Inisiatif Aeroseeding di Bandung: Kolaborasi Masyarakat dan Pemerang untuk Reboisasi
Di tengah upaya pencegahan bencana alam, kota Bandung kini mengambil langkah inovatif dalam reboisasi. Misi aeroseeding menggunakan pesawat CASSA NC 212 I dilakukan untuk menyebar 5,2 juta bibit tanaman (seberat 8 ton) di lahan kritis seluas 738 hektare. Proses ini dilakukan sebagai bagian dari strategi jangka panjang pemerintah setempat untuk memulihkan ekosistem yang terganggu.
Awal Mula Gagasan Aeroseeding
Gagasan aeroseeding muncul setelah terjadinya bencana longsor di Desember 2025 yang menimpa salah satu kecamatan di Bandung. Bencana tersebut menyebabkan ratusan warga terdampak dan harus mengungsi. Bahkan, tiga korban masih belum ditemukan hingga saat ini. Dari pengalaman tersebut, pemerintah kabupaten mulai berpikir tentang solusi jangka panjang bukan hanya penanganan darurat.
“Pasca bencana kemarin, itu salah satu awal kenapa dilakukan aeroseeding,” kata Bupati Bandung Dadang Supriatna. “Kami berunding, bicara, mengadakan rutin setiap bulan. Nah setelah itu timbul gagasan ini.”
Keterlibatan Masyarakat dalam Pengumpulan Bibit
Meskipun gagasan aeroseeding sudah terbentuk, prosesnya tidak mudah. Salah satu tantangan utama adalah ketersediaan bibit yang cukup. Di sinilah peran masyarakat menjadi penting. Inspirasi datang dari lingkungan sekolah, khususnya saat pembagian rapor. Anak-anak diajak untuk memberikan bibit tanaman sebagai bentuk partisipasi.
“Jadi pada waktu pembagian rapot, anak-anak kami ajak untuk memberikan bibit tanaman. Dan dari situ, terkumpulah 5,2 juta bibit yang tentunya hampir 8 ton, jika ditimbang bersama,” ujarnya.
Dari total bibit yang dikumpulkan, jenis Albasiah dan Gamelina mendominasi. Sisanya berupa bibit tanaman buah-buahan dan kayu-kayuan. Bibit-bibit ini diharapkan dapat memperkuat struktur tanah, menahan erosi, serta memberi manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Area yang Disasar
Penebaran bibit melalui udara difokuskan kepada wilayah-wilayah kawasan kritis dan rawan yang telah dipetakan. Berdasarkan pemetaan, terdapat tiga desa yang mengalami lahan kritis:
- Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari seluas 123 hektare
- Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari seluas 137 hektare
- Desa Girimulya, Kecamatan Pacet dengan luasan sekitar 478 hektare
Total luasan aeroseeding mencapai sekitar 738 hektare. Namun, situasi terutama perbatasan yang tak terjangkau kendaraan juga menjadi pertimbangan. Wilayah seperti dekat Kabupaten Garut, Cianjur, Sumedang, dan Kabupaten Bandung Barat akan menjadi fokus utama.
Kolaborasi Tanpa APBD
Program ini tidak menggunakan anggaran APBD. Sebaliknya, ia didanai melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dengan kolaborasi pola Pentahelix. Ini menunjukkan komitmen penuh dari berbagai pihak, termasuk masyarakat, swasta, dan instansi terkait.
“Ini betul-betul CSR dengan kolaborasi pola Pentahelix. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” ujar Dadang.
Keunggulan Metode Aeroseeding
Metode aeroseeding memang jarang digunakan, namun dinilai efektif untuk melakukan reboisasi di kawasan yang sulit diakses oleh kendaraan darat. Pesawat yang digunakan yaitu CASSA NC 212 I dari Skadron Udara 4 Pangkalan Udara Abdul Rachman Saleh, Malang. Pesawat tersebut akan terbang rendah sambil menabur bibit.
Tantangan dan Harapan
Meski ada tantangan dalam pengumpulan bibit dan pelaksanaan, program ini menunjukkan semangat kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan. Dengan kolaborasi yang kuat, harapan besar diarahkan pada keberhasilan aeroseeding sebagai langkah preventif terhadap bencana alam.











