My WordPress Blog
Bisnis  

Kisah Eddy Sudarsono, Petani Paprika Sukses dari Mantan Kuli Tani di Lereng Bromo



PASURUAN,

Di balik hawa sejuk lereng Gunung Bromo, tepatnya di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, tersimpan harta karun hijau yang tak banyak diketahui orang. Wilayah ini menjadi satu-satunya sentra penghasil paprika di Provinsi Jawa Timur. Di sinilah sosok Eddy Sudarsono (42), warga Dusun Yitnan, Desa Tlogosari, mendedikasikan hidupnya menjadi petani paprika.

Perjalanan Awal Seorang Petani

Siapa sangka, pria yang kini mengelola ribuan pohon paprika ini mengawali kariernya bukan sebagai pemilik lahan, melainkan seorang kuli pembersih kebun. Perjalanan Eddy dimulai pada tahun 2000. Saat itu, ia bekerja pada seorang warga negara Belanda yang membuka usaha pertanian di Tutur. “Awalnya saya cuma tukang bersih-bersih, istilah mburuh atau kuli tani,” kenang Eddy saat ditemui di sela-sela panen, Senin (26/1/2026).

Ketekunan dan peluh keringatnya kini berbuah manis. Dari sekadar menyapu dan membersihkan area, ia dipercaya menjadi tenaga khusus pembenihan paprika. Selama 12 tahun (2000-2012), sembari bekerja Eddy juga mempelajari dengan teliti pengetahuan tentang bagaimana komoditas premium ini harus diperlakukan. Barulah pada 2013, ia memberanikan diri menjadi petani paprika secara mandiri, tidak lagi ikut orang lain.

Membangun Usaha dari Nol

Dengan modal seadanya, ia membangun green house ukuran sedang. Pasang surut dan risiko gagal panen ia telan sebagai “uang sekolah” menjadi petani profesional. Kini, Eddy mengelola sekitar 4.000 pohon paprika di 2 green house miliknya. Pemandangan di dalam kebunnya sungguh memanjakan mata; gradasi warna hijau, merah, hingga kuning tampak kontras di antara dedaunan.

Hasil kerja kerasnya pun terbayar tunai. Dari kebunnya ini, Eddy mampu meraup omzet kotor hingga Rp 30 juta per bulan. “Setelah dipotong biaya tenaga kerja dan perawatan, bersihnya sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Ya alhamdulillah, bisa untuk tabungan dan memperluas kebun,” kata Eddy.

Harga dan Permintaan yang Menguntungkan

Harga paprika di tingkat petani memang tergolong stabil dan menggiurkan. Untuk harga paprika hijau antara Rp 22.000 – Rp 25.000 per kilogram. Selanjutnya harga paprika merah yakni Rp 35.000 per kilogram dan paprika kuning Rp 45.000 per kilogram. “Sedangkan permintaan yang paling banyak yakni paprika hijau,” tambahnya.

Pangsa pasarnya pun tak main-main, sebagian besar dikirim di luar Pasuruan. Paprika banyak diperlukan untuk hotel atau rumah makan atau hotel di Surabaya, Jakarta, Kalimantan bahkan Papua. Bahkan, sebagian ‘pemain sayur’ datang langsung ke kebun sehingga Eddy tak perlu pusing memikirkan distribusi.

Berkontribusi pada Masyarakat

Menjadi mentor dan mengangkat ekonomi desa. Eddy tidak ingin sukses sendirian. Kini, ia dibantu dua orang pekerja dan aktif menjadi pembina bagi petani lain di desanya. Ia memberikan edukasi agar warga sekitar bisa ikut merasakan manisnya budidaya paprika.

Berdasarkan data, di Desa Tlogosari kini terdapat 40 petani paprika, sementara di seluruh Kecamatan Tutur total ada sekitar 60 petani yang menggantungkan hidup dari komoditas ini. Camat Tutur, Hendi Candra Wijaya, mengonfirmasi wilayahnya yang berada di ketinggian 900 mdpl adalah lokasi ideal bagi ratusan ribu tanaman paprika. “Di Kecamatan Tutur ini memang gudangnya paprika nasional. Kami berharap sektor ini terus berkembang untuk kesejahteraan masyarakat sekitar,” ujar Hendi.

Kesimpulan

Kisah Eddy adalah bukti bahwa kerja keras dan kemauan untuk belajar bisa mengubah nasib dari seorang pekerja kasar menjadi pengusaha atau petani sukses yang memberi manfaat bagi banyak orang. Dengan dedikasi dan ketekunan, ia telah membuktikan bahwa potensi di daerah terpencil bisa menjadi sumber kekayaan jika dikelola dengan baik.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *