My WordPress Blog
Budaya  

Selamat Datang Ramadhan: Hati dan Lingkungan Bersih

Perayaan Hari Peduli Sampah Nasional di Tengah Momentum Ramadhan

Perayaan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun ini terasa istimewa karena berlangsung pada sepuluh hari pertama bulan suci Ramadhan 1427 H. Keutamaan sepuluh hari pertama Ramadhan ditandai dengan kehadiran rahmat yang melimpah. Maknanya, keberkahan akan menyertai perjalanan bagi hamba yang menjalankannya dengan penuh iman dan kesungguhan.

Ganjaran dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan adalah melahirkan insan yang paripurna dalam konteks meraih derajat taqwa. Dalam hal ini, korelasi antara perayaan HPSN dan ibadah puasa sangat jelas. Salah satu fadilah dari puasa adalah membersihkan hati dari hal-hal yang buruk. Mensucikan rokhani dari perbuatan maksiat sehingga kembali pada fitrahnya yang suci dan bersih.

Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin mengajarkan ummatnya pada proses totalitas dan kolektifitas. Suci dan bersih tidak sebatas batiniah tetapi juga lahiriah. Demikian pula, kesalehan tidak hanya sebatas individu, tetapi juga kesalehan secara kolektif dalam bentuk jamaah.

Artinya, Islam adalah agama yang peduli terhadap individu dan lingkungan sekitar serta mahluk Allah di permukaan bumi ini. Mulai dari yang ada di darat, laut, hingga langit. Bahkan, mahluk-mahluk ciptaan Allah, baik yang hidup maupun tidak hidup, semuanya memiliki peran penting dalam sistem alam.

Dalam konteks Al Quran disebut bahwa semua mahluk senantiasa bertasbih dan memuji kebesaran Allah SWT. Kembali pada subtansi “kebersihan dan keindahan (estetika)”, Allah menyukai yang indah dan kebersihan itu sendiri adalah bagian dari Iman. Hal ini memberi indikasi bagi setiap mukmin untuk menempatkan esensi bersih dan indah dalam sendi kehidupannya.

Momentum Ramadhan menjadi peluang besar untuk introspeksi dan muhazabah. Sekaligus menjaga terus meningkatkan dan memperbaharui Iman dalam upaya mencapai derajat muttaqin sebagai target dari ritual puasa yang sangat agung ini.

Dengan demikian, ibadah puasa mendidik setiap insan untuk menghadirkan hati yang bersih. Sekaligus mengajak setiap individu untuk senantiasa menjaga lingkungan yang bersih. Bersih dari segala aspek yang bisa membatalkan dan mengurangi nilai dan pahala puasa. Apakah itu dengan menghindari perbuatan dan perilaku yang dilarang secara syariat atau menjaga kebersihan secara fisik termasuk tempat ibadah, tempat tinggal, fasilitas umum, dan sebagainya.

Momen Ramadhan 1447 Hijriah ini bisa menjadi titik awal memulai kebiasaan memilah sampah. Sejatinya, aktifitas dan kegiatan ini sangat sederhana dan hanya membutuhkan Kesadaran (Awareness), Kemauan (Willingness), dan Rasa Tanggungjawab (Sense of Responsibility). Bila ketiga variabel ditanamkan dengan kuat maka kebiasaan memilah sampah dari rumah akan mudah terwujud.

Apalagi bila kegiatan seperti ini dimulai pada bulan mulia maka yakin akan diberkahi dan menjadi sebuah transformasi sosial dalam diri pribadi dan keluarga.

Mari mencoba bench mark atau melihat best practice di beberapa negara yang sangat peduli dengan sampah. Mulai dari negara tetangga Singapura, Taiwan, Korea Selatan sampai Jepang. Aktifitas memilah sampah bukan lagi sekedar kewajiban, yang mesti digugurkan. Karena terikat berupa aturan terkait sangsi atau finalti. Tapi sudah bertranformasi menjadi budaya memilah, budaya bersih dan budaya malu membuang sampah sembarangan.

Penulis pernah mendapat pengalaman menarik ketika berkunjung ke Kota Kitakyushu, Jepang sekitar medio 2023 yang silam. Berhari-hari saya pun tidak mendapati sampah bertebaran. Menjelang sepekan baru menemukan sebuah kemasan pembungkus snack di trotoar dekat penyeberangan lampu merah. Saya iseng mengantongi plastik kemasan itu kembali ke Indonesia. Suatu waktu saya akan pajang pada sebuah bingkai dan mempublish bahwa temuan ini salah satu barang berharga di Negeri Sakura.

Memang butuh effort yang kuat untuk membangun Budaya Bersih dengan mulai memilah sampah dari rumah masing-masing. Tapi bila kita memiliki NIAT yang tulus untuk berubah, apalagi pada momentum Ramadhan tahun ini. Maka niat tersebut akan berproses secara sistemik memerintahkan otak menyimpan memori kuat “memilah sampah”. Lalu membangun perspektif “budaya bersih” dalam nalar yang kemudian diresponse oleh panca indra dan tangan untuk bergerak memulai misi 4 R (reduce, reuse, recycle and replacement).

Hasilnya kelak kita akan rasakan bersama karena tidak ada kata terlambat, hanya sejujurnya kita masih enggan memulai!!! Allahu Alam bi syawab.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *