Kondisi Infrastruktur Pertanian di Bukit Biru yang Mengkhawatirkan
Di wilayah Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, para petani menghadapi tantangan berat dalam menjalankan aktivitas pertaniannya. Salah satu masalah utama adalah kondisi infrastruktur yang sangat memprihatinkan, khususnya jembatan penghubung yang menjadi akses utama untuk mencapai lahan pertanian.
Jembatan yang Membahayakan Keselamatan
Beberapa jembatan yang ada di kawasan tersebut hanya terdiri dari batang pohon tanpa adanya pengamanan. Hal ini membuat keselamatan warga yang melintasi jembatan tersebut sangat rentan terancam. Pada titik tertentu, jembatan berbahan kayu tampak miring dan sudah terlihat rusak akibat usia yang panjang. Kemiringan tersebut menjadi bukti bahwa jembatan tersebut telah digunakan bertahun-tahun tanpa pernah dilakukan perbaikan atau peremajaan.
Kondisi seperti ini tidak hanya membahayakan keselamatan, tetapi juga menghambat produktivitas para petani. Karena jalan-jalan penghubung tidak dapat dilalui kendaraan bermuatan, hasil panen sulit untuk dibawa ke tempat yang lebih strategis. Akibatnya, para petani harus bergantung pada gotong royong untuk mengangkut hasil panen mereka.
Peninjauan Lapangan oleh DPRD Kukar
Komisi II DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara melakukan peninjauan lapangan untuk mengevaluasi kondisi infrastruktur pertanian di Kelurahan Bukit Biru. Dalam kegiatan tersebut, anggota Komisi II seperti Desman Minang Endianto, Sugeng Hariyadi, Mohammad Jamhari, dan M Hidayat turut serta. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Dinas Pekerjaan Umum, perwakilan kecamatan dan kelurahan, Gapoktan Bukit Biru, serta Forum RT.
Peninjauan dilakukan dengan menyusuri hamparan sawah dan meninjau langsung kondisi jembatan serta jalur akses yang tersedia. Dari hasil peninjauan, ditemukan beberapa titik jalan penghubung yang sangat memprihatinkan. Beberapa jembatan bahkan sudah dibiarkan rusak selama bertahun-tahun tanpa ada tindakan perbaikan.
Harapan untuk Perbaikan Infrastruktur
Anggota Komisi II DPRD Kukar, Desman Minang Endianto, menegaskan bahwa peninjauan ini merupakan tindak lanjut dari dialog bersama masyarakat Bukit Biru terkait kebutuhan akses pertanian. Ia menekankan bahwa kawasan Bukit Biru merupakan wilayah pertanian yang membutuhkan akses memadai agar produksi dapat ditingkatkan.
Selain jembatan, Komisi II DPRD Kukar juga meninjau kondisi makam Sukimin di RT 17 Kelurahan Bukit Biru yang mengalami pergeseran tanah. Menurut Desman, hal ini juga menjadi kebutuhan masyarakat yang perlu segera ditangani.
Sugeng Hariyadi, anggota Komisi II DPRD Kukar lainnya, menilai kerusakan infrastruktur pertanian di Bukit Biru sudah terlalu lama dibiarkan. Meskipun pengajuan perbaikan telah dilakukan sejak bertahun-tahun lalu, hingga kini belum ada realisasi yang signifikan.
Keluhan Petani dan Proposal yang Belum Terealisasi
Ketua Gapoktan Bukit Biru, Hasim Adnan, mengungkapkan bahwa kerusakan jembatan telah terjadi sekitar 10 tahun lalu dan hingga kini belum mendapat penanganan meski proposal telah diajukan. Ia menyebutkan bahwa sekitar 90 persen akses jalan tidak dapat dilalui kendaraan bermuatan padi, sehingga menyulitkan petani saat panen.
Hasim menambahkan bahwa selama bertahun-tahun, petani hanya mengandalkan gotong royong untuk mengangkut hasil panen. Mereka menggunakan alat seperti arko atau bahkan membawa hasil panen dengan cara dipikul.











