AMBON,
Di Desa Solath yang terletak di Kepulauan Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Provinsi Maluku, warga tidak pernah berhenti berinovasi meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Mulai dari keterbatasan bahan baku, listrik hingga pasokan bahan bakar minyak (BBM), semua tidak menyurutkan semangat masyarakat setempat untuk memproduksi produk pangan olahan dari hasil kebun mereka.
Potensi Desa Solath
Hasil pertanian seperti kelapa, jambu mente dan umbi-umbian tumbuh subur di wilayah ini. Warga memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan sekaligus ciri khas desa. Salah satu warga yang berusaha mengembangkan potensi tersebut adalah Osorio Johansz, atau lebih dikenal dengan nama Hendrik.
Hendrik melihat peluang besar dalam mengolah bahan-bahan lokal menjadi camilan yang menarik. Dengan keterampilan yang dimilikinya, ia menciptakan stik ubi dan kukis yang diberi nama Tamaso. Menariknya, bahan utama yang digunakan bukanlah umbi lokal, melainkan ubi cilembu yang dibawa dari Jawa Barat.
Perjalanan Mengembangkan Ubi Cilembu
Tahun 2024, saat sedang mengikuti kegiatan di Jakarta, Hendrik mencoba ubi cilembu dan terkesan dengan rasanya yang manis dan lembut. Ia kemudian membeli dan membawanya kembali ke MBD. Meski tidak ada jenis ubi ini di daerahnya, ia yakin bahwa karakter rasa dari ubi asal Desa Cilembu, Sumedang, berbeda.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, pada awal 2025, Hendrik bersama pemuda karang taruna Solath membuka lahan seluas 20×20 meter persegi dan menanam sekitar 50 bedeng ubi cilembu. Hasil panen bisa mencapai 20-50 kilogram dalam sekali panen, atau sekitar tiga bulan.
Tantangan dalam Produksi
Meski proses menanam tidak terlalu rumit, tantangan besar justru ada pada proses pembuatan produk. Desa Solath masih belum memiliki akses listrik secara maksimal. Listrik hanya menyala dari pukul 19.00 hingga 23.00 WIT, atau empat jam dalam sehari. Sementara itu, dua desa lain di Pulau Romang, yakni Hila dan Jerusu, sudah memiliki listrik selama enam jam.
Akibatnya, aktivitas produksi dilakukan saat malam hari atau saat listrik tersedia. Untuk pengeringan, mereka menggunakan minyak tanah, yang seringkali langka dan mahal. Kendala ini membuat proses produksi cukup melelahkan, tetapi Hendrik tetap berusaha agar produk tetap bisa diproduksi.
Produk yang Disajikan
Produk yang dibuat oleh Hendrik dan anggota UMKM binaan desa adalah stik ubi dan kukis. Kedua camilan ini dikemas dalam ukuran 100 gram dan dijual dengan harga Rp 25.000 per kemasan.
Pada Desember lalu, Hendrik membawa produk-produk ini ke Kota Tiakur, ibu kota kabupaten MBD. Saat ini, produk tersebut dijual di toko-toko di Tiakur. Bahkan, sudah ada satu kafe yang menyukai produk ini sebagai pendamping minum kopi.
Semangat untuk Perputaran Ekonomi
Dari Sumedang hingga Pulau Romang yang berjarak lebih dari 3.000 kilometer, Hendrik bersama karang taruna dan anggota UMKM binaan lain berupaya mendorong perputaran ekonomi lewat produk pangan. Ia percaya bahwa kendala tidak akan menjadi penghalang jika ada kemauan dan keuletan.
Dengan semangat yang tinggi, warga Desa Solath terus berjuang untuk membangun masa depan yang lebih baik, meskipun harus berhadapan dengan berbagai tantangan.











