My WordPress Blog
Daerah  

Fadli Zon Belanja Barang Lawas di Pasar Kangen Yogya

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Belanja Barang Antik dan Dokumen Sejarah di Pasar Kangen

Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakukan pembelian sejumlah barang antik dan dokumen sejarah senilai lebih dari Rp10 juta saat mengunjungi ajang Pasar Kangen yang berlangsung di Lodji Paris, Jalan Parangtiritis, Yogyakarta, pada Sabtu malam, 28 Maret 2026.

Selama kunjungan tersebut, Fadli Zon mengunjungi lapak Mubeng Art milik pedagang spesialis dokumen, Toni Lubis. Menurut Toni, total nilai barang yang dibeli oleh Menteri Fadli Zon mencapai sekitar Rp10 juta lebih, dengan kebanyakan berupa dokumen, buku, dan foto.

Koleksi Foto dan Dokumen Langka

Salah satu koleksi paling mahal yang dibeli oleh politikus Partai Gerindra itu adalah 50 lembar foto hitam putih asli sosok Sarwo Edhie Wibowo senilai Rp 5 juta. Sarwo Edhie merupakan ayah mertua mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah menjabat sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD—sekarang Kopassus). Foto-foto Sarwo Edhie tersebut berukuran 3R, berasal dari era tahun 1960 hingga 1970-an. Menurut Toni, foto-foto ini merupakan barang bersejarah yang harganya sangat murah untuk nilai sejarahnya.

Selain koleksi foto, Fadli Zon juga membeli berbagai dokumen cetak langka. Di antaranya adalah Majalah Mimbar Indonesia terbitan tahun 1946 hingga 1951, Majalah Pustaka Rakyat tahun 1930-an, serta Majalah berbahasa Cina dari tahun 1920-an. Tak hanya dokumen kertas, sebuah benda berbahan kayu berupa logo bertuliskan “Hobo” lambang Keraton Yogyakarta dari tahun 1989 juga turut diboyong Fadli Zon.

Menurut Toni, Fadli Zon menunjukkan ketertarikan besar terhadap benda-benda yang memiliki rekam jejak sejarah Indonesia. Sebagai pedagang spesialis dokumen, Toni mengaku mendapatkan koleksi-koleksi tersebut dari hasil berburu di berbagai tempat. Ia juga diketahui aktif dalam pelestarian budaya melalui karya film dokumenter berjudul Dluwang yang mengangkat sejarah kertas tradisional.



Suasana keramaian di Pasar Kangen Yogyakarta, 28 Maret 2026. Tempo/Pribadi Wicaksono

Ruang Rekreasi dan Edukasi

Fadli Zon menyatakan bahwa Pasar Kangen Yogyakarta bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga ruang edukasi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa di pasar tersebut tersedia buku tua, majalah tua, barang-barang jadul (jaman dulu), hingga mainan tradisional. Menurutnya, ruang tersebut lengkap dan menarik dikunjungi saat libur Lebaran seperti ini.

Fadli juga menyoroti potensi besar Pasar Kangen untuk dikembangkan menjadi acara lebih intens yang dilakukan berkala. Ia membandingkan konsep pasar barang antik tersebut dengan budaya di beberapa negara Eropa. Ia mengatakan, “Kalau di negara-negara di Eropa, ini bisa dilakukan tiap minggu, seperti di Perancis, yang digelar di berbagai tempat, pindah-pindah.”

Ia berharap Pasar Kangen dapat memiliki asosiasi atau kelompok yang terorganisir untuk berpindah lokasi secara rutin sehingga jangkauan manfaatnya kepada masyarakat dan pedagang UMKM bisa lebih luas.

Tradisi Syawalan

Inisiator Pasar Kangen Yogyakarta, Ong Hari Wahyu, menegaskan bahwa Pasar Kangen kali ini mengusung tradisi Syawalan karena bertepatan dengan libur Lebaran. Pasar Kangen yang digelar dari tanggal 23 Maret hingga 5 April 2026, menjadi momentum menyediakan ruang pertemuan atau silaturahmi bagi warga yang ingin melepas rindu melalui kuliner tradisional, kerajinan lawas, serta berbagai hiburan rakyat yang kini semakin jarang ditemui di ruang publik.

Pengunjung yang hadir dapat menikmati sajian autentik seperti jadah tempe, sate klathak, hingga jamu gendong, sembari menyaksikan pertunjukan seni seperti ketoprak, wayang, dan musik keroncong yang dipentaskan di panggung hiburan setiap malam.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *