Perilaku Anak yang Tampak Menyebalkan Tapi Sebenarnya Menggambarkan Pertumbuhan Mereka
Sebagai orang tua, seringkali kita merasa kesal karena anak sering membantah, bertanya terus-menerus, atau tiba-tiba ngambek setelah pulang sekolah. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua perilaku yang tampak mengganggu itu berarti buruk. Justru, di balik setiap “kerewelan” tersebut, ada proses perkembangan otak dan emosi yang sangat positif.
Berikut adalah 5 perilaku yang sering dianggap menyebalkan oleh orang tua, namun sebenarnya menunjukkan bahwa anak sedang tumbuh dengan baik:
1. Membantah atau Berdebat dengan Mama
Memang menjengkelkan saat anak tiba-tiba ngotot membantah perkataan kita. Namun, ini justru pertanda bahwa anak merasa aman untuk tidak setuju dan tidak takut menggunakan suaranya sendiri. Sikap ini adalah fondasi dari ketegasan, bukan pembangkangan.
Keterampilan yang berkembang dari perilaku ini nantinya adalah keberanian bersuara dan otonomi. Jika anak seperti ini, orangtua sebaiknya dengarkan dulu argumen anak tanpa memotong. Setelah selesai, jelaskan sudut pandang Mama dengan tenang. Ajarkan anak cara berdebat yang sopan, misalnya tanpa meninggikan suara atau berkata kasar. Dengan begitu, anak belajar bahwa perbedaan pendapat itu wajar, tetapi tetap harus menghormati lawan bicara.
2. Bertanya “Mengapa” tentang Segala Hal

Bertanya “mengapa” bisa sangat melelahkan, tetapi rasa ingin tahu dan kebiasaan mempertanyakan aturan adalah cara berpikir kritis berkembang. Anak yang sering bertanya “mengapa” akan tumbuh menjadi dewasa yang mampu berpikir mandiri.
Keterampilan yang berkembang: berpikir dan pemecahan masalah. Daripada kesal karena pertanyaan yang terus-menerus, sebaiknya jangan pernah menjawab “karena itu sudah begitu” atau malah menyuruh anak diam. Usahakan menjawab sejujur dan sesederhana mungkin sesuai usia anak. Jika Mama tidak tahu jawabannya, akui saja dan ajak anak mencari tahu bersama, misalnya melalui buku atau internet. Ini justru mengajarkan proses belajar yang menyenangkan.
3. Mengamuk Setelah Pulang Sekolah atau Setelah dari Luar Rumah

Kondisi satu ini bukan perilaku buruk anak ya, Ma. Ini adalah pelepasan emosi mereka setelah sepanjang hari anak berusaha mengatur perilakunya di luar rumah. Saat akhirnya mereka merasa benar-benar aman bersama Mama di rumah, semua emosi yang tertahan keluar.
Perilaku ini justru bisa membuat anak belajar akan kesadaran emosi. Mama jangan langsung memarahi atau menghukum anak saat ia mengamuk. Beri ruang dan waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Mama juga bisa memberi nama pada emosinya. Misalnya seperti, “Mama lihat kamu capek dan kesal ya hari ini?” Setelah tenang, baru ajak bicara perlahan tentang apa yang terjadi.
4. Anak Masih Sangat Sensitif

Emosi kuat pada anak bukanlah sebuah kelemahan, Ma. Seringkali ini berarti anak memiliki empati yang tinggi dan kemampuan memproses emosi secara mendalam. Karena anak masih sangat sensitif, ini justru bisa jadi masalah jika kita berusaha mengeraskannya dengan paksaan.
Jadi, jangan langsung ikut marah padanya ya, Ma. Cobalah untuk memvalidasi perasaan anak, dan jangan pernah mengatakan “Jangan cengeng” atau “Kamu lebay ah.” Ucapkan kalimat seperti “Mama tahu kamu sedih, itu wajar kok.” Kalimat ini akan membantu anak belajar cara menenangkan diri saat emosi meledak. Selain itu, anak juga bisa belajar dengan menarik napas dalam atau memeluk boneka kesayangan.
5. Tidak Mau Diatur Terus-Menerus

Anak yang suka melawan saat disuruh atau diatur memang bikin orangtua geregetan. Tapi ini belum tentu karena anak nakal, ya. Bisa jadi ini adalah caranya belajar menjadi pribadi yang mandiri dan mulai menemukan jati dirinya.
Jadi, ketika anak berkata “nggak mau” atau “aku mau pilih sendiri”, itu sebenarnya tanda perkembangan yang sehat, bukan sekadar pembangkangan. Mama bisa memberikan pilihan sederhana, bukan perintah mutlak. Misalnya, alih-alih “Besok pakai baju merah ini, ya!” coba ucapkan “Acara besok kamu mau pakai baju merah atau biru, nih?” Libatkan juga anak dalam membuat kesepakatan sederhana, seperti aturan menonton TV atau merapikan mainan.
Dengan merasa dihargai dan diberi ruang memilih, anak justru lebih kooperatif karena tidak merasa “dikalahkan.”
Meski sering kali perilaku anak yang seperti ini terasa sangat menjengkelkan, tapi perlu diingat kembali bahwa mereka sedang membangun fondasi penting untuk masa depannya. Jadi, tetap dampingi dengan penuh kesabaran dan kehangatan, ya, Ma!
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











