diperlukan akibat patah tulang. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan biaya untuk pengobatan. Meski demikian, pihak keluarga tetap berharap agar kasus ini dapat segera diungkap dan para pelaku mendapatkan hukuman yang sesuai dengan tindakan mereka.
Motif dan Perkembangan Kasus
Polrestabes Semarang masih melakukan penyidikan terhadap kasus pengeroyokan ini. Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena, menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi di sebuah rumah kos di kawasan Tembalang, Kota Semarang. Awalnya, korban dihubungi oleh temannya untuk datang ke lokasi tersebut. Setiba di sana, Arnendo dimintai klarifikasi terkait dugaan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswi. Korban membantah tuduhan tersebut, namun situasi memicu aksi pengeroyokan.
Dari hasil visum medis, korban mengalami beberapa luka lecet dan mata lebam. Penyidik telah memeriksa enam saksi, termasuk dari pihak korban, keluarga, dan seorang mahasiswa yang berada di lokasi saat kejadian. Selain itu, polisi juga sedang mendalami identitas para terlapor yang jumlahnya cukup banyak. Dari keterangan korban, sekitar 20 orang dilaporkan terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Upaya Mediasi oleh Kampus
Penasihat hukum Arnendo, Zainal Abidin atau Zainal Petir, menyatakan bahwa pihak Undip telah berupaya memediasi kedua pihak. Menurut Zainal, kampus menegaskan komitmennya untuk menerapkan kebijakan zero bullying serta tidak membenarkan tindakan main hakim sendiri. Ia menyebut, pihak kampus sempat mengundang Arnendo untuk mediasi pada 23 Februari 2026, namun saat itu belum mendapat respons. Undangan itu baru dijawab pada 3 Maret 2026 setelah Arnendo didampingi penasihat hukum.
Zainal mengusulkan pertemuan mediasi digelar pada Jumat (6/3) pukul 13.00, menunggu kesepakatan kedua belah pihak. Ia berharap agar masalah ini tidak berkembang menjadi masalah hukum yang lebih luas.
Pengakuan Ayah Arnendo
Bagus, ayah dari Arnendo, menyampaikan harapan keadilan atas kasus yang dialami anaknya. Dia menyebut, apa yang telah dilakukan oleh para pelaku sesama mahasiswa Undip tersebut sudah di luar batas kemanusiaan. Karenanya, dia meminta pihak kepolisian dapat segera menghukum para pelaku sebagai balasan atas penderitaan anaknya sejak November 2025.
Menurut Bagus, perbuatan para pelaku sangat di luar batas kemanusiaan. Anaknya awalnya terpancing untuk datang ke kos di daerah Bulusan Tembalang. Selanjutnya, anak saya disiksa. Mulai dari dipukul, disudut rokok, ditusuk jarum, dipukul pakai sabuk, digunduli hingga alis dipotong tak beraturan, bahkan dia juga diludahi.
Kronologi Pengeroyokan
Kuasa hukum Arnendo, Zaenal Petir, menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula pada 15 November 2025 sekira pukul 10.57 saat Arnendo mendapat ajakan dari seorang mahasiswa bernama Adyan untuk berdiskusi di sebuah kos di kawasan Bulusan, Tembalang, Kota Semarang. Pertemuan itu disebut untuk membicarakan rencana acara musik kampus.
Setibanya di lokasi, korban melihat banyak orang sudah berkumpul di halaman kos tersebut. Para mahasiswa yang berada di lokasi kemudian menuduh Arnendo melakukan pelecehan terhadap seorang mahasiswi Undip bernama Uca. Zaenal mengatakan, kliennya telah menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya kepada para mahasiswa tersebut. Saat itu korban bercanda dengan menarik tangan Uca dengan tujuan mengajak dia menuju warung makan.
Namun, penjelasan tersebut disebut tidak diterima oleh para mahasiswa yang berada di lokasi. Sekira pukul 23.00, seorang mahasiswa bernama Mathew disebut mulai melakukan kekerasan terhadap Arnendo. Setelah itu, mahasiswa yang ada di sana yang jumlahnya sekira 30 orang mulai mengelilingi korban. Akibat kejadian tersebut, Arnendo mengalami patah tulang hidung, gegar otak, serta gangguan saraf pada mata. Ia juga mengalami trauma sehingga saat ini mengambil cuti dari perkuliahan.











