My WordPress Blog
Bisnis  

Tahukah Anda, kantor hijau Jakarta seluas 378 lapangan bola?



JAKARTA,

Di tengah kota yang penuh dengan beton dan gedung-gedung tinggi, sebuah perubahan besar sedang terjadi. Perkantoran hijau atau green office di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta kini bukan lagi sekadar tren estetika atau sertifikat di lobi gedung. Jelang akhir tahun 2025, gedung ramah lingkungan telah menjadi standar baru dalam menentukan efisiensi operasional dan komitmen global terhadap keberlanjutan.

Berdasarkan data terbaru, luas ruang perkantoran hijau di jantung ibu kota kini mencapai angka fantastis: 2,7 juta meter persegi dari total luas perkantoran CBD Jakarta yang mencapai 7,3 juta meter persegi. Angka ini setara dengan 378 kali luas lapangan sepak bola standar internasional.

Sebagai gambaran tambahan, jika menggunakan standar FIFA untuk pertandingan internasional, ukuran lapangan yang umum digunakan adalah 105 meter x 68 meter, yang menghasilkan luas 7.140 meter persegi. Dengan demikian, 2,7 juta meter persegi setara dengan sekitar 378 kali luas lapangan sepak bola standar internasional.

Sementara itu, jika menggunakan standar minimal FIFA (90 meter x 45 meter = 4.050 meter persegi), maka setara dengan 666 lapangan. Sementara, jika menggunakan standar maksimal FIFA (120 meter x 90 meter = 10.800 meter persegi), maka setara dengan 250 lapangan.

Tentu saja, ini merupakan sebuah lompatan besar jika menilik ke belakang, di mana pada periode 2019-2020, ketersediaan ruang hijau ini bahkan belum menyentuh angka 1 juta meter persegi.

Efisiensi Jantung Operasional

Pasar Jakarta kini semakin matang dalam memaknai konsep gedung hijau. Perkantoran hijau tidak lagi hanya dipandang sebagai gedung yang “ramah lingkungan secara desain” (green by design), melainkan lebih fungsional dalam implementasi operasional harian. Gedung-gedung ini dirancang untuk mencapai efisiensi maksimal pada beberapa aspek krusial:

  • Efisiensi Sumber Daya: Penghematan penggunaan air dan listrik secara signifikan.
  • Pemantauan Energi: Sistem manajemen energi pintar untuk meminimalkan pemborosan.
  • Pengurangan Emisi: Strategi karbon rendah yang sejalan dengan target Net Zero Emission.
  • Kesejahteraan Karyawan: Pemilihan bahan bangunan ramah lingkungan dan kemudahan akses transportasi publik guna menekan jejak karbon mobilisasi karyawan.

Dominasi Kelas Premium: Hijau adalah Standar Minimum

Hasil manis dari adaptasi panjang para pemilik gedung (landlord) terlihat jelas pada segmen pasar atas. Saat ini, hampir seluruh ruang kantor pada kelas Premium Grade A (88 persen) di CBD Jakarta telah berlabel hijau. Sementara itu, separuh dari stok ruang kantor kelas Grade A juga telah mengantongi sertifikat serupa.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menegaskan urgensi perubahan ini. “Gedung hijau menjadi diferensiasi penting di tengah pasar ruang perkantoran yang kompetitif dengan pasokan yang berlebih di Jakarta,” ujarnya. Bagi penyewa di kelas ini, label hijau kini dianggap sebagai minimum requirement atau standar dasar yang tidak bisa ditawar.

Okupansi Stabil: Magnet bagi Perusahaan Multinasional

Data Knight Frank menunjukkan bahwa tingkat keterisian (occupancy rate) green office di CBD Jakarta relatif stabil di angka 78 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rerata okupansi gedung non-hijau yang bertahan di kisaran 75 persen dalam lima tahun terakhir. Fenomena ini didorong oleh munculnya ESG-driven tenants. Perusahaan multinasional dan korporasi besar kini menjadikan kantor hijau sebagai baseline expectation. Mereka tidak hanya mencari ruang kerja, tetapi juga bukti nyata dari komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) mereka. Bahkan, komitmen ini kini dituangkan secara legal dalam “pasal-pasal hijau” di dalam surat perjanjian sewa.

Tantangan Harga dan Masa Depan 2026

Meskipun progresif, perjalanan menuju dominasi total gedung hijau masih menemui tantangan. Saat ini, rata-rata harga sewa green office masih cenderung lebih moderat dibandingkan gedung non-hijau tertentu karena persaingan pasokan. Namun, kematangan pelaku pasar memberikan rasa optimisme bahwa gedung hijau akan segera mendominasi mayoritas pasokan di masa depan.

Senada dengan hal tersebut, Head of Research Knight Frank Asia Pasifik, Christine Lie, memproyeksikan tren tahun 2026 akan semakin selektif. Penyewa akan lebih mengarahkan permintaan ke ruang perkantoran berkualitas tinggi dengan prinsip ESG di lokasi inti (prime location). Strategi penyesuaian ukuran kantor (rightsizing) dan optimalisasi ruang akan menjadi mesin utama aktivitas penyewaan di tahun-tahun mendatang.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *