Peran Garpu Sendok dalam Penanganan Eceng Gondok di Situ Darma
Sejumlah personil yang tergabung dalam Gerakan Bersama Penanganan Eceng Gondok (Garpu Sendok) menyatakan kesiapan mereka untuk membantu dalam penanganan pencemaran tanaman liar eceng gondok di kawasan wisata Situ Darma Kabupaten Kuningan. Relawan ini berada di bawah komando Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, dengan pengarahan dari Bidang Perikanan. Mereka dapat dikerahkan untuk membantu dalam upaya penanganan pencemaran di kawasan wisata Waduk Darma.
Personil Garpu Sendok terdiri dari para petugas lapangan yang dipimpin oleh Kapala Bidang (Kabid) Perikanan, Denny Riyanto. Diperkirakan hamparan eceng gondok di perairan umum tersebut mencapai sekitar satu hektar, yang cukup berdampak terhadap pencemaran air Situ maupun kawasan obyek wisata Waduk Darma. Jika tidak segera dilakukan penanganan secara serius, maka tanaman liar tersebut akan cepat atau lambat menutupi keindahan perairan umum itu.
Meski sejumlah pihak terkait sempat melakukan gerakan pembersihan eceng gondok dengan membuangnya ke tempat lain, pertumbuhan tanaman liar tersebut sangat cepat, sehingga kembali tumbuh memadati tepi pantai Situ Darma. Pemerintahan desa bersama warga, OPD terkait, relawan maupun pihak lainnya sempat melakukan gerakan pembersihan atas pencemaran yang mengganggu pemandangan itu, namun tidak lama kemudian eceng gondok kembali menjalar hingga bibir pantai maupun sudut-sudut Waduk Darma.
Dampak Eceng Gondok pada Lingkungan dan Ekosistem
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, H Asep Taufik Rachman, melalui Kepala Bidang (Kabid) Perikanan, Denny Riyanto, mengungkapkan bahwa kondisi lingkungan perairan umum Waduk Darma saat ini tak luput dari serangan tanaman gulma dari jenis Eceng Gondok. Pertumbuhan tanaman liar tersebut bisa menjadi salah satu parameter kualitas air Situ yang menunjukkan bahwa kondisi perairan sangat subur atau eutrofikasi.
“Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem lingkungan perairan dan aktifitas pemanfaatan sumberdaya perairan lainnya. Seperti ketersediaan air bersih bagi masyarakat, baik untuk usaha budidaya perikanan, penangkapan ikan, jasa pariwisata dan usaha pemanfaatan sumber daya air lainnya. Tanaman liar Eceng Gondok ini merupakan salah satu spesies invasif berdasarkan peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan republik indonesia,” ujar Denny.
Pendekatan Holistik dalam Pengelolaan Eceng Gondok
Menurut keterangan, upaya penanganan permasalahan Eceng Gondok di perairan umum Waduk Darma memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Perlu dikembangkan strategi pengelolaan yang efektif untuk mengatasi pertumbuhan eceng gondok secara berkelanjutan. Langkah-langkah penanganan yang dapat diambil mencakup penerapan metode kontrol biologis atau mekanis untuk mengendalikan pertumbuhan Eceng Gondok, seperti penggunaan predator alami atau teknologi inovatif. Selain itu, upaya konservasi habitat perlu ditingkatkan untuk memastikan keberlanjutan ekosistem air.
Langkah-langkah edukasi juga diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak Eceng Gondok dan pentingnya menjaga kelestarian Waduk Darma. Dalam konteks ini, perlu juga adanya kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten, lembaga penelitian, LSM peduli lingkungan dan masyarakat lokal untuk merancang kebijakan yang mendukung pengelolaan waduk secara berkelanjutan.
Partisipasi Aktif Komunitas Lokal
Dalam mengatasi permasalahan Eceng Gondok ini, perlu adanya partisipasi aktif dari komunitas lokal menjadi kunci utama. Komunitas ini terdiri dari para pemerhati lingkungan, nelayan, pembudidaya ikan, dan warga sekitar waduk yang peduli terhadap ekosistem Situ dengan pengakuan dan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Komunitas ini dapat menjadi kekuatan positif dalam penerapan kebijakan pengelolaan waduk berkelanjutan.
Melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan pengelolaan Eceng Gondok juga memungkinkan pemantauan lokal yang lebih efektif terhadap potensi pelanggaran kebijakan lingkungan.
Masalah Tambahan di Situ Darma
Selain pencemaran lingkungan Situ oleh tanaman liar Eceng Gondok, ada beberapa usaha perikanan Kolam Jaring Apung (KJA) yang tidak aktif lagi. Peralatan yang ditinggalkan di atas permukaan air Situ cukup mengganggu dan membuat “sareukseuk” (tidak indah dipandang mata) jika berserakan tanpa ada penanganan. Para pihak terkait merencanakan akan melakukan penataan kembali terhadap KJA yang terhenti usahanya. Kurang lebih 5000 lebih KJA hingga kini masih memadati Situ Darma, sedangkan target pemerintah daerah idealnya KJA tersebut cukup 2500 unit saja.











