Penjelasan Basarnas Mengenai Data Smartwatch Farhan Gunawan
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, memberikan penjelasan terkait dugaan bahwa Co-pilot pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan, masih hidup berdasarkan data dari smartwatch miliknya. Ia menegaskan bahwa rekaman yang muncul di perangkat tersebut adalah rekaman lama yang berasal dari Jogja, sehingga dugaan bahwa Farhan selamat tidak terbukti.
Farhan merupakan salah satu dari 10 penumpang pesawat ATR 42-500 yang terbang dari Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat tersebut mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung pada Sabtu (17/1/2026). Keluarga pacar korban menduga bahwa Farhan masih hidup karena adanya deteksi langkah kaki pada smartwatch miliknya yang terekam di ponsel.
Namun, Syafii menjelaskan bahwa rekaman tersebut bukan berasal dari waktu setelah insiden jatuhnya pesawat, melainkan tercatat beberapa bulan sebelum kejadian. “Kami dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan, bahkan Tim Siber ikut juga, ini setelah dikonfirmasi ternyata itu adalah rekaman beberapa bulan yang lalu pada saat yang bersangkutan jalan-jalan di Jogja,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta.
Syafii menyampaikan bahwa hasil penjelasan tersebut telah disampaikan langsung kepada pihak keluarga korban. Menurutnya, keluarga telah memahami klarifikasi yang diberikan oleh Basarnas. “Dari pihak keluarga juga sudah memahami, dan kita juga memahami perasaan keluarga, makanya itu di-broadcast,” tambahnya.
Proses Pencarian dan Evakuasi Korban
Basarnas memastikan proses pencarian dan evakuasi korban masih terus diintensifkan dengan memanfaatkan waktu krusial yang ada. Diharapkan seluruh korban dapat segera ditemukan dan dievakuasi. Namun, operasi SAR selama empat hari menghadapi kendala berat karena lokasi kejadian berada di kawasan pegunungan dengan kondisi ekstrem.
Medan berupa tebing terjal dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung setinggi lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut menjadi tantangan utama. Situasi tersebut menuntut penggunaan metode pencarian dan evakuasi khusus, baik melalui jalur darat maupun dengan dukungan udara menggunakan helikopter serta pesawat Caracal.
“Tantangan terbesar adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi,” ucap Syafii. Ia juga mengajak masyarakat untuk turut mendoakan keselamatan seluruh personel gabungan yang masih bertugas dalam upaya pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep–Maros, Sulawesi Selatan.
Permintaan Bantuan dari Keluarga Farhan
Sebelumnya, keluarga Farhan Gunawan, kopilot pesawat ATR 42-500, memohon bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto. Permintaan tersebut muncul setelah smartwatch milik Farhan terdeteksi masih aktif dan mencatat sekitar 13 ribu langkah. Hal itu disampaikan oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai kakak dari Dian, kekasih Farhan Gunawan.
Ia menjelaskan bahwa ponsel Farhan telah ditemukan oleh tim SAR di kawasan hutan dan kemudian diserahkan kepada Dian. Menariknya, ponsel tersebut masih tersambung dengan jam tangan pintar yang dikenakan Farhan. Dari data di perangkat itu, terlihat adanya catatan aktivitas langkah kaki.
“Saya minta tolong ke media, bahwa pesawat jatuh tanggal 17, tanggal 18 dilakukan pencarian dan HP Farhan ada dapat di hutan. Nah HP itu sudah dipegang adik saya.”
“Nah, hapenya itu terhubung ke smartwatch-nya. Ternyata ada pergerakan langkah kaki Farhan,” ujarnya dalam video tersebut.
Pada Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WITA, tercatat sejumlah langkah kaki, dan jumlah tersebut terus bertambah cukup signifikan hingga malam hari. Berdasarkan temuan itu, pihak keluarga meminta Presiden Prabowo agar mengerahkan tambahan personel SAR. Mereka berharap kepala negara dapat membantu menyelamatkan Farhan.
“Dari pagi jam 6 ada beberapa langkah, terus ditambah lagi jam 10 sampai malam juga ada.”
“Saya mohon sekali Pak Presiden Prabowo Subianto, selamatkan Farhan pak,” pintanya sambil terisak.
Profil Co Pilot Farhan Gunawan
Muhammad Farhan Gunawan merupakan pria kelahiran Desa Malili, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Capt Gunawan dan Hj Indah. Ia punya dua adik yang masing-masing sedang menempuh pendidikan di Fakultas Gigi Unhas dan SMA Telkom.
Di luar itu, Farhan memiliki latar belakang pendidikan yang cukup cemerlang sebagai lulusan SMA Athirah 1 Makassar. Ia dikenal aktif berorganisasi dengan pernah menjabat sebagai Ketua OSIS baik di tingkat SMP maupun SMA. Karier penerbangannya dimulai dengan menempuh pendidikan di berbagai sekolah aviasi ternama.
Ia tercatat pernah menempuh pendidikan Private Pilot License di Deraya Flying School pada periode 2018 hingga 2019, kemudian melanjutkan Commercial Pilot License di Indonesia Civil Pilot Academy hingga Oktober 2020. Tak hanya itu, Farhan juga memiliki kelengkapan Multi Engine Rating serta Instrument Rating, dan sempat mengikuti ATPL Ground School di Bali International Flight Academy pada awal tahun 2021.
Sejak Desember 2023, Farhan resmi menjalankan tugas profesionalnya sebagai second in command atau pilot junior di PT Indonesia Air Transport hingga akhirnya mengalami musibah dalam penerbangan menuju Makassar tersebut.
“Farhan pernah menjadi Ketua OSIS SMP Islam Athirah periode 2014-2015. Ketua OSIS SMA Islam Athirah periode 2016-2017,” kata mantan Direktur Sekolah Islam Athirah Syamril seperti dikutip dari Tribun Timur. Setelah lulus, Farhan menempuh pendidikan di Akademi Penerbangan Indonesia. Ia tercatat sebagai alumni Taruna. Kini dia tercatat menjadi satu dari 10 korban pesawat ATR 42-500.











