Dullah menjadi salah satu pelukis yang sangat diminati oleh Bung Karno. Ia memiliki keinginan untuk melibatkan lukisan-lukisan karyanya dalam pendidikan sekolah-sekolah.
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam Majalah Intisari edisi Maret 1989 dengan judul “Dullah, Pelukis Perjuangan”.
Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terbaru kami di sini.
Intisari-Online.com –
Mendengar nama Dullah, mungkin Anda langsung mengingat pada pelukis yang memanfaatkan anak-anak sanggarnya untuk merekam pertempuran antara Republik melawan Belanda. Namun, ternyata selain itu, Dullah juga pernah tinggal di istana selama sepuluh tahun.
Tidak seperti biasanya, Bung Karno menunjukkan sikap keras saat melihat kedatangan Dullah. Saat itu Yogyakarta baru saja kembali ke tangan RI setelah diduduki Belanda dalam agresi yang kedua dan Dullah datang untuk menyambut kembalinya Bung Karno ke istana. “Selama Yogya diduduki Belanda kamu di mana saja?” tanya Bung Karno dengan nada keras kepada Dullah.
“Saya di Yogya terus, memimpin anak-anak membuat dokumentasi lukisan,” jawab Dullah. Dia lalu menunjukkan lukisan-lukisan yang dimaksudkannya itu. Bung Karno yang sudah dikenal Dullah sejak zaman Jepang, senang sekali melihat lukisan-lukisan yang merekam segala peristiwa pendudukan Belanda itu dan Dullah pun lalu dirangkulnya.
Bekas buronan
Lukisan-lukisan yang kini menjadi dokumen sejarah penting ini lahir karena sifat Dullah yang suka melakukan dokumentasi. “Waktu itu saya punya perasaan bahwa pendudukan ini harus didokumentasikan,” cerita Dullah suatu siang di bulan Januari 1989 di rumahnya di Solo, yang sekaligus menjadi museum pribadinya.
“Foto ‘kan waktu itu minim sekali. Mana mungkin orang memotret Belanda yang baru menembaki orang? ‘Kan tidak berani! Tapi dengan lukisan ini bisa digambarkan dan saya pilih anak-anak supaya tidak kentara.”
Selain memikirkan dokumentasi, Dullah, yang lahir di Solo, 9 September 1919, dikenal sebagai pelukis realisme yang senang melukis motif perjuangan. Hal ini barangkali karena dia banyak merasakan penderitaan selama ikut berjuang, baik melawan Belanda maupun Jepang. Berkali-kali dia keluar-masuk penjara, bahkan pernah menjadi orang yang dicari-cari Jepang.

“Lagi pula motif perjuangan kemerdekaan ini bukan motif sembarangan, sebab tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak mendambakan kemerdekaannya dan tidak ada bangsa yang tidak memperingati kemerdekaannya,” kata Dullah.
Sebuah lukisan perjuangannya yang berjudul “Persiapan Gerilya” pernah menjadi kesayangan Presiden Sukarno dan digantung di ruang tempatnya menerima tamu di istana. Lukisan ini sekarang disimpan di Gedung Juang, Jakarta.
Dullah berharap lukisan-lukisan seperti itu bisa diproduksi untuk sekolah-sekolah. Lewat lukisan semacam itu anak-anak bisa memahami arti suatu perjuangan dan karena itu bisa dipakai untuk mempersiapkan jiwa patriotisme anak-anak sejak dini.
Tak mau lebih bagus dari aslinya
Namun, bukan berarti semua lukisan yang dibuat Dullah, yang jumlahnya sudah mencapai ribuan, selalu menggambarkan perjuangan. Dia juga bisa tertarik akan keindahan alam, kecantikan seorang wanita, atau keluguan seorang anak.
Dullah merupakan salah satu pelukis potret yang menonjol di samping Basuki Abdullah. Kebetulan pula keduanya senang melukis wanita-wanita cantik. Hanya bedanya, kebanyakan model Dullah adalah wanita-wanita desa, yang kata orang: ayu tidak dibedaki, cantik alamiah. Dullah tidak mau membuat objek atau modelnya menjadi lebih bagus dari aslinya, karena dia tidak mau menghilangkan ciri-ciri yang ada pada model.
Pelukis yang tetap bertahan dengan corak realismenya
Sebagai pelukis kawakan yang tetap bertahan dengan corak realismenya, Dullah sadar kalau dirinya sering dianggap aneh oleh pelukis-pelukis yang lebih modern. Menurut Dullah, ini mungkin karena pelukis-pelukis modern banyak yang menganggap corak itu sebagai tujuan, tempat mengungkapkan gejolak hatinya di atas kanvas – perkara orang lain mengerti atau tidak, bukan urusannya.
Maka muncullah corak yang aneh-aneh, yang kadang nampak seperti coretan asal-asalan saja. “Karena itu saya ini sekarang jadi aneh sendiri. Kalau dulu mereka yang aneh, sekarang saya, sebab tidak ada pelukis lama yang seperti saya,” tutur Dullah tertawa.
Muda ngebut, tua juga ngebut
Walaupun dianggap kuno, nyatanya lukisan-lukisan Dullah termasuk laku. Dia juga bisa mengoleksi ratusan lukisan karyanya sendiri dan dia sendiri mengaku tidak gampang-gampang melepas koleksinya, tentunya harga lukisannya termasuk tinggi.
Apalagi dia mengaku hidupnya seratus persen dari melukis. Bahkan di kemudian hari juga bisa membangun museum sendiri. Tentang kerjanya yang cukup produktif, Dullah punya falsafah sendiri.
Ketika masih muda, dia punya semboyan: mumpung masih muda dan kuat, kebutlah kerja itu. Sementara saat usianya sudah menua: mumpung masih ada sisa umur, kebut! “Umur itu ‘kan dijatah. Kalau tidak digunakan betul-betul, tidak pakai disiplin, bisa hilang begitu saja. Kita yang rugi,” katanya.
Museum Dullah
Museum Dullah dibuka bulan Agustus 1988. Atapnya berbentuk joglo, pintu-pintunya berukiran Jawa sedangkan tiang-tiang betonnya diberi ukiran Bali. Hampir di setiap sudut tembok ada patung singa bersayap gaya Bali. Di dalamnya dipamerkan sebanyak 500 lukisan yang terpaksa digantung rapat-rapat.
Padahal masing ratusan lagi koleksinya yang belum dipasang karena sudah ada tempatnya. Ribuan koleksi patungnya dan keramiknya terpaksa disimpan di dalam kardus di gudang dulu. Dullah pun masih membutuhkan tempat lain untuk koleksi buku dan majalahnya, yang hendak dijadikannya perpustakaan.
Memiliki karya Rade Saleh
Museum yang dibangunnya dengan biaya sendiri itu terdiri atas tiga bagian. Gedung pertama, yang terletak di sebelah kanan pintu gerbang, dipakai khusus untuk memamerkan lukisan karyanya — yang tertua dari tahun 1939, berupa 200 lukisan cat minyak, 25 lukisan cat air dan 75 sketsa.
Di sebelah belakang sepertiga temboknya digantungi lukisan-lukisan tua dari pelukis-pelukis lain, seperti Affandi, S. Sudjojojo, Trubus, Abdus Salam, Harjadi S, Ernest Dezentje, Basuki Abdullah dan ayahnya (R. Abdullah Suryosubroto), lukisan Raden Saleh yang berusia 150 tahun dan lukisan karya Bung Karno yang dibuat tahun 1920-an.
Di seberang tembok ini ada ruangan terbuka. Di sini dipajang barang-barang kerajinan seperti patung, keramik, kasongan, relief-relief batu, yang dinaungi sebuah pohon belimbing.
Bangunan tengah untuk lukisan-lukisan tradisional Jawa dan Bali. Juga ada lemari tempat menyimpan empat buku koleksi seni lukis dan sebuah buku koleksi keramik Bung Karno. Gedung ketiga berisi khusus lukisan perjuangan yang dibuat oleh murid-murid Dullah, termasuk 84 lukisan yang dibuat anak-anak di masa revolusi itu.
Raja dan presiden punya lukisannya
Selain pelukis, Dullah juga seorang pendidik. Dia selalu memikirkan membuka sanggar di mana dia bisa mengajar seni lukis. Sanggarnya yang terakhir bernama Sanggar Pejeng yang berpusat di Bali. Secara terus terang dia mengatakan bahwa tujuannya mendirikan sanggar adalah untuk mendidik penerusnya dan mengharapkan agar murid-muridnya itu nanti berguna bagi bangsa, misalnya dengan pembuatan lukisan-lukisan perjuangan.
Dullah pernah punya murid sekaligus 90 orang. Karena merasa sudah tidak kuat lagi — karena umurnya yang sudah tidak mengizinkan lagi — jumlah ini dikurangi hanya sampai 25 orang saja. Untuk belajar padanya, seorang murid tidak harus punya bakat besar, yang utama adalah kemauan.
Anehnya, Dullah selalu menekankan muridnya agar sudah bisa jual lukisan setelah enam bulan belajar, terutama buat murid yang ekonominya kurang mampu. Dengan begitu si murid bisa membiayai sekolahnya. Sistem seperti ini memang berisiko besar: karena sudah bisa cari uang, si murid lantas cari uang terus dan melupakan pelajarannya. “Tapi paling tidak saya sudah memberinya modal untuk cari makan,” katanya lagi.
Di samping melukis, Dullah ternyata juga senang menulis, yang sudah dimulai sejak dia berusia belasan tahun. Tahun 1949, sajak yang ditulisnya di penjara – bersama sajak Chairil Anwar, Muchtar Apin — dimuat dalam sebuah penerbitan di Pakistan, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Sampai tahun 1983 dia masih rajin menulis di berbagai media cetak. Puisi-puisinya banyak yang bermotifkan kerakyatan, bercerita tentang rakyat kecil.
Di samping tentang koleksi seni dan keramik Bung Karno, buku tentang lukisan perjuangan dan lukisan anak-anak, kini ada beberapa buku yang telah selesai ditulis, tapi belum diterbitkan. Di antaranya ulasannya tentang sastra Jawa seperti sajak yang ditulis oleh Mangkunegoro IV atau uran-urab rakyat kecil.
Dullah yang merupakan anak sulung dengan empat adik ini menikah dengan Bibi Jan Jaerabbi Fatima, yang berdarah India, pada tahun 1939. Sebelum menikah, Fatima adalah guru bahasa Belanda di HIS. Mereka dikaruniai seorang putra, Sawarno, seorang insinyur lulusan UGM, yang memberi mereka tiga orang cucu.
Setelah bergelut dalam dunia seni lukis hampir sepanjang usianya itu, Dullah sebetulnya boleh berbangga hati. Banyak orang besar dunia yang menjadi kolektor lukisannya, a.l. Raja Farouk, Tito, Eisenhower, dll.











