Persiapan Pemprov Jabar untuk Arus Mudik Lebaran 2026
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) terus mempersiapkan berbagai langkah antisipasi menjelang arus mudik Lebaran 2026. Selain menyiapkan rekayasa lalu lintas dan pengamanan di jalur utama, pemerintah juga memberi perhatian khusus pada jalur alternatif, terutama di wilayah selatan Jabar yang rawan bencana.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dhani Gumelar, mengatakan bahwa jalur alternatif sering kali digunakan pemudik saat terjadi kepadatan di jalur utama. Namun, jalur tersebut memiliki tantangan tersendiri, baik dari sisi infrastruktur maupun kerentanan terhadap bencana alam.
Menurut Dhani, banyak pemudik yang belum memahami kondisi geografis jalur alternatif yang mereka lewati. “Kalau jalur utama sudah pasti, tapi jalur alternatif ini kadang tidak memiliki ciri khas tertentu. Pemudik yang tidak mengetahui daerah tersebut bisa saja tidak memahami kondisi jalannya. Di selatan itu bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga kerentanan terhadap kebencanaan,” ujarnya.
Apalagi saat ini kondisi cuaca masih didominasi curah hujan yang cukup tinggi sehingga risiko longsor dan bencana alam lainnya masih perlu diwaspadai. “Oleh karena itu kita perlu mengantisipasi sejak awal, karena kondisi curah hujan sekarang masih cukup tinggi dan potensi longsor juga masih ada,” kata Dhani.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Bina Marga Jawa Barat menyiapkan sekitar 60 posko yang tersebar di berbagai wilayah untuk mendukung penanganan darurat jika terjadi gangguan di jalur mudik. Di setiap posko tersebut juga disiagakan alat berat serta material yang dapat digunakan untuk penanganan cepat jika terjadi longsor atau kerusakan jalan.
“Material dan alat berat sudah standby 24 jam. Jadi misalnya terjadi longsor di Jawa Barat selatan, alat berat dari titik terdekat bisa langsung bergerak. Tidak perlu lagi mengambil dari kota besar seperti Bandung,” jelasnya.
Pembatasan Kendaraan Berat Selama Mudik
Untuk mengurangi kepadatan di jalur mudik, pemerintah juga memberlakukan pembatasan operasional kendaraan berat selama periode mudik Lebaran. Pembatasan tersebut berlaku mulai 14 Maret hingga 29 Maret 2026.
“Kurang lebih hampir dua minggu pembatasan kendaraan truk sumbu tiga atau lebih,” kata Dhani.
Namun terdapat sejumlah pengecualian bagi kendaraan yang mengangkut kebutuhan penting masyarakat. “Kendaraan yang mengangkut bahan pokok, bahan bakar seperti BBM dan gas, pengangkut ternak, serta kendaraan pembawa uang untuk kebutuhan perbankan tetap diperbolehkan melintas,” ujarnya.
Selain itu, kendaraan yang membawa bantuan logistik bencana juga dikecualikan dari aturan pembatasan tersebut. Setiap kendaraan yang mendapatkan pengecualian wajib membawa dokumen atau tanda khusus yang dapat diperiksa oleh petugas di lapangan.
Inovasi Layanan untuk Pemudik
Selain jalur arteri, sejumlah ruas tol juga dipersiapkan untuk membantu memecah kepadatan arus mudik, seperti Tol Jakarta–Cikampek II Selatan maupun Tol Bocimi. Namun Dhani menegaskan bahwa penggunaan tol tersebut akan bersifat situasional.
“Tol itu belum sepenuhnya selesai sehingga pemberlakuannya situasional, artinya hanya akan dibuka jika terjadi penumpukan kendaraan,” ujarnya.
Tahun ini juga terdapat inovasi baru dalam layanan bagi pemudik, terutama bagi pengguna kendaraan listrik. Selain fasilitas pengisian daya di rest area, pemerintah bersama pihak swasta juga menyiapkan layanan charging listrik portable di beberapa titik jalur mudik.
“Inovasi ini untuk membantu kendaraan listrik yang mungkin kehabisan daya di tengah perjalanan,” ujar Dhani.
Ia menjelaskan pengisian daya kendaraan listrik membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pengisian bahan bakar konvensional. Pemilik kendaraan listrik pun diminta untuk merencanakan perjalanan dengan lebih matang.
Fasilitas Istirahat dan Keselamatan
Selain rest area di jalan tol, pemerintah juga menyiapkan ratusan masjid di sepanjang jalur arteri yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat bagi pemudik. Program ini dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Agama.
“Ratusan bahkan sampai seribuan masjid bisa digunakan sebagai tempat istirahat pemudik. Beberapa juga menyediakan fasilitas kesehatan dan charging station,” kata Dhani.
Adanya fasilitas tersebut, diharapkan kepadatan di rest area tol dapat berkurang. Dhani juga mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan perjalanan mudik dengan baik demi menjaga keselamatan selama di perjalanan.
Ia meminta pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi untuk memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan layak jalan. “Cek kendaraan dari sekarang, mulai dari oli, sistem pengereman, sampai perlengkapan keselamatan,” katanya.
Selain itu, kondisi kesehatan pengemudi juga menjadi faktor penting dalam keselamatan perjalanan. “Pengemudi jangan memaksakan diri, kalau sudah berkendara lebih dari empat jam sebaiknya beristirahat,” ujarnya.
Dhani juga mengingatkan pemudik untuk tidak membawa barang berlebihan serta mematuhi arahan petugas di lapangan. Ia berharap seluruh upaya yang dilakukan pemerintah dapat membantu masyarakat menjalani perjalanan mudik dengan aman.











