Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak di Wilayah Pegunungan Leang-Leang
Pada hari Sabtu (17/1/2026), sebuah pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat berada di wilayah pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keselamatan seluruh penumpang dan kru yang ada di dalam pesawat. Pesawat tersebut dikabarkan membawa total 11 orang, termasuk delapan kru dan tiga penumpang.
Leang-Leang Makassar merupakan salah satu situs arkeologi penting yang membuktikan keberadaan manusia prasejarah di Indonesia. Daerah ini menjadi perhatian utama setelah diduga menjadi lokasi hilangnya kontak pesawat ATR 42-500. Medan pegunungan karst yang terjal dan hutan lebat di sekitar area ini disebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencarian dan penelusuran pesawat.
Lokasi Pegunungan Leang-Leang
Leang-Leang terletak di kawasan Maros-Pangkep, sekitar 40 kilometer dari Kota Makassar. Dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi atau umum, daerah ini dikelilingi oleh pegunungan karst yang menjulang tinggi serta suasana alami dan eksotis. Nama “Leang-Leang” berasal dari bahasa setempat, di mana “Leang” berarti gua. Situs ini terkenal karena berbagai lukisan prasejarah yang menghiasi dinding gua, yang dipercaya berasal dari 40.000 tahun yang lalu.
Kini, Leang-Leang menjadi salah satu destinasi wisata edukatif yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Keindahan lukisan gua yang berusia puluhan ribu tahun serta panorama alam yang menakjubkan menjadikan Leang-Leang sebagai destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi.
Profil Maskapai Indonesia Air Transport
Nama Indonesia Air Transport (IAT) menjadi sorotan setelah salah satu pesawatnya berjenis ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat mengudara di wilayah Maros, Sulawesi Selatan. Pesawat tersebut dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada pukul 12.20 WIB, namun hingga saat ini keberadaannya masih belum diketahui.
PT Indonesia Air Transport (IAT) adalah perusahaan penerbangan swasta yang mengkhususkan diri dalam layanan charter untuk berbagai industri. Terutama sektor minyak, gas, dan pertambangan, maupun layanan jet pribadi atau private jet. Maskapai yang didirikan pada 1968 ini merupakan bagian dari MNC Energy Investments Tbk.
IAT menjadi maskapai charter pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2006. PT IAT berkantor pusat di MNC Tower Lt. 24, Jl Kebon Sirih No. 17–19, Jakarta Pusat dan memiliki pangkalan utama di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Maskapai ini mengoperasikan kombinasi pesawat sayap tetap atau fixed-wing dan helikopter untuk menjangkau lokasi-lokasi terpencil di Indonesia.
Spesifikasi Pesawat ATR 42-500
Pesawat ATR 42-500 dilaporkan kehilangan komunikasi dengan petugas pengatur lalu lintas udara saat dalam penerbangan di wilayah Kabupaten Maros. Pesawat yang membawa 11 penumpang tersebut diketahui disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sehingga insiden ini langsung mendapat perhatian serius dari otoritas penerbangan dan instansi terkait.
ATR 42-500 dikenal sebagai pesawat bermesin turboprop yang kerap digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah, termasuk di wilayah kepulauan dan daerah dengan bandara terbatas. Pesawat jenis ini juga sering dimanfaatkan untuk penerbangan perintis maupun penerbangan khusus instansi pemerintah.
Dari sisi performa, ATR 42-500 dibekali mesin Pratt & Whitney Canada PW127E yang lebih bertenaga, dengan daya mencapai 2.400 horsepower atau sekitar 1.790 kW per mesin. Selain itu, pesawat ini menggunakan baling-baling enam bilah berukuran lebih besar yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan performa lepas landas.
Hilang Kontak
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat berada di wilayah pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat tersebut dikabarkan membawa total 11 orang yang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, Muh Arif Anwar menyebut pesawat tersebut sedang dalam status disewa oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Pesawat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar dan dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu siang.
Daftar Kru dan Penumpang
Berdasarkan data manifes yang dihimpun, terdapat delapan orang kru pesawat yang bertugas dalam penerbangan tersebut, yakni:
- Pilot: Capt. Andy Dahananto
- Kopilot: Farhan.
- FOO: Hariadi
- Engineer 1: Restu Adi
- Engineer 2: Dwi Murdiono
- Pramugari 1: Florencia Lolita
- Pramugari 2: Esther Aprilita
Sementara itu, identitas tiga orang penumpang yang turut berada di dalam pesawat adalah Deden, Ferry, dan Yoga. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan upaya maksimal untuk melacak keberadaan seluruh awak dan penumpang pesawat tersebut.
Titik Koordinat Terakhir di Bantimurung
Arif mengaku sudah mengerahkan personel ke titik kontak terakhir pesawat IAT tersebut berdasarkan data koordinat yang dikirim oleh Airnav Makassar. Lokasi terakhir pesawat terdeteksi berada di daerah Taman Nasional Bantimurung.
“Di mana titik duga setelah kami plot koordinat terakhir yang diberikan oleh pihak ATC itu mengarah di daerah Bantimurung dan sekitarnya. Nah tim kami tadi sudah sampai di sana dan sudah membuat satu posko SAR gabungan di daerah Bantimurung,” tuturnya.
Selain pengerahan tim darat, Basarnas juga telah meminta bantuan kepada TNI AU untuk mengerahkan Helikopter Caracal. Helikopter ini diharapkan bisa membantu proses observasi dari udara guna mempercepat penemuan lokasi pesawat di medan pegunungan.
“Selain itu Caracal juga bisa digunakan untuk evakuasi melalui udara,” ucap Arif. Hingga saat ini, tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan badan pesawat maupun kondisi para korban. Proses pencarian masih terus dilakukan dengan menyisir area koordinat terakhir.
“Kami berdoa secepatnya bisa kita temukan pesawatnya dan korbannya masih bisa kita selamatkan,” ujar Arif.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











