My WordPress Blog
Daerah  

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Terus Meluas, Dosen UGM Ungkap Penyebabnya

Penelitian Mengenai Lubang Raksasa di Aceh Tengah

Seorang dosen Teknik Geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Salahuddin Husein, turut serta dalam penelitian terkait lubang raksasa yang muncul di Aceh Tengah. Lubang besar tersebut kini telah mencapai luas sekitar 3 hektare dan berada di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Keberadaan lubang yang semakin melebar menimbulkan kehebohan dan kegundahan di kalangan warga setempat.

Pergerakan tanah yang dicatatkan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mulai terjadi sejak tahun 2011. Namun, fenomena ini bukanlah sinkhole seperti yang sempat dikira sebelumnya. Saat ini, lubang seluas lebih dari 30 ribu meter itu dilaporkan mengancam infrastruktur sekitar. “Dampak yang terkena adalah infrastruktur jalan dan ladang warga,” ujar Salahuddin Husein kepada Kompas.com.

Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Menurut penjelasan Salahuddin, lubang yang melebar seluas 3 hektare tersebut diduga sebagai piping erosion, bukan sinkhole. Piping erosion atau erosi air bawah tanah yang membentuk saluran serupa pipa, lazimnya terjadi di dasar bendungan atau tanggul sungai. Ngarai, yang merupakan sebutan bagi lembah raksasa dengan tebing terjal, di Aceh Tengah memiliki kemiripan dengan Ngarai Sianok di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Ngarai Ketol disebut sebagai saudara kembar Ngarai Sianok. Menurut Salahuddin, kedua ngarai ini berkembang pada batuan piroklastika (abu dan pasir letusan gunung berapi) muda. Batuan ini bersifat kohesif (rekat), namun mudah dierosi secara vertikal oleh sungai.

Peran Erosi Menghulu

Salahuddin menjelaskan bahwa peran erosi menghulu atau headward erosion menjadi faktor utama dalam pembentukan Ngarai Ketol. Akibat kekuatan erosi sungai pada suatu ngarai, kerap erosi juga berkembang ke arah hulu, menyebabkan ngarai semakin memanjang ke arah lereng atas. Hal ini membuat Ngarai Ketol seolah muncul mendadak, tepatnya setelah banjir bandang yang muncul di kawasan Aceh Tengah pada akhir November 2025 silam.

Pembajakan Sungai dan Kemungkinan Berkembangnya Ngarai

Melihat posisi kemunculan Ngarai Ketol dan arah erosi, Salahuddin mengatakan ngarai tersebut dapat dipastikan bakal terus tumbuh memanjang ke hulu. Perpanjangan ini bisa mencapai lembah Sungai Baleg yang hanya sekitar 500 meter dari Ngarai Ketol. Kondisi ini terjadi karena elevasi Sungai Lampahan dan Ngarai Ketol berada lebih rendah daripada Sungai Baleg, sehingga erosi menghulu Ngarai Ketol niscaya menuju ke lembah Sungai Baleg yang lebih tinggi (hulu).

Dalam beberapa tahun hingga puluh tahun lagi, Ngarai Ketol akan terhubung dengan lembah Sungai Baleg. Titik pertemuan ini kelak dapat disebut sebagai siku penangkapan (elbow of capture). Jika fenomena ini benar terjadi, aliran Sungai Baleg dari arah akan berbelok bergabung dengan Sungai Lampahan. Bagian hilir Sungai Baleg bisa jadi kehilangan aliran airnya. Sungai Baleg ini dapat disebut sebagai sungai terpancung (beheaded stream) karena kehilangan aliran airnya. Apabila lembah Sungai Baleg menjadi lembah kering, maka akan disebut sebagai celah angin (wind gap).

Fenomena ini disebut dengan pembajakan sungai atau stream piracy dalam ilmu geologi atau kebumian. Di mana salah satu sungai akan mati karena alirannya berbelok bergabung dengan sungai lain yang secara hidrologi lebih efisien dalam membawa air dan sedimen karena memiliki lereng aliran yang lebih besar.

Contoh Pembajakan Sungai di Indonesia

Fenomena pembajakan sungai pernah terjadi di Indonesia. Salahuddin menyebutkan, peneliti Belanda menduga pada jutaan tahun lalu aliran utama Bengawan Solo di Jawa Tengah tidak bermuara ke Laut Jawa di utara seperti sekarang ini. Melainkan mengalir ke arah selatan dan bermuara di Samudra Hindia. Alhasil, aliran sungai ke selatan mulai terhambat. Anak-anak sungai di bagian utara (yang bermuara ke Laut Jawa) melakukan erosi mundur yang sangat kuat. Anak sungai ini akhirnya memotong dan membajak jalur utama Bengawan Solo, karena posisi Laut Jawa yang lebih rendah. Aliran Bengawan Solo akhirnya berbelok tajam 180 derajat ke arah utara.

Perlu Belajar dari Sungai Mississippi

Dari fenomena yang terjadi di Aceh Tengah, Salahuddin menyebutkan contoh fenomena pembajakan paling fenomenal dan dramatis. Fenomena yang dimaksud ialah pembajakan Sungai Mississippi oleh Sungai Atchafalaya di Amerika Serikat. Selama ribuan tahun Sungai Mississippi mengalir menuju Teluk Meksiko, di mana endapan sedimennya menjadi tempat berdirinya kota New Orleans. Kekhawatiran pun tumbuh, masyarakat sana was-was akan terjadi matinya ekonomi kota New Orleans karena hilangnya aliran Sungai Mississippi.

3 Langkah Penanganan yang Bisa Dilakukan Indonesia

Salahuddin memaparkan, proses pembajakan sungai bersifat alamiah. Artinya, fenomena tersebut merupakan proses alam. Kalau mau mengendalikan sebagaimana Pemerintah Amerika Serikat terhadap Sungai Mississippi, bakal memerlukan biaya tinggi. Pengendaliannya sebagaimana di Sungai Mississippi membutuhkan biaya yang sangat besar.

Untuk itu, Salahuddin mengatakan ada tiga langkah paling tepat yang bisa dilakukan saat ini:

  • Membiarkan perkembangan erosi menghulu di Ngarai Ketol
  • Menutup jalan raya penghubung Ketol dan Pante Raya yang kini telah terputus, serta meminta masyarakat memutar melalui Kute Panang dan Segene Balik
  • Merelokasi rumah warga terdampak ngarai
Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *