My WordPress Blog

Jangan biarkan Gaza terulang, Presiden Lebanon ajak negosiasi dengan Israel

Pernyataan Presiden Lebanon tentang Kekhawatiran terhadap Destruksi di Wilayah Selatan

Joseph Aoun, presiden Lebanon, menyampaikan pernyataan yang menunjukkan kekhawatirannya terhadap risiko kehancuran yang sama seperti yang terjadi di Gaza. Pernyataan ini disampaikan setelah Israel meluncurkan serangan udara dan darat terhadap Hizbullah, yang mengakibatkan kerusakan besar di beberapa desa di Lebanon selatan.

Sejak konflik meletus bulan lalu antara Israel dan Hizbullah, yang didukung oleh Iran, lebih dari 1.400 orang telah tewas di Lebanon, sementara lebih dari satu juta penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka. Joseph Aoun menyerukan negosiasi dengan Israel, dengan harapan bisa mencegah kehancuran yang lebih besar.

“Memang benar bahwa Israel mungkin ingin melakukan di Lebanon selatan apa yang mereka lakukan di Gaza,” ujar Aoun dalam pidato yang disiarkan televisi. “Gaza hancur, lebih dari 70.000 orang tewas, dan mereka akhirnya duduk dan bernegosiasi, jadi mengapa kita tidak bernegosiasi setidaknya sampai kita dapat menyelamatkan rumah-rumah yang belum hancur?” tambahnya.

Warga Lebanon Rayakan Paskah di Tengah Perang

Lebanon memiliki populasi sekitar 5,5 juta jiwa, di mana sekitar sepertiga di antaranya adalah umat Kristen. Dikutip dari AP News, Lebanon memiliki proporsi umat Kristen terbesar dibandingkan negara-negara lain di wilayah Arab. Di tengah situasi perang yang kian memburuk, warga desa Kristen di Lebanon selatan tetap tinggal meskipun mengabaikan peringatan evakuasi dari Israel.

Beberapa desa seperti Alma al-Shaab, yang sebelumnya pernah mengungsi pada perang Israel-Hezbollah tahun 2024, kali ini memilih untuk tetap bertahan. Mereka berlindung di gereja-gereja mereka saat pesawat tempur Israel membombardir wilayah tersebut, sementara pasukan Israel meningkatkan invasi darat dan Hizbullah terus menembakkan roket ke Israel.

Tanggung Jawab atas Penderitaan yang Terjadi

Dalam khotbah Paskah tahunannya, Patriark Beshara al-Rai dari Gereja Maronit Lebanon menyalahkan baik Hizbullah maupun Israel atas penderitaan yang dialami rakyat Lebanon. “Negara ini sedang mengalami situasi kritis akibat campur tangan Iran melalui Hizbullah dan agresi Israel,” ujarnya.

Bagi banyak umat Kristen Lebanon, tradisi merayakan Sabtu Suci dan Minggu Paskah merupakan bagian penting dari kehidupan mereka. Namun, tahun ini, banyak dari mereka yang terpaksa merenung dari jauh karena harus mengungsi.

Marius Khairallah, seorang pastor di Kota Tyre, Lebanon selatan, menjelaskan bahwa ia dan jemaatnya tetap tinggal bukan karena keras kepala, tetapi karena rasa misi untuk tetap berada di samping sesama umat beriman. “Sejumlah besar jemaat telah mengungsi atau tidak hadir,” katanya. “Namun gereja-gereja masih membuka pintunya. Doa-doa masih dipanjatkan — meskipun dengan jumlah jemaat yang lebih sedikit.”

Kekhawatiran di Kalangan Umat Kristen

Kekhawatiran semakin meningkat di kalangan umat Kristen di daerah tersebut seiring mundurnya tentara Lebanon, yang berupaya tetap netral dalam perang Israel-Hizbullah, dari sebagian wilayah Lebanon selatan. Hal ini membuat mereka rentan terhadap pasukan Israel yang terus maju lebih dalam ke wilayah tersebut.




Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *