My WordPress Blog
Bisnis  

Musim Manten dan Ujian, Pesanan di Rumah Buket Centika Bangkalan Tak Pernah Berhenti

Perubahan Tren Buket di Bangkalan: Dari Bunga Segar ke Hadiah Kreatif

Di tengah perayaan tradisional dan momen spesial, tren buket di Kabupaten Bangkalan kini mengalami transformasi yang signifikan. Dari sekadar simbol pernikahan tradisional, buket kini menjadi bentuk apresiasi emosional atau hadiah personal yang kreatif dan praktis. Berbagai bahan seperti uang kertas, snack, boneka, hingga cokelat mulai digunakan untuk memperkuat pesan dan makna tersembunyi dalam setiap buket.

Rumah Buket Centika, yang berada di Kampung Jaddih Pasar, Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Bangkalan, telah menjadi salah satu tempat yang menawarkan inovasi dalam pembuatan buket. Pemiliknya, Khusnul Hotimah atau yang akrab disapa Mbak Centika, awalnya hanya membuat buket sebagai iseng. Namun, kini usaha ini telah berkembang pesat dengan jumlah pesanan mencapai sekitar 100 buket per bulan, terutama pada musim hajatan dan momen haflatul imtihan siswa madrasah.

Bahan-Bahan yang Digunakan dalam Pembuatan Buket

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan buket tidak lagi terbatas pada bunga segar. Kini, banyak pemesan memilih bahan-bahan seperti bunga artificial, bunga kering, lembaran uang kertas, snack, serta berbagai jenis kemasan seperti cellophane paper, kertas plastik tahan air, kain spunbond, kain tisu, kertas kraft, dan kain jaring.

Untuk dasar buket, tersedia berbagai bahan seperti floral foam, tusuk sate, kardus, lem tembak, dekorasi, pita satin, kawat bunga, boneka, dan topper. Biaya pembuatan buket juga bervariasi tergantung dari kelengkapan pernak-perniknya. Misalnya, penggunaan 5 hingga 10 lembar uang kertas bisa dikenakan biaya antara Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per buket, sedangkan untuk 15 hingga 20 lembar uang, biayanya mencapai Rp40 ribu hingga Rp45 ribu.

Penggunaan Uang Kertas dalam Buket

Tidak hanya uang kertas rupiah, beberapa pesanan juga menggunakan mata uang dollar. Biasanya, uang kertas ini disediakan oleh pihak pemesan, terutama untuk buket yang digunakan dalam acara hajatan pernikahan keluarga pelayaran. Penggunaan uang kertas dalam buket menjadi cara unik untuk menyampaikan pesan dan makna tertentu.

Awal Mula Usaha Rumah Buket Centika

Awal mula usaha Mbak Centika dimulai dari keinginan untuk membuat buket mawar dengan ornamen bunga berbahan kertas dan beberapa lembar uang kertas pecahan Rp20 ribu. Awalnya, buket ini dibuat untuk kebutuhan sendiri saat hajatan saudara di kampung. Tutorial yang digunakan berasal dari media sosial. Hasil buket pertamanya ternyata menarik perhatian orang-orang yang hadir di kondangan.

Perlahan, permintaan mulai datang dari lingkungan keluarga Mbak Centika seperti sepupu, keponakan, dan event-event pernikahan teman dekat. Awalnya, produksinya terbatas hanya 10 buket per bulan. Namun, seiring waktu, minat masyarakat meningkat dan jumlah pesanan pun bertambah.

Pemasaran Melalui Media Sosial

Selain dari mulut ke mulut, Mbak Centika juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook, TikTok, dan grup WhatsApp untuk memasarkan produknya. Ia mulai memposting karya buket sejak tahun 2022. Awalnya, pemesan hanya berasal dari lingkungan desa, namun sekarang sudah mencakup lintas kecamatan.

Kini, warga kampung tidak perlu pergi ke kota karena di desa sudah tersedia produksi buket yang elegan dan anggun, bahkan tidak kalah dengan karya yang ada di kota.

Keleluasaan dalam Berekspresi

Pelanggan, Rina Agustina, mengungkapkan bahwa keputusan memilih Rumah Buket Centika bukan hanya karena hasilnya yang rapi dan anggun, tetapi juga karena keleluasaan dalam berekspresi melalui kemasan buket. Ia sering memesan buket dengan model apa saja sesuai kebutuhan, baik untuk hajatan pernikahan, pertunangan, maupun keperluan wisuda dan haflatul imtihan.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *