My WordPress Blog

Cuaca Ekstrem Mengancam: Warga Tingkatkan Kesiapsiagaan, ASN Siaga, BPBD Pantau 24 Jam

Cuaca Ekstrem Mengancam Wilayah Kepulauan Bangka Belitung

Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali menghadapi ancaman cuaca ekstrem menjelang akhir tahun. Warga di beberapa kabupaten dan kota, termasuk Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, Bangka Barat, dan Bangka Selatan, mulai mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana yang sering terjadi setiap musim hujan.

Di Pangkalpinang, warga sudah mengambil langkah-langkah pencegahan sejak dini. Misalnya, Yanti (52), warga Gg. Merpati, Kelurahan Gedung Nasional, Kecamatan Taman Sari, tampak sibuk mengatur tumpukan pakaian yang ia letakkan di atas kasur yang tinggi. Kasur yang biasanya berada di lantai itu sengaja dinaikkan menggunakan kursi dan kayu-kayu lain. Ini adalah bentuk pertahanan yang ia bangun sendiri sejak hampir tiga dekade lalu untuk menyelamatkan barang-barang dari banjir tahunan.

Rumah sederhana Yanti memang berada di kawasan yang dikenal rawan banjir. Setiap tahun, banjir selalu datang, dengan ketinggian air bisa mencapai setinggi betis orang dewasa. Ia mengatakan, “Setiap tahun pasti ada banjir, pasti ada yang parah. Paling tidak setinggi betis orang dewasa.”

Pada saat mengunjungi rumahnya, hampir seluruh barang berharga sudah dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi. Kasur-kasur, baju, hingga dokumen penting keluarga sudah ditata rapi di bagian atas. Sebagian kasur terlihat rusak di bagian bawah bekas sering terendam banjir. “Sudah biasa, jadi harus antisipasi. Kalau hujan deras terus pasang air laut, cepat sekali air masuk ke rumah,” ujarnya.

Yanti masih mengingat banjir besar tahun 2016, peristiwa yang merendam seluruh bagian rumahnya hingga membuatnya kesulitan menyelamatkan barang-barang. Sejak itu, ia dan keluarga sepakat membuat ranjang tinggi sebagai penyelamat. Meski sudah puluhan kali menjadi korban banjir, Yanti tak pernah berniat pindah rumah. “Tanah di Pangkalpinang mahal. Lagian rumah ini dekat pasar, dekat ke mana-mana. Enak tinggal di sini,” katanya sambil tersenyum kecil.

Namun, Yanti juga berharap pemerintah bisa membantu mengurangi risiko banjir di kawasan tempat tinggalnya. “Kalau bisa, tolong dibantu supaya daerah kami ini tidak banjir lagi. Kasihan warga di sini setiap tahun pasti kena. Kalau bisa diperbaiki salurannya, atau dibuatkan penanganan supaya air cepat turun,” pintanya dengan nada lirih.

Keadaan Warga Lain yang Mengkhawatirkan

Erna (59), warga Gang Merpati, Kecamatan Rawa Bangun, juga mengalami kecemasan setiap kali hujan turun. Hujan yang turun perlahan mungkin terdengar menenangkan bagi sebagian orang, tetapi bagi Erna, langit mendung justru menghadirkan kecemasan. Ia hanya perlu melihat genangan tipis di halaman rumah untuk kembali teringat pada masa-masa kelam ketika banjir menerjang.

“Jangankan hujan lebat, hujan sedikit saja sudah khawatir. Kalau lihat air mulai menggenang sudah khawatir, karena air itu cepat naiknya kalau banjir,” ujarnya pelan, sembari menatap aliran air kecil dari selokan depan rumahnya.

Catatan Pusdalops BPBD provinsi menunjukkan 115 bencana alam terjadi sepanjang 1 Januari hingga 28 November 2025. Banjir, angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan terjadi silih berganti, menimbulkan kerugian pada ribuan warga. Sebanyak 1.591 KK atau 4.735 jiwa terdampak, dengan ratusan bangunan rusak ringan, sedang, dan berat. Bangka Tengah menjadi daerah paling banyak dilanda bencana, disusul Bangka Barat dan Bangka.

Persiapan BPBD dalam Menghadapi Bencana

BPBD Kota Pangkalpinang menyiagakan sebanyak 95 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Pangkalpinang dalam beberapa hari terakhir. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (P2K) BPBD Kota Pangkalpinang, Nur Ikhsan, mengatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung hingga Februari 2026, dengan puncak intensitas hujan dan angin kencang pada November 2025.

Sebanyak 95 personel TRC tersebut dibagi menjadi empat regu, terdiri dari tiga regu lapangan dan satu regu sekretariat. Masing-masing regu memiliki tugas berbeda, mulai dari pemantauan lapangan, evakuasi warga terdampak, hingga koordinasi administrasi di posko utama. Selain siaga penuh, BPBD juga mengintensifkan patroli rutin pagi, siang, dan malam di berbagai titik rawan genangan air.

Kewaspadaan di Wilayah Lain

BPBD Bangka Barat mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana di akhir tahun 2025, khususnya bencana hidrometeorologi menyusul perkiraan cuaca ekstrem. Potensi cuaca ekstrem yang dimaksud meliputi hujan deras, angin kencang, serta perubahan suhu mendadak yang berisiko memicu banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Kepala BPBD Kabupaten Bangka Barat, Safrizal, mengatakan, pihaknya telah meningkatkan pemantauan perkembangan cuaca dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. “Guna meminimalisir dampak bencana hidrometeorologi ini, warga diminta melakukan mitigasi lingkungan sejak dini. Mulai dari membersihkan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, hingga memantau kondisi pohon di sekitar rumah,” ujar Kepala BPBD Bangka Barat, Safrizal.

Siaga ASN di Bangka Selatan

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mengingatkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) agar berada dalam kondisi siaga penuh menghadapi potensi bencana pada akhir 2025 hingga memasuki 2026. Wakil Bupati Bangka Selatan, Debby Vita Dewi, mengimbau seluruh ASN mengambil sikap tanggap dan siap siaga. Ajakan ini dinilai penting sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dinamika cuaca ekstrem, kondisi geografis yang rawan banjir dan angin kencang, serta tuntutan pelayanan publik pada tahun mendatang.

Debby menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tetapi seluruh ASN. Seluruh perangkat daerah harus memahami peran masing-masing dalam mitigasi, penanganan, hingga pemulihan pascabencana.

Peringatan BPBD Bangka Tengah

BPBD Kabupaten Bangka Tengah mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi pada penghujung tahun 2025. Kepala BPBD Bangka Tengah, Yudhi Sabara, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiagakan personel dan peralatan selama 24 jam penuh sebagai langkah antisipasi memasuki musim penghujan.

Berdasarkan pemetaan dan mitigasi yang dilakukan, sejumlah wilayah di Bangka Tengah memiliki kerentanan terhadap bencana angin kencang maupun banjir rob. “Jenis bencana yang paling sering terjadi di Bangka Tengah adalah angin kencang dan banjir rob. Untuk banjir rob, hasil mitigasi kami menunjukkan bahwa daerah Kurau, Batubelubang, dan Sungai Selan termasuk yang paling rawan,” jelasnya.

Sebagai langkah awal penanganan, BPBD Bangka Tengah juga telah menempatkan relawan-relawan tanggap bencana di tiap wilayah. Relawan ini diharapkan mampu memberikan respons cepat ketika situasi darurat terjadi. “Kami sudah menempatkan relawan di sejumlah titik. Harapannya, jika terjadi sesuatu, penanganan awal bisa langsung dilakukan oleh tim relawan yang berada di lokasi,” pungkas Yudhi.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *