JAKARTA.
Emiten sektor telekomunikasi diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja selama Ramadan dan Idulfitri. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya volume lalu lintas data pada momen tersebut.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menjelaskan bahwa secara historis, lonjakan lalu lintas data selama Ramadan berkisar antara 15% hingga 20%. Pada tahun 2025, trafik broadband Telkomsel meningkat sekitar 12% dibanding kondisi hari biasa dan naik 15% secara year on year (yoy) atau tahunan.
Namun, dampaknya terhadap pendapatan lebih terbatas karena dominasi paket promo. Estimasi rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) hanya naik sekitar 2% hingga 5% secara quarter on quarter (qoq).
Sukarno menambahkan bahwa momentum Ramadan lebih berperan sebagai katalis ARPU daripada penambahan pelanggan. Hal ini dikarenakan penetrasi pasar seluler yang sudah matang dan fokus operator pada kualitas pelanggan.
Ia memberikan contoh proyeksi kontribusi data saat Ramadan dan Idulfitri terhadap pendapatan di kuartal I-2026. Kemungkinan besar kontribusinya di atas 5% dari total pendapatan yang biasanya mencapai 49% untuk PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa IPOT telah melakukan survei kinerja sektor telekomunikasi. Ia mencatat bahwa PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) meningkatkan ARPU melalui paket dengan harga lebih tinggi meskipun hasil data lebih rendah.
Untuk XL, pada segmen pengeluaran Rp 50.000, harga paket rata-rata naik 10% secara bulanan (month on month/mom) per Januari 2026, setelah peluncuran XL Ultra 5G+ (seharga Rp 250.000 – Rp 300.000). Meskipun yield lebih rendah yaitu Rp 0,6 – 0,8/MB, yield Bebas Puas 1GB – 2GB naik 100% – 200%, sehingga meningkatkan yield keseluruhan sebesar 10% secara bulanan.
Untuk Smartfren, rata-rata harga paket turun 2% dan yield rata-rata turun 6% secara bulanan karena peluncuran produk baru. Meskipun hasil untuk tiga paket kuota yang sudah ada naik 9% sampai 29% secara bulanan.
Lalu, untuk Axis, harga paket rata-rata naik 41% dan yield paket rata-rata naik 39% secara bulanan di seluruh segmen pengeluaran Rp 50.000 menyusul penawaran baru. “Pada segmen pengeluaran konsumen lebih dari Rp 50.000, enam penyesuaian harga paket data dilakukan pada Januari 2026 dengan kisaran antara harga yang turun Rp 1.500 hingga harga paket data yang naik Rp 5.000,” ujar Aurelia.
Kemudian terkait PT Indosat Tbk (ISAT), Aurelia melihat tidak ada perubahan untuk IM3, dengan sedikit perubahan pada Tri. Untuk kartu SIM IM3 dengan pengeluaran bulanan Rp 50.000, tidak ada perubahan pada harga paket rata-rata atau yield data. Untuk Tri, rata-rata harga paket dan yield turun masing-masing sebesar 3% dan 1% secara bulanan per Januari 2026 karena diperkenalkannya dua paket baru.
Selanjutnya terkait PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), Aurelia melihat yield stabil di segmen pengeluaran Rp 50.000 karena yield yang turun 13% secara bulanan dan harga paket naik 18% secara bulanan. Hal itu karena peluncuran paket dengan yield lebih rendah dan kenaikan harga selektif.
Adapun untuk by.U dan TSEL Lite, yield masing-masing meningkat sebesar 78% dan 2,4% secara bulanan per Januari 2026, setelah peluncuran paket baru.
Secara keseluruhan, strategi TLKM untuk melindungi yield di segmen konsumen bawah sambil meningkatkan ARPU melalui pengeluaran yang lebih tinggi di segmen konsumen atas, meskipun dengan yield yang lebih rendah.
“Pada Januari 2026, EXCL dan TSEL berupaya meningkatkan ARPU melalui paket dengan harga lebih tinggi meskipun yield data lebih rendah. Penawaran ISAT stabil dari bulan ke bulan,” jelas Aurelia.
Kafi Ananta, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memperkirakan operator jaringan seluler akan memasuki fase pertumbuhan yang lebih rasional pasca-konsolidasi pada tahun 2026, dengan tingkat churn yang lebih rendah setelah rasionalisasi paket awal dan peningkatan ARPU lebih lanjut.
“Kami memperkirakan upaya penyesuaian harga akan berlanjut hingga tahun 2026 karena operator mengalihkan fokus dari akuisisi pelanggan ke monetisasi perpanjangan kontrak,” ujar Kafi dalam risetnya pada 17 Desember 2025.
TLKM Chart
by TradingView
Dengan pendapatan dari paket data yang masih 9% – 15% di bawah rata-rata 3 tahun dan biaya data di Indonesia tetap sangat terjangkau, Kafi meyakini sektor telekomunikasi memiliki ruang yang jelas untuk peningkatan pendapatan.
“Sementara itu, lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz yang akan datang dan meningkatnya kebutuhan investasi 5G akan semakin memperkuat disiplin harga pada tahun 2026,” ucap Kafi.
Terkait rekomendasi, Sukarno merekomendasikan Buy saham TLKM dengan target harga Rp 4.000 per saham. Aurelia merekomendasikan Buy saham EXCL dengan target harga Rp 5.120 per saham. Sementara Kafi merekomendasikan Buy saham ISAT, TLKM, dan EXCL dengan target harga masing-masing Rp 3.000 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 4.100 per saham.











