Upaya Penyediaan Air Bersih dan Pemulihan Energi di Wilayah Terdampak Bencana
PT Pertamina (Persero) melakukan berbagai langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah yang terdampak banjir dan longsor, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Salah satu upaya utamanya adalah membangun sumur bor baru serta mereaktivasi sumur-sumur milik masyarakat. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari program pemulihan sektor energi sekaligus menjawab kebutuhan dasar masyarakat pasca bencana.
Corporate Secretary PT Pertamina Arya Dwi Paramita menjelaskan bahwa penyediaan air bersih dilakukan bersamaan dengan pemulihan distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Tujuannya adalah agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Pertamina mengirimkan tim khusus pemboran air serta bekerja sama dengan relawan dan masyarakat setempat di beberapa titik yang terdampak.
“Kami melakukan pembangunan sumur bor baru dan reaktivasi sumur masyarakat agar airnya kembali dapat digunakan. Ini kami kerjakan bersama relawan, termasuk Wanadri, dan warga setempat,” ujar Arya dalam konferensi pers di Jakarta.
Hingga saat ini, empat sumur bor telah berhasil diproduksikan airnya dan langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu, Pertamina juga memberangkatkan tujuh tim tambahan untuk mempercepat pengerjaan, melengkapi empat tim yang lebih dulu berada di lapangan.
Untuk mendukung distribusi air bersih, Pertamina menyiagakan 15 truk tangki yang diambil dari berbagai wilayah, termasuk Sumatera Utara. Air bersih tersebut diprioritaskan untuk permukiman terdampak, posko pengungsian, serta dapur umum yang masih beroperasi.
Di Aceh Tamiang, dua sumur bor air sudah beroperasi bersamaan dengan penyerahan hunian sementara. “Kami ingin memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi seiring proses pemulihan,” kata Arya.
Selain Pertamina, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) juga memastikan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Ibu Kota Kecamatan (IKK) Langkahan di Kabupaten Aceh Utara kembali beroperasi secara fungsional per 9 Januari 2026, setelah sebelumnya terdampak bencana banjir bandang.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pemulihan layanan air bersih merupakan prioritas utama dalam penanganan pascabencana. “Air bersih adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda, terutama di wilayah terdampak bencana. Diharapkan dengan berfungsinya kembali SPAM IKK Langkahan dapat membantu masyarakat kembali beraktivitas dengan lebih sehat dan aman, sekaligus mendukung proses pemulihan sosial dan ekonomi di Aceh Utara,” ujar Dody.
SPAM IKK Langkahan berlokasi di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Langkahan dengan kapasitas terpasang sebesar 20 liter per detik. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Langkahan memanfaatkan sumber air baku dari Sungai Krueng Jambo Aye. Saat ini IPA Langkahan kembali beroperasi hingga 22 jam per hari dan melayani kebutuhan air bersih masyarakat di Kecamatan Langkahan dan Kecamatan Tanah Jambo Aye, dengan jumlah sambungan rumah aktif mencapai lebih dari 3.600 sambungan rumah.
Sebelumnya, banjir bandang menyebabkan perubahan pola aliran sungai serta sedimentasi di sekitar bangunan intake, sehingga mengganggu proses pengambilan air baku. Melalui koordinasi intensif antara Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh dan Perumda Tirta Mon Pase selaku pengelola, dilakukan penanganan darurat agar sistem tetap dapat beroperasi, termasuk optimalisasi intake sementara untuk menjaga kontinuitas layanan air minum bagi masyarakat.
Kementerian PU terus melakukan pemantauan operasional SPAM IKK Langkahan serta mendorong penguatan sistem penyediaan air minum ke depan agar lebih andal dan tangguh terhadap bencana.
Selain air bersih, Pertamina juga memulihkan distribusi energi melalui tiga pola penyaluran, yakni reguler, alternatif, dan darurat. Penyaluran dilakukan melalui jalur darat, laut, dan udara untuk menjangkau wilayah yang aksesnya masih terbatas akibat longsor dan banjir.
Hingga saat ini, sebanyak 151 dari 156 SPBU di Aceh telah kembali beroperasi atau sekitar 97 persen. Di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, operasional SPBU serta lembaga penyalur LPG juga telah kembali normal. Pertamina memastikan stok BBM dan LPG dalam kondisi aman, meskipun sebagian distribusi masih menggunakan armada berkapasitas kecil akibat keterbatasan akses jalan.
Pertamina turut mengerahkan sekitar 500 relawan dan mendirikan enam posko kemanusiaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dukungan diberikan kepada 164 posko pengungsian dan 111 dapur umum, termasuk pasokan Bright Gas, BBM, genset, serta layanan medis dan psikososial.











