My WordPress Blog

Tiga Tuntutan Pemilik Mobil yang Tersenggol Kereta Api di Lampung

Peristiwa Mobil Tertabrak Kereta Api di Bandar Lampung

Pada malam takbiran Idul Fitri 2026, sebuah mobil Mitsubishi Xpander yang dikemudikan oleh adik Reni Antika mengalami kecelakaan tragis. Kejadian ini terjadi di perlintasan kawasan Garuntang, Kelurahan Ketapang, Bandar Lampung. Mobil tersebut terserempet kereta api, sehingga menimbulkan kerusakan parah pada kendaraan dan trauma psikologis bagi pengemudi.

Menurut Reni Antika, aksi blokade rel yang dilakukan oleh keluarganya adalah bentuk kekecewaan atas mediasi yang tidak berjalan lancar antara pihaknya dengan PT KAI Divre IV Tanjungkarang. Ia menyampaikan tiga tuntutan utama, yaitu:

  • Pengadaan palang pintu di perlintasan tersebut
  • Penjagaan yang lebih ketat di area perlintasan
  • Perbaikan kendaraan yang sudah ditabrak kereta api

Reni menjelaskan bahwa kejadian itu terjadi saat adiknya sedang melintasi jalur perlintasan yang gelap dan tidak memiliki rambu keselamatan. “Adik saya bawa mobil sangat pelan. Tidak ngebut, tidak dengar musik, apalagi teleponan. Posisi di sana itu gelap dan sepi,” ujarnya.

Namun, saat mobil berada tepat di tengah rel, baru mendengar suara klakson kereta api. Karena mobil matic, adik Reni langsung mundur sambil menginjak gas. Meskipun berhasil mundur sedikit, bagian depan mobil tetap tertabrak.

Reni menegaskan bahwa saat itu tidak ada lampu sorot dari arah kereta yang memberikan tanda peringatan. Ia merasa tidak puas dengan respons dari pihak KAI, terutama setelah mendengar pernyataan petugas lapangan yang menyebut bahwa kompensasi hanya diberikan jika ada korban jiwa.

“Otomatis saya marah. Jadi adik saya harus mati dulu baru dihargai. Ini seolah mereka tidak peduli dengan kerusakan unit dan trauma psikologis adik saya,” tegas Reni.

Aksi blokade rel dilakukan oleh keluarga Reni karena merasa suaranya tidak didengar. Mereka memilih untuk melakukan aksi massa di perlintasan No. 3, Jalan Sentot Alibasa, Ketapang, Bandar Lampung pada Rabu (25/3/2026) sore. Reni mengakui bahwa pihaknya meletakkan material rel bekas di atas jalur kereta sebagai ungkapan kekecewaan.

“Bukan mau sabotase, tapi kami ingin dapat atensi, itu juga enggak lama langsung dicopot lagi, paling cuma beberapa menit,” kata dia.

Reni menegaskan bahwa perbuatan tersebut bukanlah aksi spontan, melainkan ungkapan kekecewaan lantaran tidak ada itikad baik dari pihak PT KAI untuk menyelesaikan masalah secara terbuka. Ia berharap agar pihak KAI dapat memberikan solusi yang jelas dan bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Hingga saat ini, Reni dan keluarganya masih menunggu kejelasan solusi dari pihak KAI. “Kami bukan orang gila, kami hanya meminta kejelasan dan pertanggungjawaban, karena itu bukan kesalahan kami, kalau ada palang pintu, mustahil rel kereta itu diterobos,” tandasnya.




Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *