My WordPress Blog
Hukum  

Bayi di Sorong Meninggal Diduga Akibat Pembingkisan, Nenek Nani Dapat Bantuan Hukum

Advokat Kota Sorong Berjuang untuk Kasus Bayi yang Meninggal Karena Penanganan Medis yang Tidak Memadai

Seorang advokat di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Albert Fransstio, mengambil alih kasus kematian bayi empat bulan bernama Julyus Kingkly Kaibu. Menurut informasi, bayi tersebut meninggal diduga akibat terlambat mendapat penanganan medis karena proses perawatan yang tidak efisien.

Pada Jumat (28/11/2025), Albert bertemu dengan Nani Suhartini (60), nenek dari Julyus, di kawasan Pasar Bersama, Kelurahan Malabutor, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong. Kedatangannya dalam rangka menyatakan kesediaannya menjadi penasihat hukum keluarga korban. Nani menyambutnya dengan haru dan rasa terima kasih.

Albert mengungkapkan bahwa setelah kasus Irene Sokoy yang meninggal karena ditolak oleh empat rumah sakit di Jayapura, Papua, kini kembali terjadi kasus serupa di Sorong. Ia menilai praktik dugaan skandal mafia kesehatan ini nyata dan merugikan masyarakat kecil seperti Nani yang membawa cucunya berobat.

“Praktik dugaan skandal mafia kesehatan ini nyata, orang kecil seperti Nenek Nani, bawa cucunya berobat dioper-oper,” ujarnya.

Pengalaman Keluarga Nani Saat Membawa Julyus Berobat

Nani Suhartini (60) datang ke kantor pada Rabu (26/11/2025). Ia menceritakan pengalamannya saat mencoba membawa cucunya ke rumah sakit, tetapi “dipingpong”. Pada Selasa (18/11/2025) subuh, putra kedua Gloriya Zulhy Kaisma (20) demam tinggi. Nani kemudian membawa cucunya ke RS Herlina, meminta pertolongan kepada petugas di loket pelayanan.

“Saya bilang, tolong ini anak demam tinggi. Mereka jawab ruangan penuh. Saya bilang, saya tidak minta ruangan, cuma minta tolong anak ini diperiksa,” ucapnya terbata-bata menahan sedih.

Nani kemudian pulang ke rumah karena merasa datang terlalu pagi, lalu kembali ke RS Herlina sekitar pukul 07.30 WIT, tetapi diarahkan agar ke Puskesmas Malawei atau ke RS Angkatan Laut. Nani pun bertolak ke Puskesmas Malawei sembari menunjukkan akta kelahiran Julyus. Ia berharap cucunya bisa segera dipasang infus atau diberikan tindakan awal, namun petugas memintanya menunggu.

“Mereka tanya BPJS, saya bilang tidak tahu soal BPJS, yang penting anak ini ditolong dulu. Mereka bilang tunggu, saya tunggu lama, tapi tidak ada penanganan,” kata Nani.

Setelah hingga siang belum ada kejelasan, Nani memutuskan pergi ke RSUD Sele Be Solu, juga menumpang ojek. Ia tiba sekitar pukul 13.00 WIT, namun harus menunggu lama guna mendapatkan penanganan, itu pun ketika suaminya Sorter Kaesma (66), yang OAP datang menyusul.

“Tunggu dua jam baru ada (penanganan). Mereka (pihak RSUD) bilang pasien penuh, sementara anak ini sudah seperti mayat hidup,” ucapnya sambil menangis.

Penjelasan Rumah Sakit dan Puskesmas

Manajemen RS Herlina membantah adanya dugaan penolakan pasien bayi berusia empat bulan sebagaimana disampaikan keluarga korban. Perawat Unit Gawat Darurat (UGD) menyebut, pada 18-19 November 2025 tidak ada nenek-nenek datang sambil membawa pasien bayi. Hal senada disampaikan Ketua Komite Medik RS Herlina dr. Theo. Menurutnya, RS memiliki prosedur tetap dalam menangani setiap pasien yang datang, termasuk kasus gawat darurat.

“Kalaupun ada pasien (datang subuh), kami tidak akan tolak. Di sini SOP kami, akan ditangani dan diperiksa secara langsung,” kata dr. Theo.

Pihak RS Herlina menyatakan sudah memeriksa kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) guna memastikan ada atau tidaknya pasien dimaksud (Nani dan cucunya), hasilnya tidak ada.

Pihak lainnya, yakni Puskemas Malawei menyebut, petugas sudah menyiapkan penanganan awal, kepada bayi tersebut, namun si nenek menolak. “Petugas mau pasang infus, tetapi pihak keluarga (nenek), meminta agar cucunya berobat jalan saja,” kata Kepala Puskesmas Malawei.

Direktur RSUD Sele Be Solu drg. Susi Petronela Djitmau mengatakan, pasien membeludak sejak 15 November 2025, namun pihak rumah sakit tetap melayani pasien, termasuk pasien balita Julyus yang berobat pada 18 November 2025.

“Tim IGD RS SBS (Sele Be Solu) sudah melayani pasien itu. Dia datang dengan dehidrasi berat,” ujarnya.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *