My WordPress Blog
Daerah  

15 Tahun Merawat Jogja Istimewa

Sejarah Perjalanan Tribun Jogja dalam Dunia Media

Tribun Jogja, sebuah media yang lahir pada masa ketika platform cetak sedang berada di puncak kejayaannya, justru memilih untuk menjadi pionir dalam dunia digital. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Tribun Jogja adalah salah satu media pertama di Jogja yang tidak menyediakan perangkat komputer atau laptop bagi tim reporter di lapangan. Hal ini menunjukkan visi dan strategi yang sangat progresif dari awal berdirinya.

Pada saat peluncuran perdana pada 1 April 2011, setiap reporter diberikan Blackberry sebagai alat kerja. Saya tidak ingat secara pasti seri apa yang diberikan, namun saya masih ingat bahwa Blackberry yang sedang populer saat itu memiliki ciri khas keyboard fisik QWERTY. Penggunaan Blackberry ini bukanlah hadiah gratis, melainkan merupakan alat kerja yang harus dibayar sebagian oleh masing-masing reporter. Setengah biayanya ditanggung oleh kantor, sementara setengahnya lagi dibayarkan oleh reporter dengan cara mengangsur.

Meski sudah lima belas tahun lalu, saya masih ingat betul bagaimana para reporter Tribun Jogja terlihat berbeda dan sering dianggap aneh oleh rekan-rekan dari media lain. Selain gawai yang mereka bawa cukup mumpuni, reporter Tribun Jogja juga dikenal sebagai orang-orang yang selalu tampak sibuk. Budaya digital menuntut mereka untuk selalu menjadi yang pertama dalam melaporkan suatu peristiwa. Dengan perangkat kerja yang mumpuni, mereka tidak bisa menghindari tuntutan kerja yang cepat namun tetap akurat.

Ketika tugas menjadi yang pertama melaporkan di platform digital, para reporter Tribun Jogja tidak langsung selesai bertugas. Mereka masih dituntut untuk mencari sudut pandang unik dan menarik agar dapat dikemas dalam bentuk berita cetak. Pendekatan micro people menjadi kekuatan utama yang membedakan Tribun Jogja cetak, sehingga dalam usianya yang belum genap lima tahun, Tribun Jogja telah menjadi market leader.

Strategi pasar yang tepat membuat oplah Tribun Jogja kala itu mencapai angka 80 ribu eksemplar. Angka ini adalah oplah riil, bukan sekadar angka psikologis. Saya yakin, oplah tersebut adalah yang terbesar di antara koran-koran cetak yang beredar di Jogja dan bahkan Jawa Tengah.

Perjalanan manis ini harus terhenti karena masuknya tahun 2017 hingga 2020, ketika disruptor media mulai terjadi. Perubahan cara audiens mengakses berita dari platform analog ke digital menjadi tantangan besar. Namun, Tribun Jogja yang telah disiapkan untuk menghadapi badai ini mampu bertahan hingga usianya menginjak 15 tahun pada 11 April 2026 lalu.

Saya ingin menyampaikan bahwa kami bertahan dengan cara yang gentleman, artinya tetap menjaga integritas baik sebagai organisasi media maupun komitmen sebagai perusahaan media yang taat terhadap UU ketenagakerjaan. Lima belas tahun telah kami lewati, dan saya yakin tantangan ke depan akan jauh lebih menantang. Disrupsi yang semakin tak terkendali, serta situasi politik lokal dan global yang rentan berimbas pada stabilitas ekonomi yang labil, menjadi tantangan besar.

Saya percaya, semua pemimpin media merasakan tantangan ini. Namun yang perlu saya garisbawahi adalah, entitas media harus tetap ada untuk menjaga kewarasan peradaban yang semakin sulit dicerna dengan akal sehat. Tribun Jogja, baik dalam bentuk cetak, website, maupun pengembangan di platform video dan media sosial, harus tetap ada untuk menjaga keseimbangan peradaban. Saya percaya hal ini juga berlaku untuk media mainstream lainnya di Jogja yang berusaha terus bertahan demi nilai-nilai yang kami yakini bersama.

Terima kasih atas kontribusi Anda dalam 15 tahun perjalanan Tribun Jogja. Saya percaya, kami harus tetap ada, dan kami akan tetap ada untuk Jogja yang istimewa.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *