Pengalaman Menonton Film “Keadilan (The Verdict)”
Di tengah keterbatasan anggaran untuk menonton film, saya harus memilih dengan cermat film yang akan ditonton di paruh kedua November ini. Pilihan saya jatuh pada film “Keadilan (The Verdict)” yang merupakan kolaborasi antara Korea Selatan dan Indonesia. Film ini disutradarai oleh Lee Chang Hee dan Yusron Fuadi, yang sebelumnya dikenal melalui film debutnya “Tengkorak” yang sukses menarik perhatian karena menyentuh genre fiksi ilmiah.
Ada beberapa alasan mengapa film ini menarik perhatian saya. Pertama, “Keadilan (The Verdict)” mengingatkan saya pada serial Amerika “Dark Justice” dari tahun 1990-an, yang terkenal dengan pernyataan tokoh utamanya: “Keadilan mungkin terkadang buta, tetapi dia bisa melihat dalam kegelapan.” Tokoh utamanya adalah seorang hakim yang berusaha membawa penjahat yang lolos dari jerat hukum dengan berbagai cara.
Kedua, film ini juga mengingatkan saya pada realitas hukum saat ini yang sering membuat darah mendidih. Di era digital, istilah “no viral no justice” menjadi semakin umum, di mana keadilan terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Salah satu kutipan menarik dalam film ini adalah, “Di persidangan, kebenaran adalah yang menang.”
Dialog antara Raka dan Nina mencoba menjawab pertanyaan tentang seberapa efektif dan semanusiawi hukum bisa menyelamatkan seseorang. Jawabannya datang dari istrinya, yang menentukan hukum, tetapi itu adalah orangnya. Kutipan Surat Ayat 135 di Gedung Fakultas Hukum Harvard juga menjadi bagian penting dari film ini, yaitu “jadilah kamu menjadi penegak keadilan.”
Kehidupan Raka, Seorang Satpam
Orang yang mencari keadilan bukanlah mantan hakim atau jaksa yang kehilangan kepercayaan pada sistem hukum setelah kematian istri dan anaknya. Justru seorang satpam di Gedung Pengadilan bernama Raka (Rio Dewanto) yang menjadi tokoh utama. Awalnya, Raka adalah orang yang patuh pada sistem, meskipun ia menyaksikan sendiri bagaimana anak orang kaya bernama Sadam (Rafly Altama) yang membuat cacat wajah seorang anak muda lolos dari hukum karena kepiawaian pengacara licin bernama Timo (Reza Rahadian). Sadam disebut menderita schizofrenia hingga tidak dapat dihukum.
Raka bahkan melindungi Sadam dari kemarahan ibu korbannya, yang akhirnya membuatnya dihadiahi voucher makan malam di restoran premium milik ayah Sadam. Raka mengajak istrinya, Nina (Niken Anjani), yang sedang hamil tua, untuk makan di tempat itu dan menjadi awal petaka. Sang istri rupanya tidak suka diajak makan malam yang dianggap sogokan, lalu pergi ke toilet. Dalam perjalanan, ia menjatuhkan ponsel milik Dika (Elang El Gibran) yang akhirnya dibunuh di toilet.
Kritik Sosial dan Kepiawaian Sutradara
Film ini menyindir situasi saat ini, termasuk kritik terhadap Bono (Eduwart Manalu) yang merupakan pelaku illegal logging, yang sering menimbulkan kegeraman masyarakat adat dan aktivis lingkungan. Meski begitu, kebanyakan kasus sulit dibuktikan dan sangat lihai.
Timo bekerja sama dengan Jaksa Burhan Yusuf (Dimas Aditya) yang korup untuk membuat persidangan menyudutkan Raka. Berubahlah Raka menjadi Nicholas Marshall-nya Dark Justice ala Indonesia dengan menyandera pengadilan di hari pengambilan keputusan menggunakan senjata dan bom, mirip aksi terorisme. Ia menuntut sidang ulang yang disiarkan melalui YouTube. Sementara Timo tidak bisa membeli Hakim Hanum Triatmaja (Dian Nitami) yang memiliki integritas.
Di luar, Raka dibantu oleh rekan-rekannya yang akan mengungkapkan bahwa Raka bukanlah satpam kaleng-kalengan. Siapakah yang akan menang?
Akhir yang Tidak Biasa
Percayalah, meskipun ini keadilan yang diwujudkan sebagai utopia, ending film ini memberikan solusi win-win. Siapa pun yang melanggar hukum akan mendapatkan hukuman selayaknya, meskipun tidak akan berarti banyak bagi orang yang sudah kehilangan segalanya dibandingkan mereka yang memiliki reputasi.
Dari segi sinematografi, detail yang diberikan oleh Lee Chang Hee membuat film ini tidak rumit dengan bahasa hukum. Sementara Yusron Fuadi meramu suasana Indonesia sehingga film ini tidak terasa seperti Korea yang dipindahkan begitu saja ke negeri ini.
Akting yang Mengesankan
Dari segi akting, Reza Rahadian tampil luar biasa sebagai pengacara licin. Ia bekerja untuk uang, tetapi tidak mau menjilat kliennya. Dalam film ini, ia mengatakan, “Saya bekerja untuk Bapakmu,” yang menggambarkan sikapnya terhadap klien. Di matanya, baik Sadam maupun Raka adalah pecundang. Jika bukan uang bapakmu, kamu ada di sel tahanan, cobalah bersyukur. Pernyataannya yang menohok.
Rio Dewanto juga bermain gemilang sebagai orang yang cinta damai tetapi marah besar ketika merasa keadilannya diinjak-injak. Rafly Altama dan Elang El Gibran juga memberikan penampilan yang menarik, terutama dalam adegan di mana Sadam kewalahan ketika Raka dengan mudah melumpuhkan bodyguardnya, serta kekalutan Dika ketika Raka memegang pistol dan bom.
Kesimpulan
Ya, akhirnya “Keadilan (The Verdict)” memberikan suguhan yang berbeda. Saya tidak merasa rugi memilihnya, ada yang bisa saya bawa pulang.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











