My WordPress Blog

Dampak Geopolitik, TNI AU Hemat Avtur dengan Strategi Kreatif

TNI AU Beradaptasi dengan Situasi Geopolitik yang Mengubah Operasional

Situasi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah memberikan dampak langsung terhadap operasional TNI Angkatan Udara (AU). Untuk tetap menjaga efisiensi dan keberlanjutan, para penjaga langit dirgantara ini memperketat penggunaan bahan bakar avtur. Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI M Tonny Harjono, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan berbagai inovasi untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya tanpa mengorbankan kualitas dan profesionalisme.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah menggabungkan beberapa kegiatan dalam satu sesi latihan. Misalnya, patroli udara dilakukan bersamaan dengan latihan formasi atau penembakan. Dengan demikian, jam terbang para penerbang tetap terjaga, sementara penggunaan bahan bakar dapat dikurangi secara signifikan.

“Kami bisa melakukan dua hingga tiga latihan sekaligus dalam satu sesi. Sambil melatih formasi atau penembakan, kami juga melakukan latihan rendah (low level) untuk menjaga kemampuan penerbang,” jelas Tonny saat berbicara di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur pada Kamis (9/4/2026).

TNI AU juga menunjukkan adaptasi terhadap kebijakan pemerintah dalam hal efisiensi. Meskipun tidak mengurangi jam terbang, mereka mencoba memaksimalkan metode latihan agar lebih efektif. “Sebelumnya, setiap latihan dilakukan secara terpisah. Sekarang, kami gabungkan menjadi satu sortie untuk beberapa exercise,” tambahnya.

Perayaan HUT ke-80 dengan Cara Sederhana

Peringatan HUT ke-80 TNI AU dilakukan secara sederhana di Lapangan Mabes TNI AU, Cilangkap. Tidak ada atraksi jet tempur seperti biasanya, hanya kendaraan taktis P6 ATAV yang dipamerkan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah.

“Kami sangat memahami situasi global, sehingga upacara peringatan ulang tahun Angkatan Udara kami laksanakan secara sederhana,” ujar Tonny. Meski begitu, upacara digelar serentak di seluruh pangkalan TNI AU di Indonesia. Sambutan dari KSAU juga disiarkan secara daring dan diikuti oleh seluruh satuan di daerah.

“Ini adalah komitmen Angkatan Udara untuk mengikuti program pemerintah dalam hal efisiensi dan penghematan, tetapi esensinya adalah kami ingin lebih ke arah pengabdian Angkatan Udara yang tanpa batas,” tambahnya.

Penambahan Alutsista Baru Masih Menunggu Keputusan

Ketika ditanyakan tentang rencana penambahan alutsista baru, seperti Airbus A400M, TNI AU menyatakan bahwa mereka masih menunggu keputusan dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia akan kembali menambah empat unit pesawat angkut Airbus A400M.

“Jadi pengembangan A400M, kami menunggu dari Kemhan sesuai dengan tupoksi (tugas, pokok, dan fungsi),” kata Tonny. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Prabowo atas perhatian besar yang diberikan kepada TNI AU dalam memodernisasi alpalhankam.

Target Jumlah Radar hingga 2029

Selain itu, TNI AU memiliki target untuk memiliki 30 satuan radar (satrad) hingga 2029. Saat ini, sudah ada 20 satrad yang tersebar di berbagai wilayah. “Ini berproses, InsyaAllah pada tahun 2029, semua sudah ter-install sesuai rencana. Semua ada nantinya akan ada 30 satrad, sekarang 20 satrad,” jelas Tonny.

Penambahan radar ini dilakukan karena sebagian dari radar yang ada saat ini sudah berusia tua, meski masih berfungsi dengan baik. “Radar yang kami miliki saat ini ada 20 satrad yang sudah usang, tetapi masih berfungsi dengan baik,” tambahnya.

Menurut Tonny, keterbatasan jumlah dan jangkauan radar saat ini menyebabkan masih adanya sejumlah wilayah yang belum terjangkau pemantauan. “Untuk ke depannya, kami menempatkan radar-radar baru itu di tempat yang saat ini menjadi blind spot,” imbuhnya.





admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *