My WordPress Blog
Daerah  

Ekskavator Masuk Laut Tapakerbau, Warga Turun Halau, Polisi Diminta Perketat Pengamanan

Warga Tapakerbau Kembali Halau Ekskavator Proyek Tambak Garam di Perairan Gersik Putih Sumenep

Pada hari Kamis (9/4/2026), aktivitas pengerahan alat berat kembali terjadi di perairan dekat Kampung Tapakerbau, Desa Gersik Putih, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Madura. Dalam rentang waktu sekitar pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, ekskavator dilaporkan kembali masuk ke area laut yang menjadi lokasi rencana pembangunan tambak garam.

Berbeda dari sebelumnya, kali ini pengawalan terhadap ekskavator disebut lebih banyak. Sejumlah pihak di lokasi menyebut pengawalan tersebut dikomandoi oleh Vandari, Basit, dan Muhawi. Alat berat itu diketahui digerakkan dari pelabuhan kecil penyeberangan Kalianget-Gersik Putih menuju titik perairan yang dipersoalkan.

Mengetahui hal tersebut, warga Kampung Tapakerbau yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Tolak Reklamasi (GEMA AKSI) kembali turun ke laut untuk menghalau ekskavator agar tidak melanjutkan aktivitas pembangunan tambak garam. Aksi warga dipimpin oleh Ahmad Shiddiq yang sejak awal menjadi salah satu tokoh penolakan reklamasi di wilayah tersebut.

“Warga turun ke laut untuk menghentikan ekskavator supaya tidak melanjutkan pekerjaan,” tuturnya. Sebelumnya, sejak pagi hari warga juga sudah bersiaga di sejumlah titik strategis. Mulai dari bibir pantai hingga pintu masuk kampung, guna mengantisipasi pergerakan alat berat.

“Warga sudah siaga di dekat pantai dan pintu masuk kampung untuk menghalangi jika ekskavator bekerja,” tambahnya. Meski sempat dihidupkan di sisi selatan pantai, hingga sore hari ekskavator dilaporkan tidak bergerak menuju lokasi yang direncanakan untuk penggarapan tambak garam.

Diduga, hal itu karena kuatnya penolakan warga yang kompak berjaga, serta kehadiran aparat kepolisian di lokasi. Aparat dari berbagai tingkatan, mulai dari Polda Jawa Timur, Polres Sumenep, hingga Polsek Gapura dan Polairud, turut melakukan pengamanan di kawasan tersebut.

“Polisi juga siaga di lokasi untuk mengantisipasi konflik antara warga dan pihak penggarap,” jelas Shiddiq. Bahkan, aparat disebut turut membantu mengarahkan ekskavator kembali ke pelabuhan kecil Kalianget-Gersik Putih guna meredam potensi gesekan.

Wargapun menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aparat dalam menjaga situasi tetap kondusif. Ketegangan antara warga dan pihak penggarap sebelumnya juga sempat terjadi pada Minggu (5/4/2026), saat ekskavator mulai melakukan pengurukan pantai. Aksi tersebut langsung mendapat penolakan keras dari masyarakat setempat.

“Warga sudah pernah bersitegang dengan operator ekskavator di tengah pantai karena pengurukan dilakukan sepihak,” tegasnya. Ia menegaskan, warga akan terus menolak rencana reklamasi pantai untuk kepentingan tambak garam.

“Kami akan terus berjuang agar laut tetap menjadi laut, karena dari situlah kami mencari penghidupan,” tandasnya.

Proses Hukum Sedang Berjalan

Di sisi lain, warga juga meminta seluruh pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Saat ini, Polda Jatim melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) tengah melanjutkan penyidikan terkait dugaan pemalsuan dokumen serta penyalahgunaan wewenang dalam penerbitan Sertifikat Hak Milik (SHM) yang menjadi dasar klaim lahan tersebut.

Kasus ini merupakan pengembangan dari penanganan sebelumnya di Ditreskrimum. Warga berharap, selama proses hukum berlangsung, tidak ada lagi aktivitas pengerahan alat berat ke wilayah laut yang menjadi objek sengketa. Mereka juga meminta aparat kepolisian melakukan langkah mitigasi dan pencegahan agar situasi tetap kondusif hingga adanya kepastian hukum.

Sementara itu, kuasa hukum pemilik SHM sekaligus pihak pengembang tambak garam, Herman belum memberikan keterangan lebih lanjut. Saat dihubungi, ia mengaku masih menjalani persidangan di Pamekasan. “Masih sidang,” ujarnya singkat.

Sekadar diketahui, konflik antara warga dan pihak penggarap tambak garam ini telah berlangsung sejak pertengahan 2023. Sempat mereda setelah adanya kesepakatan pada Desember 2023, namun kembali mencuat pada awal 2025. Pada Januari 2025, rencana penggarapan sempat disampaikan melalui surat pemberitahuan, namun batal setelah mendapat penolakan warga.

Hingga akhirnya, upaya serupa kembali terjadi pada April 2026 dan terus menuai penolakan dari masyarakat setempat.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *