Kondisi Kelangkaan BBM di Tapanuli Utara
Di kawasan Tapanuli Utara, Sumatera Utara, kelangkaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) masih terjadi hingga Minggu (7/12/2025). Dalam pantauan di jalur darat, hampir semua SPBU yang berada di sepanjang Jalan Lintas Sumatera mengalami antrean yang sangat panjang. Antrean ini bahkan meluas hingga ke jalan raya dan mencapai jarak 500 meter hingga 1 kilometer di setiap SPBU.
SPBU yang berada di sekitar kawasan Sipirok, Tarutung, Sarulla, hingga Siborong-borong tidak memiliki stok BBM yang memadai. Titik paling parah adalah di Kecamatan Siborong-borong, di mana antrean kendaraan menyebabkan kemacetan parah. Antrean yang panjang ini mencapai lebih dari 1 km dan memenuhi ruas jalan dari arah utara ke selatan.
Kendaraan seperti motor, mobil, hingga truk dan bua berbaris dalam antrean yang membuat ruas jalan tertutup. Beberapa mobil bahkan ditinggal di tengah antrean tanpa sopir atau penumpang. Polisi harus menggunakan pembatas jalan disertai tali untuk mencegah pengendara menggunakan lebih dari satu lajur.
Pada beberapa titik, antrean sudah meluber dan memakan ruas jalan lainnya. Di SPBU Siborong-borong, antrean bahkan mencapai tiga lapis dan memakan seluruh badan jalan. Kemacetan parah terjadi karena penyempitan lajur dan bottleneck di Jalan Lintas Sumatera. Kendaraan yang ingin melintas dan menghindari antrean harus melakukan contraflow atau lawan arah.
Para pengendara motor rela bertahan di bawah guyuran derasnya hujan selama berjam-jam. Mereka menggunakan perlengkapan jas hujan lengkap dan payung agar terhindar dari hujan. Pada malam hari, truk tangki BBM Pertamina tampak melakukan pengisian ulang pasokan di sekitar pukul 21.00 WIB.
Antrean yang panjang mulai mengalami penurunan setelah pengisian BBM kembali tersedia. Beni (27), seorang pengendara roda dua di Siborong-borong, mengaku sudah mengantre selama lima jam. Ia mengatakan bahwa meskipun hujan, ia tetap menunggu karena tak ada tempat lain untuk berlindung.
Petugas SPBU Siborong-borong mengaku kesulitan mengurai kepadatan antrean meski telah ada pengisian stok. Alasannya adalah jumlah petugas dan kecepatan layanan yang tidak cukup mengimbangi banyaknya antrean kendaraan. “Kurang ini petugasnya, segini doang. Pengisian juga butuh waktu,” ujarnya.
Di SPBU Tarutung, kemacetan serupa terjadi meski antrean mobil terlihat lebih rapi dan hanya memakan satu lajur kiri. Namun, kemacetan tetap terjadi karena penyempitan jalan dan beberapa kendaraan yang saling serobot saat tiba di area gerbang masuk. Pengisian BBM solar tidak mengalami antrean panjang, berbeda dengan antrean Pertalite dan Pertamax.
Gabe (31), seorang sopir angkot di Tarutung, mengaku sudah mengantre lebih dari 15 jam, tepatnya sejak pukul 06.00 WIB pagi. Ia akhirnya bisa mendapatkan pengisian BBM pada pukul 21.00 WIB. Menurut dia, pengisian BBM dibatasi hingga maksimal 20 liter untuk jenis BBM Pertalite.
Ia menyampaikan kekecewaannya karena tidak bisa mengisi penuh tangki mobilnya. Kosongnya stok BBM terjadi di semua SPBU di Tapanuli Utara. Hal itu menjadi alasan dia rela mengantre belasan jam hingga tidak bisa melayani penumpang selama seharian.
Gabe berharap pemerintah segera mengatasi kelangkaan BBM yang sudah berlangsung selama dua pekan. Ia meminta perhatian stok BBM juga mengarah ke wilayah di sekitar lokasi bencana, bukan hanya di titik kejadian saja.
Pantauan tim lainnya di kawasan Tapanuli Tengah, tepatnya di lokasi bencana banjir dan longsor, menunjukkan bahwa kondisi pasokan BBM sudah membaik. Tidak ada lagi antrean mengular di kawasan Tapteng hingga Sibolga yang menjadi lokasi bencana. Namun, masalah kelangkaan BBM di daerah terdampak di sekitarnya, termasuk Tapanuli Utara, masih dirasakan hingga saat ini.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara Fahrougi Andriani Sumampouw menegaskan bahwa seluruh tim bekerja memastikan layanan energi tetap aman dan menjangkau masyarakat. “Setiap liter BBM yang kami salurkan bukan hanya soal operasional, tapi bagian dari upaya membantu saudara-saudara kita kembali pulih,” katanya.
Fahrougi menjelaskan bahwa Pertamina Patra Niaga akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga stabilitas pasokan energi selama masa pemulihan.










