My WordPress Blog
Bisnis  

Laba Perusahaan Multifinance Tertekan di 2025, Peluang Pemulihan Terbuka

Kinerja Emiten Multifinance pada Tahun 2025

Pada tahun 2025, kinerja emiten multifinance di Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Meskipun demikian, terdapat indikasi bahwa ruang perbaikan mulai terbuka pada tahun ini, meski masih terbatas. Berikut adalah analisis terkini mengenai kinerja beberapa emiten multifinance:

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance)

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp 142,55 miliar pada 2025. Angka ini menurun sebesar 45,79% secara tahunan dibandingkan dengan laba Rp 262,91 miliar pada 2024. Penurunan ini terjadi meskipun pendapatan perusahaan relatif stabil, yaitu sebesar Rp 2,16 triliun, naik hanya 0,12% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyaluran multiguna, modal kerja, dan investasi juga tercatat stagnan, yaitu sebesar Rp 1,80 triliun, dibandingkan dengan Rp 1,81 triliun pada 2024. Di sisi lain, total beban meningkat sebesar 8,53% menjadi Rp 1,99 triliun, sedangkan total aset meningkat sebesar 6,08% menjadi Rp 7,36 triliun.

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance/ADMF)

Adira Finance juga mengalami penurunan laba bersih sebesar 14% menjadi Rp 1,54 triliun pada 2025 dari Rp 1,81 triliun pada 2024. Namun, pendapatan perusahaan tumbuh sebesar 2,89% menjadi Rp 12,13 triliun. Pembiayaan konsumen memberikan kontribusi terbesar, yaitu sebesar Rp 7,56 triliun, yang tumbuh 5% secara tahunan.

Pendapatan sewa pembiayaan melonjak 58% menjadi Rp 421,51 miliar, namun total beban juga meningkat sebesar 6% menjadi Rp 10,14 triliun. Total aset Adira Finance tumbuh tipis sebesar 0,40% menjadi Rp 38,53 triliun pada akhir 2025.

PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI)

PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) mengalami penurunan laba bersih sebesar 24% menjadi Rp 8,35 miliar pada 2025 dari Rp 11,04 miliar pada 2024. Penurunan ini terjadi meskipun pendapatan tumbuh sebesar 4,50% menjadi Rp 15,30 miliar. Beban FUJI meningkat drastis sebesar 340% menjadi Rp 5,55 miliar.

Pendapatan bunga meningkat 114% menjadi Rp 3,15 miliar, sedangkan pendapatan lain-lain melonjak 459% menjadi Rp 4,15 miliar. Total aset FUJI tumbuh sebesar 7% menjadi Rp 188,90 miliar pada akhir 2025.

PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN)

PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 1,20% menjadi Rp 212,22 miliar pada 2025 dari Rp 214,80 miliar pada 2024. Pendapatan CFIN turun sebesar 9,29% menjadi Rp 1,63 triliun. Pendapatan pembiayaan konsumen turun 9,83% menjadi Rp 1,19 triliun, meskipun pendapatan sewa pembiayaan tumbuh 8,25% dan pendapatan dari jual dan sewa balik melonjak 67,02%.

Beban CFIN turun menjadi Rp 1,36 triliun dari Rp 1,52 triliun pada 2024. Total aset perseroan turun sebesar 5,83% menjadi Rp 9,53 triliun pada akhir 2025.

PT Federal International Finance (FIF)

Di tengah kondisi yang sulit, PT Federal International Finance (FIF) berhasil mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 4% menjadi Rp 4,63 triliun pada 2025 dari Rp 4,42 triliun pada 2024. Pendapatan FIF meningkat sebesar 11,19% menjadi Rp 13,51 triliun. Kontributor utama berasal dari pembiayaan konsumen yang tumbuh 14% menjadi Rp 10,89 triliun.

Penghasilan bunga dan denda juga meningkat sebesar 11% menjadi Rp 203,11 miliar. Beban perusahaan meningkat sebesar 16,64% menjadi Rp 7,56 triliun, namun pertumbuhan pendapatan tetap mampu menopang kenaikan laba. Total aset FIF tumbuh sebesar 13% menjadi Rp 51,88 triliun pada akhir 2025.

Perspektif Analis

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menyatakan bahwa 2025 menjadi tahun yang cukup berat bagi industri multifinance akibat melemahnya daya beli, perlambatan pembiayaan baru, serta biaya dana yang tinggi. Ia memprediksi bahwa peluang perbaikan akan mulai terbuka pada 2026 jika suku bunga stabil dan permintaan kredit pulih.

Menurut dia, kunci kinerja emiten multifinance pada 2026 akan ditentukan oleh kualitas kredit, kemampuan menjaga margin, serta efisiensi pendanaan. Sentimen positif bisa datang dari rebound konsumsi dan likuiditas yang lebih longgar.

Ia menyarankan untuk tetap selektif dalam memilih emiten multifinance yang memiliki neraca kuat, NPL terjaga, dan manajemen konservatif. Di fase seperti ini, ketahanan lebih penting daripada ekspansi agresif.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan, menilai bahwa 2026 masih dalam fase transisi. Meski ada peluang perbaikan seiring tren suku bunga yang lebih rendah dan perbaikan permintaan kredit, pemulihan dinilai belum merata dan pelaku industri masih akan mengutamakan kualitas aset.

Ia menilai bahwa perusahaan pembiayaan umumnya masih menjaga underwriting dan memperketat seleksi debitur, sehingga ruang akselerasi pertumbuhan belum tentu langsung lebar. Perbaikan data wholesales kendaraan pada awal 2026 dinilai dapat menjadi katalis bagi pembiayaan kendaraan karena pipeline pembiayaan akan ikut bergerak dan utilisasi jaringan distribusi menjadi lebih sehat.

Untuk rekomendasi saham, Ekky merekomendasikan emiten BFIN dan ADMF karena dinilai relatif lebih solid dari sisi kualitas portofolio, disiplin manajemen risiko, serta kemampuan menjaga biaya dana dan margin di fase pemulihan. Ia memasang target harga saham ADMF di kisaran Rp 10.000 – Rp 10.400 untuk jangka menengah, sedangkan BFIN diproyeksikan ke level Rp 900 – Rp 950 dengan pendekatan selektif dan disiplin mengantisipasi volatilitas pasar.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *