My WordPress Blog
Hukum  

Sengketa Buku Jokowi, Rismon Sianipar Akan Somasi Dokter Tifa

Rencana Somasi Rismon Sianipar terhadap Dokter Tifa

Rismon Sianipar, seorang ahli digital forensik, berencana untuk melakukan somasi terhadap Tifauzia Tyassuma atau yang dikenal sebagai Dokter Tifa. Hal ini terkait dugaan ketidakterbukaan dalam hasil penjualan buku Jokowi’s White Paper. Rismon menuntut adanya audit rekening yang terkait dengan penjualan buku tersebut dan juga meminta agar tulisan-tulisannya dihapus dari buku tersebut. Jika somasi tidak direspons, ia akan mengambil langkah hukum.

Buku Jokowi’s White Paper yang melibatkan beberapa pihak, termasuk Roy Suryo, sempat menjadi sorotan karena memuat analisis terkait ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Namun, dinamika berubah setelah Rismon mencabut kesimpulan awalnya dan menyatakan bahwa ijazah Jokowi adalah asli setelah melakukan penelitian ulang.

Buku tersebut pertama kali dirilis pada 18 Agustus 2025. Dalam somasi yang dilakukan, Rismon akan meminta adanya audit terhadap rekening yang digunakan dalam penjualan buku tersebut. Ia menyebut rekening tersebut milik Dokter Tifa. Audit diperlukan karena ada dugaan ketidakterbukaan dari Dokter Tifa terkait hasil penjualan buku tersebut.

“Kami akan mensomasi Anda Bu Tifa untuk kita audit rekening-rekening penjualan buku JWP yang selama ini Anda pegang secara sepihak dan absolut,” ujarnya.

Selain itu, Rismon juga meminta Dokter Tifa menarik seluruh hasil penelitiannya yang tertuang dalam buku tersebut. Meskipun dia tidak mempermasalahkan penjualan buku tersebut terus dilakukan, tetapi harus tanpa adanya hasil penelitian darinya.

Rismon menegaskan jika somasi darinya tidak digubris, maka dirinya akan menempuh jalur hukum. “Keluarkan tulisan saya 468 halaman itu dari buku JWP. Anda harus mengeluarkan itu. Silahkan lanjutkan penjualan JWP tapi hanya tulisan Anda semua. Pak Roy Suryo 49 halaman, dan Anda (Dokter Tifa) 164 halaman, jadi 220 sekian halaman saja.”

Perkiraan Keuntungan Penjualan Buku

Rismon mengungkapkan alur terbitnya buku Jokowi’s White Paper di mana buku tersebut dicetak di percetakan pihak ketiga. Ada dua versi buku yang dijual, yaitu versi ekonomi dan premium. Untuk versi premium, modal per buku adalah Rp150 ribu dengan harga jual senilai Rp500 ribu. Dari keuntungan tersebut, dia memperkirakan reseller memperoleh bagian Rp50 ribu per buku.

Rismon menyatakan keuntungan yang didapat oleh Dokter Tifa bisa mencapai miliaran rupiah dengan estimasi penjualan buku mencapai 10 ribu eksemplar. “Bayangkan kalau 10.000 eksemplar yang terjual, keuntungan yang didapatkan adalah Rp3 miliar dan itu tertutup, saya tidak tahu keuangannya sama sekali.”

Untuk versi ekonomi, modal per buku adalah Rp125 ribu dan dijual Rp225 ribu. Dia mengklaim keuntungan bersih yang didapat adalah Rp75 ribu per buku setelah dipotong pembayaran terhadap reseller sebesar Rp25 ribu. Rismon memperkirakan keuntungan dari penjualan buku versi ekonomi bisa mencapai ratusan juta rupiah dengan estimasi penjualan 10 ribu eksemplar.

“Keuntungan yang diperoleh Dokter Tifa untuk versi ekonomi Rp750 juta ditambah versi premium Rp3,75 miliar kalau 10.000 eksemplar terjual,” jelasnya.

Ketidaktransparanan Tim Keuangan

Rismon mengaku tidak mengetahui sampai saat ini terkait keuntungan pasti dari penjualan buku tersebut. Menurutnya, hal tersebut lantaran tim keuangan yang tidak transparan dalam pengelolaannya. Dia menyebut tim keuangan yang mengurusi seluruh penjualan buku adalah rekan terdekat dari Dokter Tifa.

“Sebenarnya harusnya ada tim terbuka tapi bukan tim inner circle dari Bu Tifa. Itu yang bikin tidak ada ketransparanannya,” jelas Rismon.

Rangkuman Isi Buku Jokowi’s White Paper

Rismon, Roy Suryo, dan Dokter Tifa sempat mengungkapkan rangkuman isi dari buku Jokowi’s White Paper saat konferensi pers di Ruang Nusantara University Club (UC) di Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta pada 18 Agustus 2025. Roy menjelaskan bahwa dalam buku tersebut, dituliskan awal mula akhirnya ijazah Jokowi dipermasalahkan dan berujung pada proses hukum saat ini.

Roy juga mengatakan, di dalam buku tersebut, turut dituliskan analisis ilmiah dari dirinya, Rismon, dan Dokter Tifa terkait ijazah Jokowi. “Analisis ilmiahnya, ada ELA (Error Level Analysis), ada kemudian Dokter Rismon sangat dalam mengulas digital forensik. Kemudian, Dokter Tifa akan mengulas neuro politica dan tentang behavourial neuro science,” jelasnya.

Analisis Ijazah Jokowi oleh Rismon

Rismon menganalisis sebaran warna dalam ijazah Jokowi. “Di situ dibuktikan tidak ada stempel di atas foto ijazah Joko Widodo. Itu confirm karena diperiksa nilai-nilai numerik yang merepresentasikan tiap piksel di setiap citra digital,” ujarnya.

Ia juga menganalisis sebaran kompresi ijazah Jokowi yang tersedia dalam bentuk file berjenis .jpg. File tersebut merupakan foto ijazah Jokowi yang diunggah oleh kader PSI, Dian Sandi Utama, di akun X pribadinya beberapa waktu lalu. Dian sempat mengklaim foto tersebut adalah ijazah asli milik Jokowi.

“Kita buktikan tidak asli. Kita membandingkan dengan tiga metode yaitu ELA dengan adaptive brightness scaling, ELA dengan CLAHE (Contrast Limited Adaptive Histogram Equalization), dan overlapping detection.”

Dari penelitian yang dilakukannya, ijazah Jokowi memiliki perbedaan dengan Frono Jiwo. Frono Jiwo merupakan teman seangkatan Jokowi saat masih berkuliah di Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1980. Dia pun sempat membantah terkait tudingan bahwa ijazah Jokowi adalah palsu lewat rilis pers resmi dari UGM pada 21 Maret 2025 lalu.

“Dari metode yang diuji itu, memang terjadi perbedaan antara ijazah yang (milik) Frono Jiwo dan Jokowi. Jadi tidak identik dengan yang disampaikan oleh Dirtipidum (Bareskrim Polri),” katanya.

Metode Neuro Politica oleh Dokter Tifa

Sementara, Dokter Tifa menuliskan penelitiannya untuk meneliti Jokowi memakai metode neuro politica. Menurut penjelasannya, metode tersebut meneliti cara berpikir dan perilaku seorang politikus atau pemimpin. “Jadi pemimpin yang mungkin bukan lulusan sarjana bisa kelihatan dari gesturnya apakah layak disebut sarjana atau tidak. Itu ada ilmunya,” paparnya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *