My WordPress Blog
Hukum  

Suara Kekerasan Ibu Tiri di Sukabumi Dibantah, Korban Diduga Alami Penyakit Berat

Penjelasan Ibu Tiri Terkait Kematian Anak Tiri

Dengan nada bicara yang tinggi, ibu tiri berinisial TR membantah keras tuduhan bahwa dirinya telah menganiaya NS hingga meninggal dunia. Menurutnya, kematian anak tirinya bukan disebabkan oleh tindakan kekerasan, melainkan karena penyakit serius yang telah lama diderita. Dalam penjelasannya, TR menyebut bahwa NS meninggal karena menderita kanker darah.

Kasus kematian bocah di Sukabumi berinisial NS (12) yang merujuk pada sosok ibu tiri diduga melakukan kekerasan telah menarik perhatian banyak pihak. Sebelumnya, NS disebut-sebut meninggal dunia usai disiksa oleh sang ibu tiri, TR. Informasi yang beredar menyebut bahwa NS mengalami luka bakar dan melepuh di sekujur tubuh. Bahkan, kabarnya ia mengalami nasib pilu itu karena disuruh minum air panas oleh ibu tirinya.

Atas isu miring yang beredar tersebut, TR akhirnya buka suara. Dalam rekaman suara yang beredar, TR menyatakan bahwa NS meninggal karena mengidap penyakit parah yakni kanker darah. “Korban sakit aja, sakit panas. Kalau kemarin sih informasinya dari saksi pak Surahmat yang diperiksa yang diBAP di Polsek tapi tidak memberikan bukti otentiknya ya hanya melihat dari HP, kalau anak itu (korban) didiagnosa kanker darah, leukimia, autoimun,” ujar TR.

Menurut TR, luka bakar yang ada di tubuh NS bukanlah akibat penganiayaan, melainkan karena panas dalam akibat penyakit kanker darah. “Jadi pure sakit. Kalau pun ada itu kulit (melepuh) itu akibat dari panas dalam aja. Karena kanker darah itu, informasi dari saksi,” tambahnya.

TR juga menjelaskan awal mula kasus ini terungkap. Menurutnya, yang pertama kali memviralkan kematian NS adalah ayahnya sendiri, Anwar Satibi dan rekannya Haji Isep. Berbeda dengan narasi yang diungkap Anwar, TR menyebut bahwa korban diinterogasi sang ayah saat dalam keadaan sekarat. Karenanya, terjadi kesalahpahaman saat korban ditanyai soal penganiayaan.

“Jadi mungkin itu (ketika anak bilang) ‘mama, mama’ menurut saya itu karena manggil aja, biar saya yang jelaskan, namanya anak udah selang-seling (sekarat) mungkin. Belum ada apa-apa langsung diupload, sama Haji Isep, ya itulah sama netizen digoreng,” jelas TR.

Syok disebut sebagai pelaku penganiayaan anak tiri, TR pasrah. “Kalau saya kan pasrah aja, Allah yang Maha Tahu. Kalau memang ini membuat anak saya tenang, ya apa boleh buat. Aturan di Indonesia, manusia kan bisa diubah, kalau aturan Allah kan tidak, mudah-mudahan ada keajaiban,” katanya.

Namun, TR menyebut bahwa ia tidak terima saat kematian anaknya diviralkan. “Kalau saya sih berharap ini tidak diperpanjang, tidak dipersulit, tidak diteruskan. Toh anak saya kan sudah hilang, sudah tidak ada, saya berduka ini. Apa dengan diautopsi, diviralkan, apa keuntungan buat saya? Anak tidak bisa hidup lagi,” ujarnya.

Sembari berbicara dengan nada tinggi, TR juga mengungkit soal uang dan tenaga yang ia keluarkan demi mengubur korban. “Anak sekarang dikuburkan dipusarakan harus pake duit. Ada tidak sih yang membantu saya? jangan menajdi pahlawan kesiangan. Giliran saya tahlil, ke kyai, yang gali kubur, tahlil di kampung harus pakai duit, saya yang ngurusin. Apa ada netizen yang merasa sok kasihan ke anak. Kalau kasihan sok sumbang, urusin sampai anak itu dikuburkan, kan harusnya begitu, bukan digoreng di media sosial,” ungkap TR emosi.

Kronologi Versi Pihak Ayah

Sebelumnya, terkait dugaan penganiayaan dilakukan oleh TR, paman korban sempat mengurai cerita mengejutkan. Paman korban, Isep Mahesa menyebut bahwa awal mula kejadian saat ayah korban, Anwar Satibi dikabari bahwa putranya sakit parah. Langsung datang ke rumah sakit, Anwar kaget melihat tubuh anaknya terluka parah dan melepuh.

Padahal sebelumnya Anwar mengetahui kondisi putranya itu dalam kondisi sehat dan ceria bahkan sempat mengajak korban jalan-jalan naik mobil. “Pas mau puasa, diadakan libur dulu (dari pesantren) disuruh pulang ke rumah. Dalam jangka puasa mau 5 hari lagi itu anak masih sehat, jalan-jalan di mobil. Setelah itu bapaknya pergi ke Sukabumi, ibunya nelpon katanya anaknya sakit. Bapaknya pulang subuh-subuh, itu anaknya udah keadaan parah di rumah,” kata Isep Mahesa.

Diungkap Isep, Anwar semakin terkejut usai mendengar penjelasan dari dokter. Bahwa kata dokter NS terindikasi mengalami tindak penganiayaan. “Kata ibunya itu bilangnya sakit panas, udah dibawa di rumah sakit. Tapi begitu di rumah sakit, ada dokter bilang kepada bapaknya bahwa ini ada indikasi ada penganiayaan. Setelah itu saya sama bapaknya izin mempertanyakan ke anaknya apa memang ada penganiayaan,” imbuh Isep.

Isep yang ada di rumah sakit pun langsung bertanya ke korban soal siapa yang menganiayanya. Dengan sigap NS menunjuk ibu tirinya sebagai diduga pelaku penganiayaan dirinya. Kata NS, ia disuruh minum air panas oleh ibu tirinya serta mendapatkan kekerasan lainnya. “Anak tersebut bisa menjawab sesuai dengan bukti yang ada di video. Almarhum disuruh minum air panas katanya sama mamanya,” ujar Isep.

“Banyak luka bakar, ada yang di tangan, ada yang di paha, di belakang, pinggang, kaki, di mukanya juga di hidungnya, banyak,” sambungnya.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *