Pariwisata Bali: Penurunan Okupansi Hotel dan Kekhawatiran dari PHRI
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, terdapat penurunan signifikan dalam tingkat okupansi hotel di pekan pertama tahun 2026. Ketua PHRI Bali, Tjok Oka Artha Ardana Sukawati, menyampaikan bahwa okupansi hotel bisa turun hingga 50-60 persen setelah musim libur Tahun Baru berakhir.
Ia menjelaskan bahwa selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, jumlah wisatawan yang masuk ke Bali tidak terlalu besar pada minggu pertama dan kedua Desember. Biasanya, kenaikan jumlah wisatawan terjadi pada minggu ketiga dan keempat. Namun, saat ini, tingkat okupansi hotel berada antara 60-70 persen pada minggu pertama dan kedua, lalu stabil di kisaran 20-50 persen.
Pada minggu ketiga, okupansi hotel meningkat menjadi 85 persen. Namun, setelah tanggal 4 Januari 2026, ketika musim libur berakhir, tingkat okupansi kembali menurun menjadi 50-60 persen.
Masalah ini sering dibahas di media sosial, termasuk isu tentang kepadatan lalu lintas, banjir, dan sampah yang memengaruhi kunjungan wisatawan nusantara (wisnus). Menurut Cok Ace, data menunjukkan penurunan yang signifikan dalam jumlah wisnus yang masuk melalui jalur darat, sementara jumlah wisatawan internasional melalui bandara hanya turun sebesar 8,3 persen.
“Wisatawan domestik yang biasanya datang dengan kendaraan memicu kemacetan. Tahun lalu, Bali dikunjungi 6,3 juta wisatawan, sedangkan tahun ini mencapai lebih dari 7 juta,” ujar Cok Ace. “Namun, kontribusi wisnus sangat tinggi, dan kami khawatir dengan situasi ini.”
Kunjungan Menteri Pariwisata ke Bali
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melakukan kunjungan kerja ke Bali pada hari pertama tahun 2026 untuk memastikan kesiapan layanan pariwisata selama puncak libur Nataru 2025/2026. Ia mengunjungi Bandara I Gusti Ngurah Rai dan meninjau berbagai fasilitas seperti check-in counter, imigrasi, area makanan, serta layanan Visa on Arrival (VoA).
Menpar juga berinteraksi langsung dengan wisatawan untuk mendengar pengalaman mereka selama berkunjung ke Bali. Selain itu, ia mengunjungi Posko Terpadu di Terminal Keberangkatan Domestik untuk melihat data terkini mengenai jumlah wisatawan dan pergerakan penerbangan.
Menurut laporan Angkasa Pura Bali dan Gubernur Bali Wayan Koster, jumlah kunjungan wisman melalui jalur udara hingga akhir Desember 2025 mencapai lebih dari 7,05 juta orang, meningkat 11 persen dari tahun 2024. Sementara itu, pergerakan wisnus ke Bali pada 2025 tercatat mencapai 9,28 juta kunjungan, turun sekitar 700 ribu kunjungan dibanding 2024.
Masalah Pariwisata di Bali
Selain penurunan okupansi hotel, ASITA Bali juga mengeluhkan adanya Online Travel Agent (OTA) yang mempromosikan produk pariwisata tanpa izin. Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, mengungkapkan bahwa banyak OTA yang tidak memiliki lisensi resmi, menyebabkan keributan dan persaingan harga yang tidak sehat.
Ia juga menyampaikan keluhan terkait perizinan transportasi pariwisata di Bali. Menurutnya, izin transportasi harus dikelola oleh daerah, bukan pusat. Meski sudah melapor kepada Gubernur Bali, belum ada respons dari Kementerian Perhubungan.
Menpar Widiyanti menanggapi keluhan tersebut dengan menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mendata dan mengawasi vila ilegal. Ia juga mengambil langkah cepat dengan memanggil semua OTA untuk memberi tahu bahwa mereka harus memiliki izin resmi di Indonesia.
Selain itu, Menpar menegaskan bahwa semua akomodasi pendek harus memiliki izin KLBI yang sesuai. Banyak dari mereka menggunakan nominee dan membayar pajak di luar negeri, sehingga sulit untuk diawasi.
Evaluasi dan Harapan Masa Depan
Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan bahwa perlu dilakukan evaluasi terkait penurunan wisnus. Apakah hal ini disebabkan oleh penurunan jumlah penerbangan ke Bali, tiket yang mahal, isu banjir, atau perubahan pola wisnus dari jalan udara ke jalan darat.
Meskipun ada penurunan, Bali masih menjadi destinasi wisata yang menarik bagi masyarakat dunia. Data menunjukkan bahwa jumlah wisman melalui Cruise di pelabuhan Benoa tahun 2025 mencapai di atas 71.000 orang, lebih tinggi dari tahun 2024 yang mencapai 53.000 orang.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, pihak terkait tetap berusaha memperbaiki kondisi pariwisata Bali agar tetap menarik dan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.









