Aksi Pengibaran Bendera Putih di Aceh sebagai Simbol Kepedihan dan Permohonan Bantuan
Sejumlah aktivis reformasi 1998 melakukan aksi pengibaran 100 bendera putih di Taman Riyadhah, Lhokseumawe, Jumat (19/12/2025). Aksi ini menjadi simbol keputusasaan sekaligus seruan agar dunia menaruh perhatian pada kondisi korban banjir di Aceh. Mereka meminta pemerintah pusat menetapkan status bencana nasional karena ribuan warga masih mengungsi dalam kondisi yang memprihatinkan.
Bendera putih yang dikibarkan oleh aktivis dan masyarakat Aceh mencerminkan krisis kemanusiaan yang mendesak penanganan serius. Bendera putih digunakan sebagai tanda menyerah, permohonan pertolongan, atau tanda darurat. Dalam konteks bencana di Aceh, pengibaran bendera putih menjadi ekspresi keputusasaan warga yang merasa tidak sanggup lagi bertahan tanpa bantuan memadai.
Aksi ini dilakukan oleh kelompok mahasiswa, pemuda, dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam gerakan pada tahun 1998 untuk menggantikan rezim Orde Baru. Mereka berharap melalui aksi kecil ini bisa memberitahukan dunia tentang kondisi korban pascabanjir di Aceh.
Cut Meutia, salah satu peserta aksi, menjelaskan bahwa aksi ini adalah bentuk upaya untuk memberitahukan kepada dunia mengenai kondisi korban pascabanjir di Aceh. Ia menyebutkan bahwa semua pihak telah bekerja dengan sangat luar biasa, baik itu pemerintah daerah maupun pemerintah pusat serta pihak TNI Polri. Namun sampai saat ini korban masih banyak tidur di terpal seadanya, bahkan kondisi kesehatan yang sudah memburuk, gizi yang tidak terpenuhi, hingga anak-anak masih tidak dapat bersekolah.
Cut Meutia juga meminta pihak internasional melihat kondisi Aceh sekarang. “Presiden tolong segera buka kran Internasional untuk Aceh,” pintanya. Ia menegaskan bahwa bencana ini sudah masuk krisis kemanusiaan. Jika pemerintah tidak menetapkan sebagai bencana nasional, maka pihaknya meminta dunia agar dapat mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk secepatnya mengupayakan segala upaya agar menyelesaikan ini.
Fenomena Bendera Putih Berkibar di Sejumlah Daerah di Pinggiran Jalan Lintas Nasional Banda Aceh-Medan
Aksi pengibaran bendera putih sebagai simbol menyerah menghadapi bencana menjadi fenomena baru di Aceh. Dalam beberapa hari ini, aksi pengibaran bendera putih marak terjadi di berbagai wilayah Aceh. Mulai dari Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem hingga Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul turut bersuara.
Pantauan Serambinews.com, pada Minggu (14/12/2025), bendera putih berkibar di sejumlah daerah di pinggiran jalan lintas nasional Banda Aceh -Medan. Bendera putih itu dikibarkan oleh warga di sejumlah titik di antaranya di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Aceh Utara. Sejumlah warga saat ditemui mengatakan bendera putih itu dipasang karena masyarakat yang terdampak bencana alam banjir bandang sudah menyerah dan tak sanggup lagi untuk menanganinya.
“Kami sekarang menyerah dan tak sanggup lagi dan butuh bantuan,” ujar seorang warga, Bakhtiar saat dijumpai di Perlak, Aceh Timur.
Gubernur Mualem Mengaku Tidak Mengetahui Maksud Pengibaran Bendera Putih
Fenomena tersebut menuai sorotan publik dan memunculkan berbagai spekulasi terkait makna dan tujuan di balik aksi yang begitu masif tersebut. Menanggapi hal itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem mengaku tidak mengetahui maksud pengibaran bendera putih tersebut. Ia menyatakan belum pernah menerima informasi ataupun laporan terkait aksi tersebut.
“Saya tidak terkopi itu, apa maksud mereka? Yang itu di luar jangkauan kita,” kata Mualem, saat diwawancarai usai menerima bantuan kemanusiaan dari Menteri Sosial Saifullah Yusuf di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (16/12/2025). Mualem menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui siapa pihak yang menginisiasi aksi tersebut. Ia juga menilai pengibaran bendera putih tersebut bukan bagian dari kebijakan ataupun arahan pemerintah.
Menteri Sosial Gus Ipul Optimis Bisa Dilalui Bersama
Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menanggapi aksi sejumlah warga Aceh yang mengibarkan bendera putih beberapa hari setelah wilayah tersebut dilanda banjir bandang dan tanah longsor. Aksi itu menjadi sorotan publik karena dianggap sebagai simbol keputusasaan warga di tengah minimnya bantuan pascabencana.
Gus Ipul menyatakan, dirinya yakin bahwa Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) masih kuat dalam menangani bencana. Menurut petinggi Nahdlatul Ulama (NU) itu, pemerintah daerah sudah bekerja dengan baik, didukung oleh pemerintah pusat. Ia yakin, bencana di Sumatra dapat ditanggulangi bersama-sama oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
BNPB: 1.071 Korban Meninggal Akibat Bencana di Sumatera, 185 Warga Masih Hilang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.071 orang, sementara 185 warga lainnya masih hilang dan terus dilakukan pencarian. Jumlah korban secara total tiga provinsi bertambah tiga. Sore ini, Jumat, 19 Desember 2025 mencapai 1.071 orang.
Selain korban jiwa, jumlah pengungsi di tiga provinsi tersebut mencapai 526.868 orang. Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) masih berlangsung di Sumut (4 sektor), Sumbar (5 sektor), dan Aceh (6 kabupaten).
Dukungan Anggaran dan Bantuan
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebutkan anggaran tambahan sebesar Rp268 miliar dari Presiden Prabowo Subianto untuk wilayah terdampak bencana sudah sepenuhnya diterima oleh tiga provinsi. Tambahan Rp268 miliar sudah diterima semua oleh tiga provinsi. Selain itu, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan senilai Rp43 miliar, ditambah dukungan dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten yang dipimpin Bupati Lahat Bursah Zarnubi sebesar Rp5 miliar, sehingga total bantuan mencapai Rp48 miliar.
Pemulihan Administrasi Kependudukan
Kemendagri juga mempercepat pemulihan layanan administrasi kependudukan bagi warga terdampak bencana. Sebanyak 9 tim Dukcapil diturunkan ke tiga provinsi sejak 10 Desember untuk membantu pengurusan dokumen seperti akta kelahiran dan KTP yang hilang, tanpa biaya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











