My WordPress Blog
Daerah  

Antisipasi Cuaca Ekstrem, Pemkot Yogyakarta Perpanjang Status Siaga Bencana

Pemkot Yogyakarta Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana Hingga Akhir Maret 2026

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta akhirnya resmi memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga akhir Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa masih ada potensi cuaca ekstrem hingga bulan Maret-April.

Status siaga darurat sebelumnya berakhir pada akhir Februari 2026 lalu. Untuk perpanjangan, pihak BPBD Kota Yogyakarta sedang menunggu penerbitan surat keputusan (SK) yang ditandatangani langsung oleh kepala daerah. Darmanto, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, mengatakan bahwa perpanjangan status siaga darurat yang diajukan selama satu bulan, saat ini masih menunggu SK-nya terbit.

“Perpanjangan (status siaga darurat) yang kami ajukan satu bulan, sekarang masih menunggu SK-nya terbit. Semoga bisa minggu ini,” ujarnya.

Catatan Kebencanaan di Yogyakarta

Berdasarkan data BPBD, selama Januari hingga Februari 2026, tercatat 98 insiden kebencanaan yang terjadi di wilayah Kota Yogyakarta. Rentetan kejadian tersebut didominasi oleh dampak cuaca ekstrem, seperti hujan deras yang disertai angin kencang, yang menyebabkan pohon tumbang hingga atap rusak.

Terbaru, sebuah pohon Flamboyan berukuran besar dilaporkan tumbang dan menimpa rumah milik penduduk di Kelurahan Notoprajan, Kemantren Ngampilan, Minggu (8/3/2026) siang. Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi sesaat setelah cuaca ekstrem melanda kawasan tersebut antara pukul 13.00-15.00 WIB.

“Pohon yang tumbang jenis Flamboyan dengan dimensi cukup besar, tinggi sekitar 15 meter dan diameter 2 meter. Penyebab utamanya hujan deras disertai angin kencang,” ujarnya.

Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, pohon tersebut menimpa struktur bangunan berupa atap joglo berukuran 6 x 3 meter serta satu unit kamar tidur berukuran 4 x 5 meter. Tak hanya merusak bangunan, dahan pohon yang melintang juga sempat mengenai kabel listrik di sekitar lokasi kejadian, yang sempat memicu kekhawatiran terkait korsleting.

“TRC BPBD langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan asesmen dan proses evakuasi pemotongan batang pohon. Saat ini statusnya sudah terkondisi,” imbuhnya.

Ancaman Potensi Cuaca Ekstrem

Sebelumnya, BPBD DIY juga menyebut potensi cuaca ekstrem masih bisa terjadi dalam beberapa waktu ke depan, termasuk di wilayah Kota Yogyakarta. BPBD DIY pun berencana memperpanjang masa Siaga Darurat Bencana, termasuk saat masa mudik-balik Lebaran 2026.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Ruruh Haryanta, mengungkapkan bahwa perpanjangan status ini didasarkan pada analisis potensi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan membayangi wilayah transisi menuju musim kemarau. Berdasarkan data BMKG, meski puncak musim hujan terjadi pada Januari dan Februari, ancaman cuaca ekstrem belum sepenuhnya hilang pada bulan Maret dan April 2026.

“Siaga darurat yang terakhir ini berlaku sampai dengan 19 Maret. Nah, ini paling kita perpanjang satu bulan, kurang lebih di 19 April. Setelah itu saya kira sudah tidak perlu diperpanjang karena kita sudah pasti bisa melihat itu mungkin sudah melandai,” kata Ruruh.

Prediksi Puncak Musim Hujan

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menyebut sebagian wilayah di DIY telah memasuki puncak musim hujan pada Januari 2026. Namun beberapa wilayah lainnya mengalami puncak musim hujan sedikit mundur yakni pada Februari 2026.

Reni menyebut pada umumnya sebagian besar wilayah di DIY sudah memasuki puncak musim hujan pada Januari lalu. “Untuk wilayah DIY, Puncak hujan umumnya Januari. Hanya sebagian kecil wilayah di DIY yang puncak hujan di Februari,” katanya.

Meski demikian dia menyebut curah hujan pada dasarian I Maret 2026 kali ini termasuk kriteria menengah, yaitu dengan intensitas 50-150 mm/dasarian atau per sepuluh hari. Dalam kurun waktu dasarian tersebut, menurut Reni, dapat berpeluang terjadi hujan dengan intensitas rendah hingga sedang per harinya di wilayah DIY.

“Karena saat ini masih masuk musim hujan, dimana monsun asia atau angin baratan masih aktif bertiup ke wilayah Indonesia,” ujarnya.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *